Media Framing: Cara media Membingkai Peristiwa

Source: eaglecartoons.com

ENSIPEDIA.ID – Pernah gak sih kalian merasa heran bahwa mengapa terkadang ada peristiwa yang diliput oleh media secara berlebihan. Dan sebaliknya ada peristiwa yang layak diliput malah diabaikan begitu saja. Terkadang pula, saya merasa heran mengapa publikasi tentang sesuatu terkadang dinilai positif oleh media A dan dinilai negatif oleh media B. Saya seperti merasa curiga bahwa ada tendensi tertentu yang memengaruhi media tersebut. Keheranan saya (mungkin juga bagi kawan-kawan sekalian) diatas bisa terjawab dengan pembahasan tentang Media Framing.

Banyak faktor yang mempengaruhi perspektif seseorang tentang kebenaran itu sendiri. Tentunya banyak bias yang ditimbulkan di era ini sehingga missinformasi dan disinformasi semakin banyak tersebar dan mengaburkan kebenaran.

Media massa sebagai salah satu sumber informasi terbesar terkadang menjadi penyebab masuknya kita di era Post-Truth. Salah satu yang mereka lakukan adalah “Framing“.

Secara sederhana Framing adalah bagaimana cara media bercerita (Story telling) atas sebuah peristiwa. Media akan merekonstruksi sebuah peristiwa yang diceritakan sedemikian rupa, sehingga apa yang diberitakan menjadi sebuah realitas.

Jadi begini, jika kita analogikan, media adalah sebuah bingkai potret. Sedangkan peristiwanya kita ambil contoh hewan beruang. Agar beruang tersebut mendapatkan citra yang baik, berbulu, dan imut. Maka kita hanya perlu memotret bagian tubuh beruang yang mendukung citra tersebut, tanpa harus memperlihatkan kuku yang tajam, dan gigi yang runcing.

Seperti itulah cara sebagian media membingkai peristiwa.

Ada 2 aspek inti dalam media framming. Yaitu:

1. Bagaimana media memilih fakta. Fakta-fakta yang mereka ambil tentunya fakta-fakta yang sesuai dengan citra apa yang akan mereka tonjolkan. Tidak ada objektifitas, melainkan subjektifitas.

2. Bagaimana media menuliskan fakta. Setelah fakta mereka batasi sesuai tendensi tertentu, selanjutnya mereka akan memilih simbol pesan (simbolik). Contohnya bagaimana umat Islam setelah tragedi 9/11 disimbolkan sebagai teroris.

Dalam sebuah usaha framing, setidaknya ada 3 bagian berita yang dijadikan objek framing oleh wartawan/media, yaitu:

1. Judul berita
Teknik Framing dalam judul berita biasanya menggunakan teknik empati. Yaitu dengan cara menciptakan “Pribadi Khayal” dalam benak Khalayak. Khalayak seakan diarahkan untuk mengangan bahwa merekalah yang menjadi korban peristiwa, setidaknya khalayak merasa menjadi bagian dari korban, keluarga korban, atau bagian dari korban peristiwa.

2. Fokus berita
Media membingkai fokus berita dengan teknik asosiasi, yaitu menggabungkan kebijakan aktual dengan fokus berita. Contoh, media akan mengangkat tentang LGBT, maka wartawan harus tahu kebijakan aktual saat itu (sedang tran/hangat di perbincangkan) tentang LGBT di suatu negara atau dunia.

3. Penutup berita
Teknik framing yang kerap dipakai dalam penutup berita adalah teknik Packing yaitu media membuat khalayak tidak berdaya atau menerima apa adanya tentang ajakan yang dikandung berita. Biasanya propaganda-propaganda digaungkan sebagai epilog dalam sebuah berita, dan khalayak selalu pasrah menerimanya.

Contoh kasus media framing

Pada tanggal 1 September 1983 pesawat pembom Soviet menembah jatuh pesawat Korea 007 yang mengakibatkan teeasnya 269 orang. Lalu, pada tanggal 3 Juli 1988 pesawat penjelajah Amerika menembak jatuh pesawat Iran 655 yang menewaskan 290 korban termasuk awak pesawat.

Kedua peristiwa tersebut memiliki permasalahan yang sama. Tapi dengan pelaku yang berbeda. Namun, sayangnya kejadian tersebut dikonstruksi sedemikian rupa oleh media Amerika Serikat. Bahwasanya penembakan Pesawat Korea oleh Soviet merupakan sebuah kasus penembakan, serangan udara dan pembunuhan. Sedangkan kasus Amerika dan Iran digambarkan hanya sebagai sebuah tragedia dan kecelakaan semata.

Ada banyak contoh framing media. Silahkan Kawan amati sendiri.

Kritik Framing

Asumsi-asumsi dari Media Framing juga banyak di kritik oleh beberapa ahli komunikasi. Artinya kita tidak boleh menggenaralisasi semua media menggunakan framing dalam pemberitaannya. Kita harus menganalisis terlebih dahulu. Apakah kiranya ada dalang yang mempunyai kepentingan di media tersebut atau tidak.

Berikut kritik tentang Media Framing:
1. Media akan semakin tidak dipercayai. Dengan adanya framing dan asumsi liar mengenai media. Maka media akan semakin tidak dipercayai. Masalah utama jika media massa tidak dipercayai adalah kita kehilangan sumber informasi paling besar.

2. Kewaspadaan dan kebenaran akan semakin senjang.

3. Framing mendistorsi kebenaran. Perlu diingat bahwa di era Post-Truth kita tidak hanya sedang berjuang melawan “hal yang salah dianggap benar,” tetapi juga kita sedang berjuang melawan “hal benar dianggap salah.”

Media massa bukanlah hal yang jahat. Media massa adalah saluran informasi. Namun, terkadang media menjadi sarana utama pengaburan benar-salah dengan framing yang dilakukannya. Bagaimana media membingkai realitas tertentu berpengaruh dengan bagaimana khalayak menafsirkannya. Saya tutup tulisan ini dengan sebuah kutipan dari Jim Morisson.

“Whoever controls the media, controls the mind.”

Latest articles