MENGENAL LITERASI: Hanya Kegiatan Membaca?

Sumber: Magic Pictures/Shutterstock

ENSIPEDIA.ID – Belakangan ini, istilah literasi sangat sering kita terdengar. Istilah ini juga berkembang pesat dan meluas artinya di masyarakat. Eksistensi literasi juga digaungkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Mas Nadiem Makarim. Beliau mengungkapkan bahwa aspek assesmen kompetensi pengganti ujian nasional adalah literasi dan numerasi. Dikutip dari Kompas.com, Menteri Nadiem menjelaskan bahwa “Literasi, yaitu bukan kemampuan membaca, namun memahami konsep bacaan.”

Menurut kamus online Merriam – Webster, Literasi ialah suatu kemampuan atau kualitas melek aksara di dalam diri seseorang dimana di dalamnya terdapat kemampuan membaca, menulis dan juga mengenali serta memahami ide-ide secara visual.

Menurut Alberta, Literasi ialah kemampuan membaca dan menulis, menambah pengetahuan dan ketrampilan, berpikir kritis dalam memecahkan masalah, serta kemampuan berkomunikasi secara efektif yang dapat mengembangkan potensi dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.

Istilah literasi mengalami perluasan makna, dari pemaknaan literasi sebagai proses baca tulis menjadi pemaknaan konsep pemahaman terhadap suatu hal. Lahirlah berbagai perluasan literasi, mulai dari literasi membaca, literasi digital, literasi informasi, literasi perpustakaan, literasi lingkungan, literasi media, literasi kebudayaan, hingga literasi moral dan lain sebagainya.

Pada kesempatan ini, perkenankanlah saya membahas istilah “literasi” dari sejarah hingga manfaat yang kita peroleh dengan memiliki keterampilan literasi. Mari kita mulai!

Sejarah dan Asal Kata

Istilah literasi berasal dari bahasa Latin yaitu dari kata “Literatus” yang berarti orang yang belajar. Kembali lagi bahwa cara manusia belajar tak lain dan tak bukan yaitu dengan cara membaca dan menulis.

Karena berkaitan dengan proses tulis-menulis, baca-membaca, maka sejarah literasi tak bisa dipisahkan dengan konteks kesusastraan. Pada abad ke 17-18 masehi, di Eropa mencuat gerakan sastra yang disebut sebagai Republica Literaria (Bahasa Latin)/Republic of Letters (Bahasa Inggris) yaitu sebuah perkumpulan yang berisikan komunitas intelektual yang saling berhubungan secara jarak jauh (berkorespondensi) dalam memajukan ilmu pengetahuan dan kesusastraan.

Sebuah budaya dalam Republica Literaria di Eropa pada saat itu berkembang karena 3 sebab.

1. Penemuan mesin ketik dan teknologi percetakan. Bayangkan, sebelum ditemukan teknologi percetakan sederhana, orang-orang menyalin tulisan secara manual. Ada profesi yang khusus melakukan pekerjaan penyalinan dengan cara ditulis tangan. Namun, setelah ditemukan mesin percetakan sederhana pertama oleh seorang yang bernama Johannes Gutenberg maka revolusi besar pun terjadi. Proses pendistribusian ilmu pengetahuan pun semakin mudah dan tentunya orang-orang lebih dimudahkan dalam membaca dan menulis.

2. Jaringan Korespondensi semakin luas
Para intelektual dalam gerakan Republica Literaria terhubung dengan jaringan imajiner korespondensi. Proses surat menyurat merupakan sarana utama dalam berbagi informasi. Jaringan-jaringan seperti inilah yang tetap menjaga akar literasi pada zaman tersebut.

3. Kedai Kopi sebagai tempat pertukaran informasi
Karena daerah jajahan kolonial kaya akan sumber daya alam berupa kopi dan teh, maka bermunculan lah kedai-kedai kopi saat itu. Komunitas Republica Literaria memanfaatkan kedai kopi tersebut sebagai sarana pertukaran pikiran. Jika melihat di Indonesia, konsepnya hampir sama dengan diskusi warung kopi. Pengaruh besar kedai kopi dalam republik literasi adalah sebagai tempat para intelektual dan pemikir dalam mendiskusikan temuannya khususnya tentang filsafat alam seperti temuan terbaru megenai hewan atau tumbuhan.

Tak bisa kita pungkiri bahwa latar belakang sejarah literasi di Eropa berawal dari kegiatan menulis berupa kegiatan korespondensi surat; kegiatan membaca, dimulai dari berkembangnya mesin cetak sederhana. Tapi, proses membaca dan menulis pun tidak cukup untuk menggapai keterampilan literasi, sebuah proses berdiskusi, memahami bacaan, dan pembentukan budi pekerti merupakan hal utama dalam literasi. Hal ini ditandai dengan proses diskusi di kedai-kedai kopi di Eropa pada abad ke-17.

Literasi di Masa Kini

Seperti yang ditulis di awal bahwa Literasi pemaknaannya sudah cukup meluas. Istilah ini acapkali digandengkan dengan materi lainnya. Seperti literasi digital, literasi lingkungan, dan lain sebagainya. Hal ini menandakan bahwa literasi sudah meluas, yang mana hanya berkembang dari komunitas sastra dan bahasa menuju ke semua bidang kajian. Hal tersebut juga disebabkan oleh berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada hakikatnya literasi dapat diringkas menjadi 5 kata kunci. Yaitu:

1. Mengamati/Membaca
2. Memahami
3. Menggunakan/mengoprasikan
4. Menganalisis
5. Menuangkan dalam bentuk tulisan

Jika seseorang sadar akan kelima hal diatas, maka seseorang tersebut tidaklah sulit untuk mempelajari suatu ilmu pengetahuan baru.

Bagaimana pun literasi tetap dimulai dari proses membaca/mengamati. Artinya ada input informasi yang diterima oleh seseorang. Maka dari itu, indeks literasi biasanya diukur dari berapa buku yang dibaca oleh penduduk dalam suatu negara. Tentunya kita tidak dapat memahami, mengoprasikan, menganalisis, dan menuangkan kembali sebuah konsep jika tidak pernah membaca. Ada pepatah yang mengatakan “Penulis baik adalah seorang pembaca yang baik.” Maka dari itu membaca merupakan bagian penting dari literasi.

Karena literasi menyangkut sebuah proses, (Dimula dari membaca, memahami, mengoprasikan, menganalisis, hingga menuliskan) maka literasi dapat juga dikatakan sebagai keterampilan dan kecakapan tentang suatu hal.

Manfaat Literasi

Manfaat utama memiliki keterampilan literasi adalah kita menjadi pembelajar seumur hidup (long life education). Seperti yang kita ketahui bahwa asal kata literasi berasal dari istilah “Orang yang belajar.” Kita dituntut untuk terus mencari ilmu pengetahuan. Dengan literasi, pikiran kita akan terus diasah. Kita juga akan diperluas wawasannya dengan terus membaca. Belum lagi dengan literasi bisa menambah fokus dan konsentrasi kita.

Dalam ranah yang lebih praktis lagi, manfaat literasi akan membawa kita ke pribadi yang lebih kritis. Maka, kita akan terhindar dari informasi-informasi menyesatkan, hoax, dan berita bohong. Kita akan lebih sulit tertipu karena memiliki wawasan yang luas.

Menuju Masyarakat Literat

Jika semua orang sadar akan pentingnya literasi, maka secara otomatis suatu bangsa akan sampai pada sebuah Masyarakat Literat.

Masyarakat literat merupakan gabungan dari individu-individu yang literat. Menurut Syarifuddin dalam indonesiana(.)com berpendapat bahwa seseorang yang literat yaitu orang yang memiliki kompetensi dan kecakapan hidup. Memberdayakan keadaan atas dasar kesadaran belajar, memiliki kemampuan memahami realitas, dan mampu mentransformasikan pemikiran dalam prilaku sehari-hari. Seseorang yang literat memiliki ciri sebagai berikut:

1. Hidupnya adaptif
2. Kontribusinya positif
3. Manfaatnya solutif

Bagaimana kawan? Sudahkan kita menjadi seorang yang literat? Berapa jam dalam sehari yang kita luangkan untuk membaca?

Latest articles