Review Buku | Hidup Ini Brengsek, dan Aku Dipaksa Menikmatinya: Novela Sadis, Namun Eksotis

ENSIPEDIA.ID – Buku novela ini terlahir atas persetubuhan antara penulis ulung Puthut EA dengan seniman jalanan Gindring Wasted yang terkenal akan cipta karyanya yang brutal. Mereka berdua memadukan realitas tokoh utama yang tragis nan miris dengan segala sesuatu yang menimpanya—hal-hal yang mungkin dapat membuat kalian kurang nyaman jika membacanya. Sepintas, apabila kita menguliti secara mendalam tentang fenomena maupun wacana yang terdapat dalam tokoh utama tersebut, maka secara tidak sadar, kita telah dibawa mengawang-ngawang kepada sisi gelap realita kehidupan yang terjadi pada diri seseorang.

Tokoh Aku yang menjadi karakter utama dalam buku ini tampaknya ingin menceritakan kisah hidupnya yang penuh dengan penderitaan, tetapi bukannya mendramatisir jalan cerita serta menarik simpati pembaca, ia malah seolah-olah menjadikan dirinya sebagai subyek dari apa arti penderitaan itu sendiri sesungguhnya tanpa menyalahkannya. Apa boleh buat pikirnya.

Buku ini terdiri dari tiga belas bab yang dalam sekali baca pun pasti langsung selesai. Dimulai dari awal kesialannya yang menimpanya karena terlahir di atas becak yang dikayuh bapaknya pada saat mengantarkan istrinya untuk bersalin, sampai ke kehidupan di fase remaja dan dewasanya yang jauh dirasakan oleh orang-orang kebanyakan.

Sajian cerita dari Aku pun menggunakan bahasa yang sederhana dengan balutan brutalitas di dalamnya tentang betapa brengseknya kehidupannya—mulai dari bapaknya yang meninggal sewaktu anaknya terlahir di atas becak yang dia kayuh, ibunya yang tidak memedulikan anaknya sama sekali, sampai kakak-kakaknya yang sering menganiayanya. Hampir semua perlakuan yang Aku dapatkan dari orang terdekat atau orang lain pun tidak jauh dari kebrengsekan yang ia dapatkan selama ini.

Penderitaannya pun tidak hanya berlaku di masa kecil dan remajanya saja. Setelah beranjak dewasa, kisah Aku semakin menarik dan berwarna dikarenakan ia bertemu dan berkenalan dengan banyak orang dari berbagai macam karakter dan watak yang membuat Aku menjadi optimis bahwasanya hidup ini memang brengsek dan tak berguna. Mereka berjibaku karena mereka pusing melihat dunia. Padahal dunia tidak akan pusing jika mereka tidak ada, pikirnya. Mereka punya keinginan. Sedangkan Aku tidak.

Truwelu adalah salah satu temannya yang memperkenalkan Aku ke dalam dunia seni. Truwelu mengaku sebagai seniman jalanan yang aktivitasnya tidak lekang dengan dunia kemaksiatan yang diselingi oleh permainan retorika semata. Dengan begitu, Aku menilai bahwasanya seorang seniman itu merupakan pengecut yang membungkus dirinya dengan buaian-buaian belaka.

Selain itu, Aku juga bertemu dengan komplotan politikus, salah satunya adalah Karmali. Kawanan ini dinilai oleh Aku sebagai tukang ngibul dan penjilat yang pandai berbicara. Mereka ini tidak lain dan tidak bukan adalah kacungnya penguasa. Aku yakin bahwa siapa yang ingin pertama kali menjilati pantat para penguasa demi secuil lembaran kertas, maka komplotan Karmalilah yang mulai duluan, bahkan meskipun ditugaskan untuk membunuh satu sama lain. Mereka akan, Aku enggan.

 

Baca juga : Kenali Charm Point atau Titik Pesona Pada Dirimu – Ensiklopedia Bebas (ensipedia.id)

 

Terlepas dari narasi-narasi provokatif yang terkandung di dalamnya, buku ini tidak disarankan untuk dibaca oleh kalangan anak-anak atau remaja puber yang labil karena dapat berpotensi menimbulkan kekeliruan interpretasi tentang hidup yang berujung pada keinginan untuk melakukan aksi-aksi liar seperti yang ada di pikiran tokoh utama, Aku. Pada setiap halamannya pun disertai dengan ilustrasi yang cukup menawan bagi saya karena memiliki ciri khas tersendiri dari novela yang lain.

Terakhir, buku ini merupakan manifestasi dari rasa pesimis dalam diri seseorang mengenai kehidupannya yang seringkali dibebani oleh kebrengsekan dan kesialan yang tidak mengenal titik usai. Buku ini menggambarkan realitas yang sesungguhnya dari sisi buruk kehidupan. Ditambah, dengan perspektif gelap yang acapkali relevan dalam menjalani hidup yang setiap harinya meliputi fenomena-fenomena kelam seperti apa yang telah buku ini suguhkan kepada pembacanya.

Jadi, mari kita acungkan jari tengah terhadap hidup yang brengsek ini yang selalu memaksa kita untuk menikmatinya.

 

Mikhael
an ordinary guy who wants to live as a human being.

Latest articles