Halo Ensipedian!

   Indonesia merupakan salah satu penghasil minyak kelapa sawit yang sangat progresif dalam kegiatan ekspor ke luar negeri. Progresivitas Indonesia dalam melakukan ekspor minyak tentunya menjadi pertanyaan besar terkait dampak atau impact yang diperoleh masyarakat Indonesia. Sejak tahun 2006, Indonesia merupakan salah satu penghasil minyak sawit terbesar di dunia dengan persentasi peningkatan ekspor rata-rata atau sebesar 3,61% (Idris: 2022). Namun, pada kenyataan di tahun 2022 saat ini justru harga minyak terdiskon dengan adanya Ceilling Price atau Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp14.000 (Nurhadi: 2022). Hal tersebut merupakan langkah intensif untuk melindungi konsumen dalam membeli minyak goreng dengan melakukan konsolidasi dengan perusahaan minyak goreng dalam melakukan stabilisasi harga.

   Sebagai bentuk pengujian secara ekonometris, saya akan menyajikan hasil penelitian terkait pengaruh dari beberapa variabel yang diduga memiliki pengaruh dan keterikatan. Variabel yang saya uji terdiri dari tiga variabel diantaranya:

  1. Jumlah Ekspor Minyak Kelapa Sawit (Y)

   Jumlah ekspor minyak kelapa sawit dalam penelitian ini merupakan variabel Y yang merupakan variabel konstanta atau intercept dari susunan variabel yang akan diinduksikan pada saat persamaan regresi sudah dihasilkan dari data yang telah diolah.

  1. Ketimpangan Sosial (X2)

   Ketimpangan sosial pada penelitian ini menggunakan koefisien gini yang merupakan instrumen pengukuran ketimpangan sosial pada waktu tertentu. Ketimpangan sosial merupakan variabel independen atau variabel bebas pertama.

  1. PDB Indonesia (X3)

   PDB Indonesia merupakan Pendapatan Domestik Bruto atau Gross Domestic Product pada tahun tertentu. PDB Indonesia dimasukan pada variabel independen atau variabel bebas dapat diinterpretasikan dengan X3.

Hasil Pengumpulan Data

   Pengumpulan data diperoleh dari berbagai sumber penyedia data. Dalam penelitian apabilan data yang diperoleh merupakan hasil dari perolehan data, maka data tersebut disebut sebagai data sekunder. Data yang telah dikumpulkan diinterpretasikan pada tabel 1.

Tahun JEMKS

(Juta Ton)

(Y)

Koefisien Gini

(X2)

PDB Indonesia

(USD)

(X3)

2015 27,7 0,41 3.377,1
2016 24,1 0,40 3.605,1
2017 28,8 0,39 3.876,8
2018 29,3 0,38 3.927
2019 29,5 0,38 4.174,9
2020 27,3 0,38 3.911,7
2021 26,9 0,38 4.349,5

Tabel 1. Tabel Perolehan Data Jumlah Ekspor Minyak Kelapa Sawit (JEMKS), Koefisen Gini, dan PDB Indonesia.

Sumber: BPS Statistik, 2015-2021. Kata Data, 2021.

Hasil Pengolahan Data dan Pembahasan

   Data sekunder yang telah diperoleh selanjutnya masuk pada tahapan pengolahan data dengan mengandalkan uji signifikansi yang diantaranya termasuk dari beberapa komponen diantaranya uji normalitas, uji-t, uji-f, dan koefisien determinasi yang lebih lengkapnya tersaji pada tabel 2.

Y X2 X3 Sig, Uji-T Sig. Uji-F R-Square
Y X2 X3
71,601 -98,766 -0.001 0,4 0,5 0,8 0,643 0,198

Tabel 2. Hasil Pengolahan Data

Sumber: Hasil Pengolahan SPSS, 2022

   Persamaan regresi yang dihasilkan dapat dirumuskan dengan Y = 71,6 – 98,8 – 0,001. Artinya, hubungan antar variabel bebas memiliki korelasi negatif. Y = 71,6 atau sebesar 71,6 juta ton  merupakan hasil dari jumlah ekspor minyak kelapa sawit apabila tidak ada variabel koefisien gini dan PDB Indonesia. X2 = -98,8 artinya atau 98,7 artinya apabila jumlah ekspor minyak kelapa sawit meningkat satu juta ton, maka koefisien gini dapat berkurang sebesar 98,8. X3 = -0,001 artinya apabila jumlah ekspor minyak kelapa sawit meningkat satu juta ton, maka PDB atau GDP atas harga dasar berkurang sebesar satu dollar (US$ 1).

   Dari hasil uji-f dan uji-t mengahasilkan signifikansi yang tidak terlalu berpengaruh. Artinya, tidak ada pengaruh yang signifikan antara jumlah ekspor minyak kelapa sawit dengan ketimpangan sosial (interpretator indeks gini) dan PDB atas harga dasar. Untuk uji koefisien determinasi juga menghasilkan bahwa model yang didapat merupakan model yang cukup lemah.

   Hasil uji normalitas menyimpulkan hasil pengamatan distribusi data sudah bisa dikatakan normal dengan mengamati plot sepanjang garis sudah mengikuti garis vertikal. Maka, data yang diujikan sudah berdistribusi normal berdasarkan uji normal probability sample.

Kesimpulan dan Opini

   Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak menunjukan pengaruh yang signifikan antara jumlah ekspor minyak kelapa sawit terhadap ketimpangan sosial dan PDB atau GDP berdasarkan harga dasar. Namun, bukan berarti kita bisa bernafas lega. Kebijakan pemerintah harus tetap diawasi dan dikritisi oleh masyarakat sebagai social control pada setiap kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah.

    Minyak merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat Indonesia yang secara ekonomi merupakan barang inelastis. Artinya, minyak merupakan suatu barang yang sangat sulit dicari penggantinya walaupun dapat diganti, kualitas tersebut kurang relevan apabila digunakan oleh masyarakat umum.

Sumber:

BPS. 2021. “Ekspor Minyak Kelapa Sawit Menurut Negara Tujuan Utama 2012-2020”. Jakarta: Badan Pusat Statistik. htps://bps;go;id/staticable/ekspor-minyak-kelapa-sawit-menurut-tujuan-utama-2012-2020 diakses pada 5 Mei 2022.

BPS. 2022. “Ekonomi Indonesia Triwulan IV 2021 Tumbuh 5,02 Persen (y-on-y)”. Jakarta: Badan Pusat Statistik. htps://bps;go;id/pressrelease/ekonomi-indonesia-triwulan-iv-tumbuh-5,02-persen diakses pada tanggal 5 Mei 2022.

BPS. 2021. “Ekonomi Indonesia 2020 Turun 2,07 Persen (c-to-c)”. Jakarta: Badan Pusat Statistik. htps://bps;go;id/pressrelease/ Ekonomi-Indonesia-2020-Turun-2,07-Persen-(c-to-c) diakses pada tanggal 5 Mei 2022.

BPS. 2020. “Ekonomi Indonesia 2019 Tumbuh 5,02 Persen”. Jakarta: Badan Pusat Statistik. htps://bps;go;id/pressrelease/ Ekonomi-Indonesia-2019-Tumbuh-5,02-Persen diakses pada tanggal 5 Mei 2022.

BPS. 2019. “Ekonomi Indonesia 2018 Tumbuh 5,17 Persen”. Jakarta: Badan Pusat Statistik. htps://bps;go;id/pressrelease/ Ekonomi-Indonesia-2018-Tumbuh-5,17-Persen diakses pada tanggal 5 Mei 2022.

BPS. 2018. “Ekonomi Indonesia 2017 Tumbuh 5,19 Persen”. Jakarta: Badan Pusat Statistik. htps://bps;go;id/pressrelease/ Ekonomi-Indonesia-2017-Tumbuh-5,19-Persen diakses pada tanggal 5 Mei 2022.

BPS. 2017. “Ekonomi Indonesia 2016 Tumbuh 5,02 Persen”. Jakarta: Badan Pusat Statistik. htps://bps;go;id/pressrelease/ Ekonomi-Indonesia-2016-Tumbuh-5,02-Persen diakses pada tanggal 5 Mei 2022.

BPS. 2016. “Ekonomi Indonesia 2015 Tumbuh 5,04 Persen”. Jakarta: Badan Pusat Statistik. htps://bps;go;id/pressrelease/ Ekonomi-Indonesia-2015-Tumbuh-5,04-Persen diakses pada tanggal 5 Mei 2022.

BPS. 2022. “Ketimpangan Pengeluaran Penduduk Indonesia Menurun”. htps://databooks;katadata;co;id/2022/ Ketimpangan-Pengeluaran-Penduduk-Indonesia-Menurun diakses pada 5 Mei 2022.

Nurhadi, M. 2022. “Ironi Minyak Goreng Langka di Negara Penghasil Sawit Terbesar, Janji Pemerintah Berakhir Minta Maaf”. htps://suara;com/bisnis/2022/03/18/ Ironi-Minyak-Goreng-Langka-di-Negara Penghasil-Sawit-Terbesar-Janji-Pemerintah-Berakhir-Minta-Maaf diakses pada tanggal 5 Mei 2022.

Idris, Muhammad. 2022. “RI Penghasil Sawit Terbesar di Dunia, Tapi Harganya Diatur dari Malaysia”.. htps://money;Kompas;com/RI-Penghasil-Sawit-Terbesar-di-Dunia-Tapi-Harganya-Diatur-dari- Malaysia diakses pada 5 Mei 2022.

Ghozali, i. 2011. “Aplikasi Analisa Multiverse dengan Program IBM SPSS 19. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Gujarati, D. 1999. “Ekonometrika Dasar”. Jakarta: Penerbit Erlangga.