Poverty Porn: Eksploitasi Kaum Miskin Lewat Konten yang “Menjual Kemiskinan”

Apa itu Poverty Porn?
Poverty porn adalah semua jenis media, baik itu ditulis, difoto, atau difilmkan, yang fokus menceritakan penderitaan kemiskinan dan kerja keras yang dialami oleh para subjek tanpa menjelaskan faktor struktural yang dihadapinya. Tujuannya ialah untuk menarik perhatian publik yang otomatis membawa banyak klik, bukan memantik diskusi publik untuk mengatasi kemiskinan.
Meskipun telah mendapat kritikan dari berbagai pihak, poverty porn rupanya makin luas digunakan, terutama oleh media. Hal tersebut terjadi karena poverty porn sebagai pengemasan berita dapat menarik perhatian publik lebih luas dibanding bentuk pengemasan lain untuk tema kemiskinan. Menjadikan cerita kemiskinan sebagai daya tarik utama, poverty porn bekerja dengan tujuan agar audiens mendapat pelampiasan hasrat obsesifnya untuk menaruh simpatik pada penderitaan.
Pada prinsipnya, poverty porn bekerja layaknya bentuk konten p*rnografi seksual yang menjual gambaran seksualitas yang dilebih-lebihkan, tak masuk akal, hingga imajinatif. Selain itu, berita dengan kemasan poverty porn hanya menawarkan kualitas voyeuristik dimana pengalaman kepuasan tercapai hanya dengan mengkonsumsi konten belaka. Sehingga, audiens atau penonton hanya dijadikan sebagai konsumen tanpa dipantik untuk membicarakan permasalahan secara struktural atau utuh.
Poverty porn di berbagai media di Indonesia
Mengeksploitasi kemiskinan sebagai konten bukanlah sesuatu yang baru. Banyak media berita yang sering memakai poverty porn hanya untuk mendulang simpati publik. Mungkin kalian sudah tidak asing dengan berita-berita seperti berikut: “Menyedihkan, Nenek Ini Sebatang Kara dan Tak Punya Anak, Jual Lidi Demi Sesuap Nasi”, “Kisah Pilu Nenek 80 Tahun yang Miskin dan Sering Makan Tanah”, atau “Kakek Miskin di Brebes Ini Hidupnya Miris, Sebatangkara Hidup di Gubuk di Atas Lahan Jalan Tol”, dan sebagainya.
Berita tersebut hanya berfokus pada pernak-pernik kemiskinan lansia tanpa mementingkan pada isu kemiskinan itu sendiri. Selain itu, lansia yang harusnya menjadi subjek cerita, justru jadi objek cerita dari pengamatan wartawan, tetangga, hingga orang lain yang tak berhubungan dengan sang lansia.
Apa yang ditawarkan dalam tiga berita itu hanya pengalaman kemiskinan lewat narasinya. Melalui eksploitasi cerita “jual lidi demi sesuap nasi”, “sering makan tanah”, dan “sebatang kara hidup di gubuk” dengan embel-embel “miris”“menyedihkan”, dan “kisah pilu” untuk sebuah klik. Tiga cerita tersebut memang sesuai dengan fakta yang ada, tapi menjadikannya sebagai fokus tunggal berita sejak dalam judul adalah pengaburan masalah, sehingga hal tersebut dapat berbahaya bagi pemahaman publik tentang kemiskinan.
Tak hanya ditemui dalam media berita, poverty porn juga banyak ditayangkan di stasiun televisi di Indonesia yang diusung dalam acara bertajuk Reality Show. Mungkin kalian masih ingat dengan reality show seperti Bedah Rumah dan Minta Tolong yang pernah ditayangkan di RCTI, Rumah Gratis dan Jika Aku Menjadi yang ditayangkan di Trans TV, Orang Pinggiran yang ditayangkan di Trans 7, Uang Kaget, Tolooong!, dan banyak lainnya. Acara-acara tersebut terbukti mampu menarik lebih banyak penonton.
Reality show yang menguras rasa iba ini, biasanya mengangkat kisah hidup orang yang dekat dengan garis kemiskinan dengan kondisi tempat tinggal yang kurang layak dan penghasilan tak memadai. Kemudian nantinya akan muncul sosok penyelamat yang membayarkan utang, merenovasi rumah, memberi uang, atau mengajak jalan-jalan objek yang diselamatkan itu. Lantas, apa yang dihasilkan dari acara dengan tema seperti ini? Ya, tentu saja pundi-pundi uang!
Berdasarkan hasil survei Nielsen Media Research (NMR) di Indonesia pada pertengahan tahun 2005 pernah mencatatkan, Uang Kaget dan Bedah Rumah sebagai acara dengan rating tertinggi, dengan indikator rating dan share. Uang Kaget memperoleh rating 5,9 persen dengan share 21,9 persen, sedangkan Bedah Rumah memperoleh rating hingga 5,4 persen dengan share 25 persen.
Berapa kira-kira pendapatan yang diperoleh oleh reality show tersebut berdasar rating. Yang pasti, acara tersebut biasa tayang di jam-jam utama dengan harga iklan mahal. Trans TV misalnya, mematok harga iklan Rp50 juta per 30 detik untuk prime time. Untuk acara Uang Kaget dengan rating sebesar 5,9 persen yang bisa mendapat 8-10 iklan di tiap sesinya. Misalnya, satu iklan 30 detik seharga Rp50 juta, maka stasiun televisi bisa meraih pendapatan sekitar Rp400-500 juta untuk satu sesinya. Dalam satu episode, bisa terdiri dari beberapa sesi. Hmm, kalian bisa hitung sendiri berapa total yang diperoleh stasiun tv dari acara bertema kemiskinan tersebut.
Acara-acara reality show seperti ini, tampaknya sudah sudah mulai berkurang. Namun bukan berarti tidak ada. Seperti yang terlihat, acara serupa mulai menjamur ke berbagai sosial media lainnya, Youtube ialah salah satunya. Banyak konten kreator yang memanfaatkan tema poverty porn sebagai konten yang mengundang banyak viewers.
Dalam kasus channel youtube Baim Wong atau Baim Paula misalnya, banyak ditemukan video atau konten yang membantu orang miskin, mulai dari konten membantu renovasi rumah, memborong dagangan, hingga sekedar bagi-bagi uang. Setidaknya terdapat 104 konten video dengan tema kemiskinan yang ditemukan dalam channel youtube milik Baim Wong, yang tercatat mulai dari 1 januari hingga 13 oktober 2021. Nyatanya, konten dengan tema kemiskinan seperti ini lebih menarik banyak penonton atau viewers.
Menurut Social Blade, viewers channel Youtube Baim Paula bertambah rata-rata 26,8 juta per minggu. Dengan viewers sebanyak itu, kira-kira berapa uang yang dihasilkan oleh Baim Wong lewat channel youtubenya?
Menurut Youtube Money Calculator, Channel Baim Paula rata-rata mengahasilkan $5,518 per video atau setara dengan Rp78 juta. Jika dikalikan dengan 104 video tadi, maka jumlahnya mencapai sekitar Rp8,13 Miliar. Jumlah tersebut belum termasuk sponsor brand yang terdapat dalam konten youtube milik Baim Wong lho! Gimana, sangat menggiurkan bukan?
Mungkin seperti itulah gambaran media-media menggunakan poverty porn sebagai alat yang menguntungkan.
Lantas, kira-kira siapa yang diuntungkan dari konten-konten bertema poverty porn seperti di atas? Yang jelas bukan saya dan kalian!
Kesimpulan:
Mengeksploitasi penderitaan kaum miskin untuk mendulang klik atau simpati publik tanpa mengeksplorasi akar masalah penyebab kemiskinan merupakan sebuah hal yang tak bermoral. Mungkin bagi kaum elite, kemiskinan hanya dipandang sebagai sebuah alat untuk memperoleh pundi-pundi. Ya, pada intinya masih dalam kerangka kapitalisme, yang mempunyai modal besar mengeksploitasi yang kecil. Influencer makin kaya karena pendapatan dari adsense-nya besar, sedangkan yang miskin besoknya juga tetap miskin.

“Orang kelas atas itu akan selamanya memiliki hasrat mempertahankan keeliteannya, sedangkan orang bawah selalu punya mimpi untuk terus naik kelas. Permasalahannya adalah ketika yang atas tidak mau digerus kekuasaannya, maka dia harus mempertahankan sedemikian rupa. Salah satunya adalah menggunakan cara-cara mengeksploitasi, baik langsung atau tidak langsung. Karena hanya dengan itu mereka bisa terpelihara posisi elitisnya.”

Sama halnya dengan poverty porn yang menggunakan kemiskinan sebagai sebuah alat untuk menarik simpati publik. Faktanya kita tahu jelas bukan, siapa yang lebih diuntungkan?!

Latest articles