Orang Madura dan Kisah Sukses Besi Tuanya

ENSIPEDIA.ID, Jember – Besi tua bagi sebagian orang mungkin hanyalah barang rongsokan biasa yang tidak ada nilainya. Namun, bagi orang madura, besi tua merupakan barang yang mampu meningkatkan taraf hidup bahkan mengantarkan mereka kepada kekayaan.

Tanpa bermaksud untuk merendahkan, Presiden Indonesia ke-4 Abdurrahman Wahid pernah bercanda mengenai stereotip Suku Madura tersebut, “untuk mencari tahu 1 di antara 2 pemuda yang berdarah Madura, lemparkan saja bekas kaleng minuman, yang menoleh lebih dulu, itulah pemuda Madura.”

Sudah sejak Orang Madura memang dikenal sebagai pribadi yang pekerja keras. Hal tersebut sesuai dengan pepatah warisan leluhur mereka, ‘lebbi bagus pote tollang atembang pote mata (lebih baik putih tulang daripada putih mata). Maksud dari pepatah tersebut adalah lebih baik mati daripada menanggung malu.

Berbagai usaha seperti juragan sapi, tukang sate, tukang cukur, petani garam, warung kelontong 24 jam hingga penjual besi tua sukses di tangan mereka.

Kepopuleran Orang Madura dengan besi tuanya bukan hanya isapan jempol belaka. Banyak Orang Madura yang merantau ke kota-kota besar, seperti Jakarta dan Surabaya lalu mereka sukses karena menjadi penjual besi tua. Kebanyakan orang Madura merantau diakibatkan karena kondisi sawah mereka yang kurang produktif.

Melansir dari vice, bisnis usaha besi tua orang-orang Madura berpusat di daerah Klender dan Clincing. Bukan tanpa alasan, tempat tersebut dipilih karena dekat dengan pabrik-pabrik besar. Jika di Klender, berdekatan Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP), pengembang sekaligus pengelola kawasan industri pelat merah. Sedangkan di Clincing berdekaran dengan pabrik Master Steel dan United Tractors.

Selain di Jakarta, persebaran besi tua yang pemiliknya adalah orang Madura juga banyak dijumpai di Surabaya, seperti di Jalan Demak Kecamatan Kenjeran. Adaptasi pedagang besi tua Suku Bangsa Madura adalah dengan pemanfaatan jaringan kekerabatan Suku Bangsa Madura yang sudah merantau terlebih dahulu dan sukses usaha dan bisnis besi tua di Kota Surabaya.

“Aku iku dulu datang ke Surabaya ya ikut-ikutan teretan dhibik (saudara sendiri) mengumpulkan rongsokan. Tadinya rongsok saya jual ke saudara saya itu karena rongsok saya masih sedikit. Saya belum hapal/hafal kampung sama nama jalan di Surabaya. Sudah 3-4 bulan, rongsok yang aku dapat lumayan. Mangkanya, saya mulai ikut njual rongsok ke pengepul rongsok. Eh, pengepul iku ya teretan dibhik (saudara sendiri). Terus aku punya modal besar ya ikut-ikutan jadi pengepul besar besi tua.

Walaupun demikian, tidak semua orang Madura yang menekuni bisnis besi tua menjadi sukses. Banyak di antara mereka yang menekuni bisnis tua, tetapi hanya pengepul kecil skala kampung dan “pemulung” besi tua jalanan.

Sangking banyaknya pemulung besi tua di jalanan yang mayoritas orang Madura. Muncullah berbagai stigma-stigma negatif di masyarakat. Jika terjadi kasus kabel hilang, besi penutup drainase lenyap, rel kereta api menyublim, maka masyarakat yang pertama kali dituduh adalah orang Madura.

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles