Mengenal Rewrite dan Teknik Menulis ATM

ENSIPEDIA.ID – Dalam dunia tulis menulis artikel, sudah menjadi hal yang lazim dilakukannya menulis ulang suatu paket tulisan, terutama dalam artikel berita. Itulah sebenarnya tak semua penulis di situs berita mendapatkan informasi yang dimuat dari sumber langsung di TKP.  Kebanyakan penulisnya hanya melakukan rewrite dari suatu situs dengan teknik menulis Amati, Tiru, Modifikasi (ATM).

Meski tidak sama dengan kegiatan plagiarisme, teknik menulis ATM sebenarnya tetap memiliki kesan pencurian tulisan, yang mana kita masih mencuri “Ide” atau “Format” dari suatu tulisan tersebut.

Ada perbedaan mendasar antara teknik Rewrite dengan teknik ATM, kalau teknik ATM, supaya tidak terdeteksi plagiat, kita hanya mengeliminasi sekian kata, dan kemudian menambahkan sekian kata. Nah tubuh tulisannya kita tetep meniru tulisan orang lain.

Beda dengan rewrite, dimana kita benar-benar menulis ulang; build kata dari nol. Dalam me-rewrite kita hanya mengambil informasi/materi dari si sumber, tidak mengambil format tulisan (ide).

Jadi saya pribadi sebenarnya tidak merekomendasikan teknik ini, walaupun jika sebagai awalan belajar menulis mungkin bisa dimaklumi, namun berusahalah untuk berkembang seiring waktu, jangan malas. Mulailah dengan mencoba cek originalitas tulisan kalian di situs “Smallseotools“, atau “Copyscape“.

Belajar lah untuk menulis original, mengetik langsung kata demi kata yang kalian susun pada pikiran kalian, bahkan jika kalian bisa, carilah informasi langsung dari sumber; dari TKP. Jadilah profesional kawan!

Bagaimana Sebenarnya Teknik ATM itu?

Seperti abrevasinya, ATM ialah paket tahapan menulis dengan mengamati tulisan yang kita jadikan sumber, meniru tulisannya (copas), lalu kita modifikasi beberapa katanya.

Kenapa dilakukan demikian? Supaya tidak terdeteksi plagiat.

Jadi sederhananya, teknik ATM itu copy paste halus.

Contoh:

Sebelum modifikasi:

Mengutip dari CNN Indonesia:

“Satu orang polisi terlapor dalam kasus unlawful killing terhadap empat laskar Front Pembela Islam (FPI) di Jalan Tol Jakarta-Cikampek meninggal dunia karena kecelakaan.

Hal itu dibenarkan oleh Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Argo Yuwono. “Iya (satu terlapor meninggal)” kata Argo saat dikonfirmasi, Kamis (25/3).

Setelah modifikasi:

“Salah satu polisi terlapor dalam kasus pembunuhan empat laskar FPI dikabarkan tewas karena kecelakaan.

Hal ini dikonfirmasi Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Argo Yuwono. “Iya (satu terlapor meninggal dunia),” kata Argo menjawab pertanyaan pada Kamis (25/3/2021).

 

Latest articles