Mengenal Perpustakaan Manusia: Sebuah Fasilitas untuk Meminjam Buku Manusia

Perpustakaan Manusia
Source: Humanlibrary.org

Perpustakaan Manusia atau Human Library pada dasarnya merupakan sebuah organisasi atau gerakan internasional yang bertujuan untuk menghilangkan prasangka masyarakat terhadap orang-orang yang memiliki kisah unik yang kadang dipandang sebelah mata.

Tujuan dari perpustakaan manusia adalah menghilangkan pandangan atau prasangka yang dipikirkan oleh pembaca dengan cara mengonfirmasi atau mengkomunikasikannya secara langsung kepada buku-buku manusia. Selain itu, dengan adanya perpustakaan manusia, pembaca pada khususnya dan masyarakat pada umumnya bisa bersimpati terhadap hal-hal negatif yang disandangkan kepada para sukarelawan buku manusia. Misalnya terkait, tunawisma, penderita peyakit menular, penyintas kanker, korban kekerasan seksual, buruh imigran dan lain sebagainya.

Simpati dan empati tersebut dapat hadir karena adanya keintiman berupa sesi tanya jawab antara buku dan pembaca. Tentunya tidak semua orang akan mau terbuka untuk berbagi kisahnya kelamnya, maka dari itu perpustakaan manusia menyediakan fasilitas berupa sukarelawan buku manusia.

Baca juga: Era Post Truth, Di Mana Kebenaran Menjadi Buram

Konsep yang dibangun dari perpustakaan manusia adalah menyediakan human book (buku manusia) sebagai “Objek” yang dipinjam oleh pemustaka (pengunjung perpustakaan). Alih-alih membaca buku tercetak, pada Human Library kita akan disediakan manusia sebagai rekan diskusi.

Buku-Buku Manusia

Buku manusia dapat dipinjam selama 30 menit untuk bercerita kepada pembaca. Setelah mereservasi buku, pembaca dan buku manusia akan dipersilahkan untuk menempati tempat yang disediakan oleh perpustakaan.

Gerakan ini dicetuskan oleh seorang berkebangsaan Denmark, Ronni Abergel di sebuah acara di Kopenhagen pada tahun 2000. Pada awalnya gerakan ini merupakan sebuah rangkaian event yang berlangsung beberapa hari saja. Namun seiring waktu, perpustakaan manusia pertama didirikan secara permanen di Lismore Australia pada tahun 2006.

Gerakan ini telah berkembang ke seluruh dunia menjadi organisasi internasional di lebih dari 80 negara termasuk di Indonesia. Sayangnya di Indonesia belum memiliki perpustakaan permanen yang bisa didatangi kapan waktu.

Buku-buku manusia merupakan sukarelawan yang mau berbagi kisah kepada pembaca. Buku manusia berasal dari berbagai latar belakang sosial, agama, suku bangsa, budaya, pengalaman, orientasi seksual, dan gaya hidup. Selain mengangkat isu kaum margin, perpustakaan manusia juga menyediakan buku manusia yang memiliki keahlian atau kompetensi tertentu. Pembaca tentunya bebas bertanya kepada buku manusia terkait pengalaman. Misalkan seorang tunawisma yang menawarkan dirinya sebagai seorang buku manusia. Pembaca dapat menanyakan terkait perasaan yang dialami sejak berada di situasi tersebut.

Pertanyaan untuk Buku Manusia

Pertanyaan-pertanyaan dapat dilontarkan oleh pembaca selagi masih berada dalam batas norma sosial dan norma kesopanan. Seorang buku manusia juga berhak tidak menjawab pertanyaan jika pertanyaannya tidak pantas.

Contoh tema yang sering disediakan sebagai buku manusia adalah pengalaman unik para kaum minoritas dan penyintas yang sulit ditemui di masyarakat. Seperti: bipolar, buruh migran, LGBT, Penderita HIV-AIDS, disabilitas, korban kejahatan seksual, gelandangan, pengungsi, dan lain sebagainya.

Human Library merupakan cara untuk menyediakan tacit knowledge. Sebuah tacit knowledge sangat sulit untuk dituangkan; ditransformasikan; dan diungkapkan secara eksplisit kepada setiap orang. Perlu ada komunikasi personal yang dilakukan untuk menyalurkan tacit knowledge tersebut dan konsep human library menjawab permasalahan tersebut.

Pada akhirnya human library menjadi sebuah problem solving untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ragu ditanyakan oleh masyarakat kepada kelompok masyarakat tertentu. Informasi tersebut tentunya diperoleh dengan cara diskusi hangat antara pembaca dan buku manusia.

Latest articles