Rasisme; Potensi Diskriminasi Ras dan Etnis di Indonesia masih Tinggi

ENSIPEDIA.ID, Kendal – Rasisme adalah sebuah paham yang merasa bahwa ras dan etnis adalah milik paling unggul dibandingkan ras lainnya. Indonesia sendiri memiliki 300 kelompok etnik dan 1.340 suku bangsa yang tentunya memiliki potensi persentase rasisme yang cukup tinggi.

Diskriminasi ras dan etnis dapat juga menimbulkan berbagai permasalahan di suatu negara, contohnya adalah pemicu terjadinya akibat perang antar suku. Oleh karena itu, pemahaman atau sosialisasi tentang rasisme dan keragaman harus terus dilakukan agar tindakan diskriminasi dapat dihilangkan.

Pengawasan Diskriminasi Ras dan Etnis

Ilustrasi Persatuan Ras | Pixabay

Pada 2018, Komnas HAM dan Litbang Kompas melakukan survei yang berkaitan dengan isu diskriminasi ras dan etnis di mana hasil yang ditemukan cukup mengejutkan. Hasil survei tersebut disampaikan kepada publik di kantor Komnas HAM pada Jum’at 26 November 2018.

“Survei ini secara khusus bertujuan untuk menilai publik terhadap upaya penghapusan diskriminasi ras dan etnis dengan menggali persepsi, mengukur kepuasan dan mengeksplorasi ekspektasi. Penelitian ini juga ditujukan sebagai bahan refleksi 10 tahun pelaksanaan Undang-Undang No. 40 Tahun 2008,” ujar Komisioner Pengkajian dan Penelitian, Mochammad Choirul Anam.

Di rentang tahun 2011 – 2018, tercatat sedikitnya 101 kasus pelanggaran ras dan etnis, menurut data Komnas HAM. Angka tersebut dihitung berdasarkan jumlah laporan masyarakat, sedangkan yang tidak mungkin melebihi angka itu. 

Survei yang dilakukan oleh Komnas HAM menggunakan metode kuantitatif yang mana responden diwawancarai secara tatap muka. Survei ini melibatkan 1207 responden berusia 17-65 tahun yang berasal dari 34 provinsi. Para responden juga memiliki latar belakang ekonomi yang berbeda, terdiri dari kelas atas, menengah dan bawah dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang proporsional.

Hasil yang Diperoleh dari Survei Ini 

Sebanyak 80,9% responden mengaku belum pernah melihat langsung tindakan diskriminasi ras dan etnis dengan matanya sendiri. Sedangkan sisanya (19,1%) mengatakan mereka melihat tindakan diskriminasi justru di fasilitas umum milik pemerintah, seperti kantor kelurahan, sekolah negeri, puskesmas, dll.

81,9% responden mengatakan lebih nyaman hidup dalam satu keturunan (keluarga besar).

Selanjutnya, 82,7% responden mengatakan mereka lebih nyaman hidup jika tinggal di lingkungan ras yang sama. Lebih besar lagi, 83,1% responden lebih nyaman jika hidup dengan kelompok etnik yang sama pula.

Melihat hasilnya, Elfansuri sebagai salah satu peneliti yang terlibat dalam survei ini menyatakan bahwa tingkat segregasi sosial di masyarakat masih tinggi.

“Potensi akan adanya tindakan diskriminasi ras dan etnis memiliki probabilitas yang cukup besar, atau setidaknya hal ini untuk menentukan sikap permisif sebagian masyarakat atas tindakan diskriminasi ras dan etnis yang terjadi di masyarakat,” tutur Elfansuri.

Imbauan Hentikan Lelucon Rasial

Lelucon sering digunakan ketika pertarungan politik terjadi | Pemasaran CO.ID

Karena tingkat segregasi sosial tinggi, komnas HAM meminta masyarakat untuk tidak menggunakan lelucon yang menyinggung suatu ras atau etnis tertentu.

“Apapun tujuannya, mau tujuan politik, mau tujuan ekonomi,” jelas Anam, Komisioner Pengkajian dan Penelitian Komnas HAM. “Kami berharap, di ruang publik tidak boleh menggunakan (ungkapan) etnisitas, apalagi dalam rangka pertarungan politik elektoral besok,” lanjutnya.

Jika rasial terus dilakukan, hal tersebut akan berdampak pada segregasi sosial di masyarakat, memicu gesekan, dan tidak diperolehnya kesetaraan ras di Indonesia.

“Kita tidak boleh membikin orang senang dengan tertawa terkait etnisitas atau ras tertentu,” jelasnya, selanjutnya menambahkan bahwa guyonan bersifat diskriminasi ras dan etnis bisa mendapatkan sanksi hukum melalui UU No.40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

Lebih jauh lagi, ucapan tersebut bisa juga berkembang menjadi diskriminasi ras yang dimaksud. Jika pelaku berasal dari mayoritas suku di suatu negara, tindakan diskriminatif itu dapat “diwajarkan” oleh masyarakat dan kemudian menjadi budaya di sana.

Oleh karena itu, kesadaran terkait diskriminasi (terutama ras dan etnis) harus sudah dibangun melalui sosialisasi dan perluasan masyarakat tentang rasisme.

Hilmi Harsaputra
Menyukai alam dan dunia secara fisik, flora fauna serta astronomi.

Latest articles