Jakarta – Sebuah gelombang kritik mengemuka dari dua entitas politik, Partai Golkar dan Partai Ummat, menyusul publikasi video oleh tokoh senior Amien Rais di kanal YouTube pribadinya. Video tersebut menyinggung dugaan kedekatan antara Presiden terpilih, Prabowo Subianto, dengan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, yang kemudian memicu respons keras dari berbagai pihak.
M. Sarmuji, Sekretaris Jenderal Partai Golkar, tidak menyembunyikan ketidaksetujuannya terhadap pernyataan Amien Rais. Sarmuji menduga bahwa mantan Ketua MPR tersebut mungkin terlalu banyak terpapar oleh informasi yang belum jelas kebenarannya, atau desas-desus yang beredar di sekelilingnya. Dengan nada prihatin, ia menyarankan agar Amien Rais perlu mendapatkan dukungan untuk mengendalikan dirinya sendiri.
Menurut Sarmuji, seorang tokoh publik selayaknya tidak merespons setiap informasi tak terverifikasi yang beredar. Ia menambahkan bahwa kecenderungan Amien Rais untuk menanggapi isu-isu yang kebenarannya dipertanyakan ini mungkin merupakan indikasi dari berkurangnya kemampuan tokoh tersebut untuk menahan diri atau memilah informasi secara kritis. "Kami menduga Pak Amien banyak mendengar rumor yang belum teruji validitasnya. Seharusnya, tidak semua desas-desus perlu direspons, namun tampaknya kemampuan untuk memilah dan menahan diri itu sedang melemah," ungkap Sarmuji dalam pernyataannya yang diterima pada Minggu, 3 Mei 2026. Ia berharap Amien Rais dapat lebih cermat dalam menerima dan menyebarkan informasi, terutama di platform publik yang memiliki jangkauan luas.
Di sisi lain, respons tak kalah tegas datang dari internal Partai Ummat, partai yang didirikan dan kini dihubungkan erat dengan Amien Rais. Ketua DPP Partai Ummat, Aznur Syamsu, segera mengambil sikap untuk membedakan pandangan pribadi Amien Rais dari posisi resmi partai. Aznur menegaskan bahwa pernyataan Amien Rais mengenai kedekatan Prabowo Subianto dan Teddy Indra Wijaya di kanal YouTube-nya adalah murni pandangan individu, sama sekali tidak mewakili atau memiliki hubungan dengan sikap dan kebijakan Partai Ummat secara kelembagaan.
Aznur Syamsu juga menyatakan kekecewaan mendalam atas pernyataan semacam itu. Ia menyoroti status Amien Rais sebagai figur publik yang memiliki sejarah panjang dan pernah menduduki posisi penting dalam kancah perpolitikan nasional. Menurutnya, kapasitas Amien Rais sebagai seorang tokoh senior seharusnya menuntut kehati-hatian dan pertimbangan yang lebih matang dalam setiap ucapan yang dilontarkan ke publik. "Kami dari Partai Ummat sungguh menyayangkan adanya pernyataan demikian dari Pak Amien Rais, apalagi mengingat rekam jejak beliau sebagai seorang tokoh bangsa, yang setidaknya pernah menduduki posisi penting dalam sejarah negara ini," ujar Aznur, Sabtu, 2 Mei 2026.
Lebih lanjut, Aznur mengkritik substansi pernyataan Amien Rais, menyebutnya tidak relevan dengan kepentingan dan permasalahan krusial yang dihadapi bangsa dan negara saat ini. Ia bahkan menggunakan analogi sepak bola untuk menggambarkan situasi tersebut, menyatakan bahwa Amien Rais telah melakukan ‘pelanggaran’ atau ‘offside’ dalam konteks politik. "Komentar tersebut tidak ada kaitannya dengan persoalan fundamental bangsa dan negara kita saat ini. Dalam kacamata politik, Pak Amien Rais telah melampaui batas yang wajar," imbuh Aznur, mengindikasikan bahwa Amien Rais telah keluar dari koridor yang semestinya.
Peristiwa ini menyoroti bagaimana pernyataan seorang tokoh berpengaruh dapat memicu reaksi berantai, tidak hanya dari lawan politik tetapi juga dari lingkaran terdekatnya. Kritik dari Partai Golkar dan Partai Ummat ini secara bersamaan menunjukkan adanya kekhawatiran terhadap penyebaran informasi yang belum terverifikasi dan dampaknya terhadap diskursus publik, sekaligus menegaskan pentingnya tanggung jawab seorang figur publik dalam menyampaikan pandangan di ruang publik.






