Yang Harus Dirayakan Adalah: Merayakan Kehilangan

Jadi, perayaan apa yang lebih menyenangkan selain merayakan kehilangan?

ENSIPEDIA.ID – Menulis, berpuisi, stand-up comedy, bernyanyi, bermain ukulele, teh kotak, Jason Mraz, City Hunter, melempar petasan ke rumah Pak RT, adalah beberapa hal yang disukai oleh penulis yang salah satu karyanya akan kita bedah di sini untuk yang ketiga kalinya. Ia bernama Brian Khrisna—seorang Bujangan yang lahir di salah satu bidan di Bandung pada tanggal 17 Januari 1992. Kali ini, kita akan mengupas buku pertamanya yang pertama kali terbit di etalase-etalase toko buku terdekat di kota Anda. Judulnya adalah ‘Merayakan Kehilangan’. Ditelisik dari judulnya sih kayaknya isi dari buku tentang hal-hal yang menyenangkan seusai kehilangan sesuatu—entah itu kehilangan seseorang, barang, atau bahkan tupperware Emak yang tak kunjung ketemu.

Tidak! Ternyata tidak seperti apa yang ada di benak kita. Buku ini berisikan kepingan puisi serta prosa yang cocok untuk dijadikan sebagai kebutuhan Insta story atau story Whatsapp. Bagaimana tidak, di dalam buku ini terdapat banyak sekali rangkaian kata yang merepresentasikan orang-orang yang kesulitan dalam menerima, memaafkan, serta mengikhlaskan kehilangan seseorang yang dicintainya.

Buku melankolis ini menyajikan sajiannya kepada pembaca secara detail dan mudah dimengerti, tidak seperti sajian kontestan di MC* yang memberikan nama hidangannya ‘Ginger and Brown Sugar mixed with Hot Water’ padahal tetep aja kelihatannya kayak Bajigur. Hadeh, yang mudah dimengerti aja ngapa, sih?

Perlu diketahui juga, buku ini mempunyai cover yang cukup simple—seorang pria yang sedang duduk bersandar di pohon toge dengan menatap ke langit menunggu jatuhnya kulit kerang ajaib. Tampilan dalam setiap kutipannya pun dihiasi oleh bingkaian yang menarik dan dapat membuat pembacanya betah.Jadi, intinya, secara keseluruhan buku ini berbicara soal apa? Kita balik lagi pada judulnya. Bagi saya, buku ini sangat cocok dibaca oleh barisan patah hati dan belum rela melepaskan kepergian seseorang yang dicintai sepenuh hati olehnya.

Buku ini seolah-olah menjadi self-reminder kita tentang betapa sulitnya melupakan daripada mengingat. Padahal, dulu, saya sempat bertemu sekaligus bersyukur dapat mengenalnya dengan baik. Saya yang menjadi bahu ketika dia membutuhkan tempat bersandar; saya yang menjadi telinga ketika dia membutuhkan seseorang untuk ingin didengarkan; saya juga yang menjadi tangan dan kaki supaya dapat menuntunnya menuju ke kehidupan yang lebih baik. Sialnya, semuanya sirna dikala saya mendapatkan kabar bahwasanya dia yang selama ini saya jaga dan lindungi ternyata telah dipinang oleh laki-laki lain dan brengs*knya dia menerimanya dengan senang hati tanpa memikirkan saya terlebih dahulu.

Fun fact-nya, buku ini tidak mengajak kita agar terperangkap dalam ketidakterimaan terhadap realita yang menyedihkan, yakni kehilangan seseorang. Namun, dalam buku ini pula terdapat optimisme yang secara tersirat menyatakan bahwasanya tidak perlu berlarut-larut dalam kesedihan, kekesalan, atau bahkan kebencian atas apa yang telah dia lakukan kepadamu. Justru, dengan dianya yang sebrengs*k itu, dapat kamu jadikan sebagai pembelajaran dan motivasi supaya kedepannya kamu tidak terlalu mencintai seseorang secara berlebihan sampai-sampai kamu pun lupa, bagaimana untuk mencintai diri kamu sendiri terlebih dahulu.

Jadi, mari kita merayakan kehilangan tanpa harus menyesalinya.Cheers!

‘Aku ingin merayakan Tahun baru dengan menyalakan kembang api. Dan kenangan tentang kita akan kurekatkan erat di dekat sumbu penyulutnya.

Biar ia melesat. Jauh. Tak terjangkau.

Lalu meledak keras di angkasa.

Hancur.

Berkeping-keping.

Suara keras dari seruan terompet dibunyikan dengan lantang. Seperti sedang merayakan kehilangan. Tentang kenangan-kenangan. Yang tak lagi menggenang di dalam ingatan.

Dan orang-orang riuh bertepuk tangan. Tertawa riang serta gembira. Seakan luka tentangmu tak pernah ada sebelumnya.

Sesaat setelah gegap gempita yang sebentar itu nyaring terdengar menggema di telinga, kini pekatnya malam mulai membawa aku kembali kepada realita. Bahwa aku pernah kehilanganmu dengan begitu sangat.

Sakit sekali.

Sakit sekali.

Seperti menyalakan kembang api namun tidak membiarkannya pergi. Ledakannya begitu nyaring, memekakkan telinga, membutakan mata, menghancurkan genggaman. Sakit tiada tara aku derita karena pernah tak membiarkanmu pergi.Oh betapa aku ingin mendatangimu sekali lagi. Memukulmu keras-keras hingga kepalamu terkelupas, dan kupaksa memasukkan aku ke dalam sana. Biar kau merasakan, biar kau mengerti, bagaimana sakitnya ketika dipaksa terluka karena harus menerima keadaan.

Salam,Aku.

Yang sedang merayakan kehilangan.’

 

Baca juga : Kenali Charm Point atau Titik Pesona Pada Dirimu – Ensiklopedia Bebas (ensipedia.id)

Mikhael
an ordinary guy who wants to live as a human being.

Latest articles