Review Serial Girl From Nowhere

ENSIPEDIA.ID, Jakarta – Belakangan ini, lagi-lagi serial Girl From Newhere menarik perhatian masyarakat. Dimana Nanno berperan menghakimi para oknum-oknum yang melakukan tindakan menyimpang, terkhusus pada lingkungan sekolah.

Season 1 yang dirilis pada 2018 silam dengan jumlah episode sebanyak 13 buah, benar-benar menampilkan kekelaman di lingkungan sekolah. Entah itu pemerkosaan, perundungan, atau bahkan pembunuhan yang dilakukan oleh para murid ataupun guru-guru sendiri.

Awalnya saya tidak terlalu tertarik dengan serial ini karena dub Thailand, namun karena belakangan naik daun lagi dan ramai dibicarakan, akhirnya membuat saya penasaran dan memutuskan untuk menonton serial ini. Kesan pertama saya pas nonton serial ini biasa saja, plot twistnya menarik namun endingnya mudah ditebak. Hampir semua tebakan saya tepat sasaran.

Adegan gorenya cukup dramatis, mengesankan, juga menakutkan dalam satu waktu. Serial dengan Nanno—entah manusia atau representasi iblis, sebagai peran utama dalam serial ini diceritakan sebagai sesosok yang kerap kali berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain untuk mengungkapkan rahasia-rahasia kelam dari para oknum di sekolah.

Adegan gore, kekerasan dan seksual hampir mendominasi film ini. Sangat tidak sarankan bagi anda yang phobia darah atau tidak suka dengan kekerasan.

Untuk musim pertama menampilkan beberapa kasus, dimana katanya terinspirasi dari 13 kasus kekerasan yang dialami oleh murid-murid sekolah thailand. Setiap episodenya memberikan kejutan dan menampilkan kasus baru. Meskipun banyak kejadian-kejadian tidak masuk akal, namun juga banyak sekali pesan-pesan tersirat yang berusaha disampaikan serial ini lewat Nanno. Temanya memang di fokuskan pada lingkungan sekolahan, namun mengenai kasusnya hampir mencangkup semua lingkup masyarakat.

Berlanjut ke musim kedua, temanya semakin gelap, kelap dan juga mencekam. Musim ini lagi-lagi diawali dengan kejadian tidak masuk akal. Dimana diceritakan, Nanai sebagai penjahat kelamin hamil. Peristiwa ini tidak masuk akal jika dilihat dari kacamata dunia nyata, pasalnya Nai ini laki-laki dan mengaku tidak pernah melakukan operasi kelamin. Episode pertama ini kurang membuat saya tertarik dan hampir selesai sampai disini. Namun karena penasaran dengan tokoh Yuri yang mana katanya bersimpangan dengan tindakan-tindakan Nanno membuat saya akhirnya melanjutkan menonton serial ini.

Sampai pada episode enam, gairah saya untuk menonton serial ini kembali bangkit. Di episode ini, hampir seluruhnya didominasi oleh warna abu-abu. Yang saya tangkap, sebagai penggambaran atas dunia yang abu-abu ini. Persaingan antara Nanno dan Yuri di episode ini juga mulai menarik. Posisi Nanno sebagai iblis penghakiman mulai tergeser saat Yuri mengacaukan rencana-rencana Nanno dan mengambil jalan yang berbeda—walau pada akhirnya tetap Nanno yang keluar sebagai pemenang. Plotnya juga kembali menarik. Karena selain kematian atau kekerasan yang berdarah-darah seperti yang lalu-lalu, para pelaku kriminal juga langsung dihadapkan dengan karma atau terkena azab.

Mengenai musik pengiringnya, menurut saya pribadi tidak seperti sinetron-sinetron atau film horor kebanyakan. Hampir seluruhnya mengangkat musik klasik, yang sukses membuat penonton tegang, hanyut, seolah-olah di undang masuk kedalam cerita itu sendiri.

Hampir seluruh episode pada serial ini menyuguhkan adegan kekerasan, menggambarkan bahwa semua perbuatan atau tindakan manusia itu memiliki konsekuensi dan pertanggungjawabannya masing-masing. Secara keseluruhan, serial ini menarik dan layak ditonton bagi para remaja— tidak disarankan untuk anak dibawah umur, terhitung banyaknya adegan yang tidak pantas. Banyaknya pesan tersirat dalam serial ini menjadi nilai plus tersendiri. Penyisipan pesannya apik dan mulus. Selain itu benar-benar diangkat dari kisah nyata masyarakat sendiri. Serial ini bisa ditonton secara legal di Netflix.

My personal rate: 8/10

  “Untuk hidup dalam masyarakat yang penuh kepalsuan, hidupmu harus berkelas.” -Nanno

Latest articles