Ruang Gema dan Polarisasi yang Ditimbulkan

4243
illustration from Pinterest

“Seperti gema suara di ruang tertutup, pikiran yang berulang memperkuat pandangan yang makin mengental dan ekstrim.”
-Mariam F Barata

ENSIPEDIA.ID – Bayangkan kita berada di sebuah gua. Lalu, teriakan sebuah kata. Bukankah teriakan kita akan memantul? Yap, ini yang sering kita lakukan pada saat kecil dahulu. Meneriakkan kata-kata iseng, dengan tujuan untuk mendengar pantulan suara sendiri. Sangat mengasyikkan, bukan?

Dalam dunia fisika, pantulan suara itu disebut sebagai fenomena gema (echo). Dimana gelombang suara kita terpantul dari dinding gua dan kembali di dengar oleh telinga.

Nah, sadarkah kita bahwa istilah gema tersebut juga digunakan dalam konteks di dunia maya? Pembahasan kita sekarang adalah bagaimana ruang gema (echo chamber) bisa mempengaruhi perilaku kita dalam bersosialisasi khususnya di media sosial. Mari kita mulai!

 

Apa Itu Ruang Gema?

Menurut Mariam, ruang gema adalah suatu kondisi dimana seseorang hanya mau mendengar suatu yang sudah sepemikiran, sehingga memperteguh sikap mereka.

Ruang gema juga dapat diartikan sebagai suatu lingkungan interaksi sosial dimana seseorang mendapatkan informasi yang memperkuat pendapatnya sendiri. Ketika seseorang hanya mau mendengar perspektif, opini, yang sama secara berulang-ulang, maka mungkin saja orang tersebut sedang berada di ruang gema.

Ruang gema dapat dikaitkan dengan bias konfirmasi, yaitu sebuah kecenderungan untuk mencari dan memilih bukti untuk mendukung keyakinan, dugaan, dan hipotesis yang dipercayai. Dengan adanya bias konfirmasi, individu akan mengabaikan bukti-bukti yang menentang keyakinannya sehingga orang-orang yang menentang diaggap salah. Walaupun hampir sama, bias konfirmasi dan ruang gema memiliki perbedaan, jika bias konfirmasi mempengaruhi cara kita mengumpulkan informasi (timbul dari dalam diri individu), maka ruang gema adalah sebuah lingkungan di mana informasi itu terasa bias dengan pengulangan-pengulangan yang menjadi candu (timbul dari lingkungan individu).

Meskipun ruang gema bisa terjadi di semua media, baik konvensional maupun media baru (sosial media dan media elektronik). Namun, sosial media lah yang lebih banyak berperan dalam membuat ruang gema di masyarakat.

 

Ruang Gema di Media Sosial

Media sosial merupakan sebuah bentuk media baru yang dibuat sebagai perkembangan media konvensional yang dipadukan dengan jaringan internet. Media sosial merupakan sebuah jejaring komunikasi dan sosialisasi yang menghubungkan individu-individu tanpa batas-batas geografi.

Mengapa media sosial merupakan media paling subur dalam memproduksi ruang gema?

Jawabannya adalah algoritma yang dibuat oleh platform media sosial. Sistem kerja algoritma media sosial adalah dengan cara mencari, menyaring, memilah apa yang ada dalam beranda dan lini masa kita dengan apa yang kita sukai. Hal tersebut dinamakan sebagai filter bubble.

Menurut Lotan, filter bubble adalah suatu cara penyortiran dan seleksi informasi oleh algoritma berdasarkan pertimbangan kecocokan, relevansi, dan preferensi. Secara singkat, filter bubble ini merupakan penyekatan informasi berdasarkan ketertarikan pengguna dan memberikan saran berdasarkan perhitungan asumsi dan ketertarikan tersebut.

Sadarkah kita? Apa yang kita like, love, share, subscribe, follow, retweet, unfriend, block, maupun search merupakan upaya media sosial dalam menyekat kita dalam ruang gema. Bagaimana itu bisa terjadi? Saat media sosial menyajikan preferensi kita pada sebuah beranda kita akan menyerap informasi-informasi tersebut secara berulang-ulang. Dalam artian, media sosial tidak hanya menyaring informasi apa yang kita sukai, tetapi juga mengaungkannya secara berulang-ulang. Konten yang muncul secara berulang-ulang tersebut akan tertanam dalam kepala kita sebagai sebuah kebenaran.

Sebuah sistem yang diterapkan oleh media sosial dimana kita mencari sebuah informasi, maka kita akan terus berada di posisi “scrool beranda” yang membuat kita terjebak dalam ruang gema. Sayangnya, banyak yang tidak menyadari saat terjebak dalam situasi tersebut.

 

Dampak Ruang Gema

Masalah yang sering muncul karena kita terjebak di ruang gema yaitu masalah produktifitas. Sekarang, coba renungkan dan sadari. Berapa lama kita bermain Facebook, Instagram, Twitter, ataupun Youtube? Semoga waktu bermain media sosial tidak melebihi jam kerja—produktif— kita.

Tapi …, bukan itu masalah utamanya. Masalah besar yang ditimbulkan oleh ruang gema adalah polarisasi dan ekstriminasi preferensi.

Saat ini kita selalu mengelompokkan sesuatu dengan 2 kata kunci saja, cinta-benci; suka-tidak suka; setuju-tidak setuju. Jika A dan B adalah hal yang bertentangan. Maka logika yang terbangun adalah jika seseorang suka A, maka dia benci dengan B, begitu sebaliknya. Fenomena tersebut menjadikan pengguna terkelompokkan dalam sebuah lingkungan dengan pemahaman yang sama.

Para pecinta A, berkumpul dalam lingkungan yang sama. Para pecinta B berkumpul pada lingkungan informasi yang sama. Hal inilah yang menyebabkan benci atau cinta secara membabi buta.

Hal ini diperkuat dengan pernyataan Network Scientist dari Universitas Oxford yaitu Vyacheslav Polonski bahwa ruang gema bisa mengarahkan “suara” yang sama ke hal paling ekstrim karena kejelasan akan “suara paling ekstrim” yang besar.

Dengan tingkat wawasan yang rendah, para netizen memiliki prasangka dan kebencian yang tinggi akibat gelembung informasi dan ruang gemanya masing-masing. Kemampuan untuk menerima perbedaan akibat ego berujung kepada penyempitan pandangan. Inilah yang menyebabkan polarisasi.

“Bird of a feather flock together”

Polarisasi terbentuk karena informasi yang diterima atau didapatkan ketika berinternet di jagad maya hanya terlihat dari satu sudut pandang semata. Hal ini semakin diperparah dengan kecenderungan interaksi netizen hanya sekedar dengan orang-orang yang memiliki pandangan yang sama dengannya.

Jadi, siapkah kita menghadapi efek ruang gema berupa polarisasi dan ekstriminasi preferensi ini?

 

Baca juga : Kenali Charm Point atau Titik Pesona Pada Dirimu – Ensiklopedia Bebas (ensipedia.id)

 

Polarisasi Akibat Ruang Gema

Di Indonesia tersendiri, polarisasi yang disebabkan oleh ruang gema sudah sangat cukup mengkotak-kotakkan masyarakat. Ruang gema bertanggung jawab atas berbagai perselisihan tak berkesudahan.

Polarisasi bisa kita temukan pada pilpres 2014 dan pilpres 2019. Kubu C*ebong dan kubu K*ampret masing-masing teperangkap ruang gema pilihan presiden masing-masing. Saat itu, berita hoax sangat mudah menyebar. Informasi saling menjatuhkan bisa dilihat dimana-mana. Persaingan tagar #2019gantipresiden dan #2019TetapJokowi sangat ketat dalam arena sosial media Twitter.

Ada banyak kasus polarisasi akibat ruang gema lainnya, seperti: Pecinta Anime vs Pecinta Korean Pop; Buzzer vs Social Justice Warrior; Polarisasi pendukung dan penetang; dan masih banyak lagi.

Sangat sulit untuk mencegah polarisasi, mungkin hampir mustahil. Namun, kita bisa lebih bijak dan lebih cerdas menghadapi ruang gema.

 

Cara Menghindari Ruang Gema

Seperti yang dilansir dari jurnalkebenaran.com Tidak ada cara sempurna untuk menghindari ruang gema. Namun, berikut tips yang bisa membantu kita dalam menghadapinya:

1. Biasakan memeriksa berbagai sumber berita untuk menvalidasi data secara obyektif.

2. Berinteraksilah dengan orang-orang dari perspektif yang berbeda. Dan berhati-hatilah untuk mendiskusikan suatu ide baru sesuai fakta, respek, dan kesantunan.

3. Ingat bahwa hanya karena kita ingin sesuatu menjadi kenyataan, bukan berarti itu adalah sebuah fakta atau kebenaran.

4. Sukai semuanya. Algoritma media sosial tidak akan berfungsi jika kita juga tidak mengelompokkan informasi berdasarkan apa yang kita sukai saja.

5. Segera unfollow atau non-aktifkan teman media sosial yang closed minded. Jika perlu, berikan masukan atau bimbing terlebuh dahulu.

 

Sebuah Tes Identifikasi

Terkadang kita tak meyadari jika sedang berada di dalam ruang gema. Untuk itu, saya memberikan beberapa pertanyaan yang dilansir dari jurnalkebenaran.com untuk mengidentifikasi kalau kita sedang atau tidak berada di dalam ruang gema. Berikut:

1. Apakah sumber informasi itu hanya memberikan satu perspektif tentang suatu topik/isu?

2. Apakah perspektif yang diinformasikan sudah didukung bukti yang lengkap?

3. Apakah fakta-fakta sering diabaikan ketika berlawanan dengan perspektif yang diinformasikan?

“Kebohongan yang diulang-ulang akan membuat publik percaya bahwa kebohongan tersebut adalah kebenaran.”
-Joseph Goebbles (Menteri Propaganda Nazi)