Era Post Truth, Di Mana Kebenaran Menjadi Buram

Era Post-Truth
Source: eifour.com

Era post-truth atau era pasca-kebenaran menjadi perbincangan hangat belakangan ini. Manusia saat ini sangat sulit untuk terlepas dari jeratan sosial media dan ledakan informasi. Facebook, Instagram, Twitter, TikTok, YouTube, dan lain sebagainya sudah hampir menjadi kebutuhan yang tak terlepaskan.

Positif dan negatif segala sesuatu, semuanya bergantung pada bagaimana kebijaksanaan penggunanya. Tapi, pada postingan ini mungkin akan sedikit ke arah bagaimana sosial media mengubah era kebenaran menjadi apa yang disebut dengan era pasca-kebenaran (post-truth).

Tak bisa dipungkiri bahwa sosial media menjadi platform yang digunakan dalam menyebarluaskan berita palsu. Kita dapat melihat di dalam layar smartphone sendiri bahwa sosial media digunakan sebagai sarana debat demi kepentingan politik, golongan, bahkan yang lebih miris untuk kepentingan agama. Alih-alih media sosial digunakan sebagai ruang publik untuk bercengkarama, bertukar pikiran, menghubungkan manusia untuk menambah pertemanan, sosial media berubah menjadi sarana penyebarluasan berita bohong, pemecah belah masyarakat, dan membuat generasi kurang produktif dengan segala oase-nya.

Salah satu produk dari kebebasan berekspresi di media sosial adalah hoax. Hoax adalah suatu berita yang memuat kebohongan yang di buat oleh seseorang yang isi dan kebenarannya tidak dapat dipertanggung jawabkan. Selain secara sengaja, hoax juga dapat disebabkan oleh ketidaktahuan seseorang dalam menyebarluaskan berita yang belum tentu teruji kebenarannya.

Menurut Rahadi, berikut jenis-jenis informasi hoax di Era Post Truth.

1. Fake News (Berita Bohong)

Berita bohong adalah berita yang isinya berusaha menggantikan berita yang sebenarnya demi sebuah kepentingan.

2. Clickbait (Tautan Jebakan)

Berita jenis ini mengandung informasi yang benar, tetapi dengan judul yang dilebih-lebihkan. Tautan berita ini terkadang disimpan di area strategis agar pembaca dapat melihatnya. Biasanya menggunakan kata-kata seperti “Heboh”, “Mengejutkan”, “Luar Biasa”, dan sebagainya.

Baca Juga: Mengenal Clickbait

3. Confirmation Bias (Bias Konfirmasi)

Informasi semacam ini cenderung memberikan bukti-bukti untuk mendukung keyakinannya dan menutup mata untuk melihat pendapat lawan diskusi. Contoh, ketika saya percaya dengan pendapat bahwa bumi itu datar, maka dengan bias konfirmasi, saya akan terus mencari tentang kebenaran bumi datar dan tak ingin percaya dengan fakta-fakta bumi bulat. Saya hanya ingin menginfirmasi informasi sesuai dengan apa yang saya yakini.

4. Miss Informasi

Yaitu informasi yang digunakan untuk menipu.

5. Satire

Informasi ini berupa tulisan yanh dibesar-besarkan untuk mengomentari kejadian yang hangat. Tidak ada niatan jahat dari penulis, tetapi informasi ini bisa disalahpahami oleh orang-orang yang tidak mengerti konteks pembahasan.

6. Propaganda

Yaitu aktivitas yang menyebarluaskan berita atau informasi untuk memegaruhi pemikiran publik. Contoh propaganda di Indonesia yang menggunakan media sosial adalah #2019GantiPresiden dan #RakyatMauJokowi2019, di mana hashtag tersebut dipakai untuk memengaruhi pikiran publik saat Pilpres 2019 oleh masing-masing pasangan calon.

Dengan adanya fake news, hoax, dan hate speech maka meledaklah struktur pengetahuan. Di mana kebenaran sulit untuk ditemukan, benar-salah tergantung opini publik yang mungkin menyesatkan. Era Post-Truth pun di mulai.

Post-truth atau pasca-kebenaran berarti era di mana kaburnya kebenaran secara objektif. Fakta-fakta objektif tidak lebih dipercaya ketimbang opini publik yang telah dibaurkan dengan hoax, hate speech, dan fake news.

Era Post-truth ditandai dengan buramnya antara benar dan salah, tak ada tapak batas antara keaslian dan kepalsuan, era yang penuh denga tipu muslihat, semakin menyatunya kebohongan dan kejujuran sehingga masyarakat akan “bermasa bodoh” dengan itu semua. Informasi yang beredar dan sesuai dengan keyakinan dianggap sebagai kebenaran. D’Ancona beranggapan bahwa era Post-Truth merupakan era di mana rasionalitas digantikan dengan emosionalitas.

Sebab munculnya era Post-Truth adalah rendahnya tingkat literasi dari masyarakat sehingga informasi yang diterima oleh masyarakat hanya dipahami secara setengah-setengah terkadang hanya membaca judul saja. Masyarakat juga kurang memahami konteks dari apa yang mereka baca dan langsung menyebarluaskan tanpa disaring terlebih dahulu. Dampak dari prilaku ini adalah opini-opini yang salah persepsi inilah yang akan menjadi kebenaran yang dianggap paling benar.

Langkah untuk Menghadapi Hoax di Era Post Truth

Fatmawati (2019) dalam jurnalnya memberikan langkah untuk menghadapi era Post-Truth.

1. Literasi Awal: Cerdas memilih dan memilah Informasi.

Literasi bukan sekedar kemampuan membaca dan menulis saja, aspek utama dari literasi adalah kemampuan memahami bacaan dan menuangkannya dalam sebuah gagasan tulisan. Literasi awal seharusnya sudah diajarkan oleh orang tua. Kemampuan mengetahui apa yang benar dan apa yang salah bisa diajarkan sejak dini. Dalam hal ini, seharusnya masyarakat dibekali dengan literasi media khususnya media baru (sosial media saat ini). Saat seseorang memahami literasi media maka orang tersebut pasti akan tumbuh menjadi orang yang cerdas memilih dan memilah informasi.

2. Multimodal dan Multikompetensi

Multimodal dapat diartikan sebagai generasi yang memiliki banyak modal, modal yang dimaksud adalah modal intelektual untuk berpikir solutif dan kritis. Sedangkan Multikompetensi dapat diartikan sebagai generasi yang memiliki berbagai kompetensi seperti literasi komputer, literasi media, literasi Internet, literasi TIK, literasi digital, literasi moral, dan lain sebagainya.

Generasi yang hidup di era Post-Truth harus membentengi diri dengan konpetensi yang banyak dan modal pengetahuan yang luas. Dengan banyaknya kompetensi maka informasi-informasi bohong dapat dianalisis dengan cepat sehingga kita tidak mudah ditipu oleh kepentingan-kepentingan pembuat informasi hoax.

3. Memperjuangkan Literasi

Proses literasi dimulai sejak kita menentukan kebutuhan informasi, memulai mencari sumber informasi, memilih informasi, memilah informasi, dan mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Dengan adanya proses tersebut kita tidak hanya mendapatkan informasi yang setengah-setengah dan tidak mudah terjebak dalam hoax, berita bohong, dan ujaran kebencian. “Saring dulu sebelum sharing”, “Thingking dulu sebelum Clicking”.

Cerdaslah bersosial media, karena ada banyak kejahatan yang mengintai kita hanya dengan berdasarkan apa yang kita klik.

Latest articles