Jakarta – Ancaman terorisme kini merambah ke ranah digital yang semakin akrab di kalangan anak-anak. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) telah mengidentifikasi pola rekrutmen teroris baru yang secara licik menyasar generasi muda melalui fitur komunikasi di dalam platform game online. Fenomena ini terdeteksi melalui taktik perekrutan yang dilakukan melalui percakapan teks (chat) dan suara (voice chat) saat anak-anak asyik bermain game.
Kepala BNPT, yang diwakili oleh pejabat terkait dalam sebuah kesempatan, menjelaskan bahwa modus operandi yang mengkhawatirkan ini telah menjadi fokus pemantauan sejak awal tahun 2024. Upaya pencegahan dan penanggulangan dilakukan melalui kolaborasi erat antar kementerian, lembaga pemerintah, dan aparat penegak hukum. Salah satu platform yang disorot sebagai titik rawan adalah fitur chat di game populer seperti Roblox, yang memiliki basis pengguna anak-anak yang sangat besar.
"Upaya pencegahan terhadap pola rekrutmen yang baru ini telah kami galakkan sejak tahun lalu. Kami berkolaborasi secara sinergis dengan berbagai kementerian, lembaga terkait, serta aparat penegak hukum untuk terus memantau dan menganalisis tren rekrutmen yang berkembang ini," ujar pejabat BNPT dalam sebuah forum diskusi di Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Jakarta, pada hari Kamis, 30 April 2026.
Jerat Digital Grooming: Awal Mula Rekrutmen Teroris Anak
Lebih lanjut, pejabat BNPT memaparkan bahwa proses rekrutmen teroris terhadap anak-anak ini diawali dengan sebuah metode yang dikenal sebagai digital grooming. Pelaku teror memanfaatkan fitur komunikasi yang tersedia dalam game untuk membangun kedekatan emosional dengan anak-anak. Mereka tidak serta-merta menyebarkan ideologi radikal, melainkan memulai dengan membangun rasa percaya dan empati.
"Pada tahap awal, para pelaku ini berupaya membangun sebuah kedekatan emosional. Mereka akan mengajak anak-anak berbincang saat bermain, mencari kesamaan hobi, bahkan menawarkan diri untuk mendengarkan keluh kesah. Dari interaksi yang terkesan kasual inilah, kemudian terbangunlah sebuah kedekatan," jelas pejabat BNPT.
Pada fase ini, interaksi yang terjadi seringkali terlihat layaknya percakapan biasa antar sesama pemain game. Hal ini membuat aktivitas tersebut sulit terdeteksi sebagai potensi bahaya oleh orang tua maupun pihak pengawas. Fleksibilitas dan anonimitas dunia maya menjadi medan yang subur bagi pelaku untuk melancarkan aksinya tanpa terendus.
Pergeseran Platform dan Normalisasi Ideologi Radikal
Setelah berhasil menjalin kedekatan dan menumbuhkan rasa percaya, korban kemudian diarahkan untuk berpindah dari platform game ke aplikasi komunikasi lain yang lebih personal, seperti WhatsApp atau Telegram. Perpindahan ini merupakan langkah strategis untuk memfasilitasi proses doktrinasi yang lebih intensif.
"Di sinilah kemudian masuk ke tahap berikutnya, yaitu normalisasi. Setelah anak-anak merasa nyaman dan percaya, mereka mulai diberikan pemaparan terhadap doktrin-doktrin tertentu. Ini termasuk narasi-narasi radikal yang seringkali disampaikan dengan membingkai isu-isu yang sensitif dan menentang pemerintah," ungkap pejabat BNPT.
Dalam kasus-kasus yang berhasil diidentifikasi dan ditangani oleh BNPT, pelaku rekrutmen ini diketahui merupakan simpatisan dari kelompok-kelompok teror yang aktif menyebarkan ideologi ekstrem. Propaganda yang mereka sebarkan seringkali terkait dengan narasi-narasi yang diusung oleh organisasi teroris internasional, seperti ISIS, yang mampu menarik perhatian dan memanipulasi pikiran anak-anak yang masih rentan.
Upaya Pencegahan dan Peran Krusial Orang Tua
Pejabat BNPT menambahkan bahwa setelah tahap doktrinasi, pelaku biasanya akan mencoba melakukan tahap eksploitasi terhadap korban. Bentuk eksploitasi ini bisa beragam, mulai dari pemanfaatan untuk penyebaran propaganda, hingga potensi keterlibatan dalam aktivitas teror yang lebih serius. Namun, beruntung, upaya eksploitasi ini berhasil digagalkan oleh aparat sebelum mencapai tahap yang lebih membahayakan.
"Syukurlah, sebelum masuk ke tahap eksploitasi yang lebih jauh, kami bersama dengan aparat penegak hukum berhasil melakukan intervensi dan pencegahan melalui pendekatan hukum yang tepat," kata pejabat BNPT, menegaskan keberhasilan upaya penanggulangan yang telah dilakukan.
BNPT memberikan peringatan keras bahwa ruang digital, termasuk di dalamnya dunia game online, kini telah bertransformasi menjadi sebuah medium baru yang sangat efektif untuk penyebaran paham radikal. Sifatnya yang luas, mudah diakses, dan seringkali tanpa pengawasan ketat menjadikannya target empuk bagi kelompok teroris. Oleh karena itu, peran orang tua dalam mengawasi aktivitas anak-anak di dunia maya dinilai sangatlah krusial dan tidak dapat ditawar lagi.
"Anak-anak tentu tidak dilarang untuk bermain game, karena itu adalah bagian dari perkembangan sosial dan hiburan mereka. Namun, yang terpenting adalah adanya pendampingan dan pengawasan yang memadai dari orang tua. Anak-anak perlu dibekali pemahaman mengenai risiko-risiko yang mungkin mereka hadapi saat berinteraksi dengan orang asing di dunia digital, serta diajarkan cara memilah informasi yang baik dan buruk," pungkas pejabat BNPT, menekankan pentingnya literasi digital dan kesadaran keamanan bagi anak-anak.
Pemerintah terus berupaya meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat sinergi antar lembaga untuk melindungi generasi muda dari ancaman terorisme yang semakin canggih. Edukasi publik dan peningkatan kesadaran akan pentingnya pengawasan digital menjadi kunci utama dalam membentengi anak-anak dari jerat radikalisme di era digital ini.






