Menghukum Siswa dengan Kekerasan, Awas Bisa Terjerat Hukum

ENSIPEDIA.ID, Jakarta – Pernahkah kamu dihukum guru ketika sedang membuat kesalahan? Yang namanya anak sekolahan pasti sering kali membuat kesalahan, sehingga membuat gurunya jengkel dan gemes. Tetapi pernahkah saking kesal dan jengkelnya terhadap siswa, hingga guru kamu menghukum siswa dengan kekerasan?

Selain dari keluarga, sekolah juga berperan penting dalam mendidik dan membentuk karakter anak. Orang yang berperan besar yaitu guru, peran guru di sekolah sama halnya seperti orang tua, salah satunya yaitu mendidik untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Namun terkadang dalam mendidik siswanya dalam hal kedisiplinan, sering kali ada seorang “Oknum” guru yang memakai cara kekerasan untuk memberi pelajaran bagi siswa. Hingga akhirnya mengakibatkan terjadinya tindak kekerasan terhadap siswa oleh guru.

Lalu muncul pertanyaan, apakah memberi tindak kekerasan atas nama pendidikan dibenarkan oleh hukum? Apakah ada hukum yang mengatur tentang tindakan kekerasan guru terhadap siswa? Di samping itu, guru dituntut untuk mengayomi semua siswanya. Apakah pantas jika seorang guru melakukan kekerasan terhadap siswanya?

Jerat Hukum Bagi Guru yang Menghukum Siswa dengan Kekerasan

Sekarang kita pikir secara logika saja, dimanapun yang namanya tindak kekerasan itu dilarang, apalagi terhadap anak di bawah umur atau masih anak sekolah. Berbagai regulasi telah menentang tindakan kekerasan terhadap anak, seperti yang tertuang dalam UU Perlindungan Anak No. 35 Tahun 2014 pasal 54 ayat 1-2.

    1. Anak di dalam dan di lingkungan satuan pendidikan wajib mendapatkan perlindungan dari tindak Kekerasan fisik, psikis, kejahatan seksual, dan kejahatan lainnya yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lain.
    2. Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, aparat pemerintah, dan/atau Masyarakat.

Dalam pasal yang tertulis di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa jika anak di dalam lingkungan sekolah wajib mendapatkan perlindungan dari tindak kekerasan dalam bentuk apapun dari pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lain.

Jadi tidak seharusnya guru melakukan tindakan kekerasan terhadap anak di sekolah. Karena guru di sini sebagai tenaga pendidik. Lalu bagaimana ancaman pidana jika ada yang melakukan kekerasan terhadap anak?

Di dalam pasal 80 jo. Pasal 76C Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang “Perlindungan Anak” menyebutkan bahwa:

    1. Setiap Orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76C, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah).
    2. Dalam hal Anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) luka berat, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
    3. Dalam hal Anak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mati, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).
    4. Pidana ditambah sepertiga dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) apabila yang melakukan penganiayaan tersebut Orang Tuanya.

Baca juga: Ketika Korban Jadi Tersangka, Apakah Hukum di Indonesia Tidak Lagi Melindungi Rakyatnya?

Adapun bunyi pasal 76C yang dimaksud adalah:

    1. Setiap Orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan Kekerasan terhadap Anak.

Dampak Kekerasan Guru Terhadap Siswa

Biasanya ada sebagian guru tidak hanya melakukan kekerasan secara fisik, tetapi juga secara verbal. Namun, walaupun kekerasan verbal tidak menimbulkan efek pada fisik anak, tetapi kekerasan verbal akan menimbulkan efek pada psikologis anak.

Lalu apa dampak bagi siswa jika mendapat tindakan kekerasan? Ada beberapa yang timbul jika siswa mendapat tindak kekerasan di sekolahnya, yaitu sebagai berikut:

1. Fisik
Dampak yang timbul ketika melakukan kekerasan secara fisik dapat mengakibatkan organ-organ tubuh siswa mengalami kerusakan seperti memar, luka-luka, dll. Hal inilah yang menjadi permasalahan dan bisa terjerat hukum.

2. Psikologis
Kekerasan juga dapat membuat siswa trauma psikologis, rasa takut, rasa tidak aman, dendam, menurunnya semangat belajar, daya konsentrasi, kreativitas, hilangnya inisiatif, serta daya tahan (mental) siswa.

Menurunnya rasa percaya diri, inferior, stres, depresi dsb. Dalam jangka panjang, dampak ini bisa terlihat dari penurunan prestasi,perubahan perilaku yang menetap.

3. Sosial
Jika ada siswa yang mengalami tindakan kekerasan tanpa ada penanggulangan, bisa saja korban akan menarik diri dari lingkungan pergaulan, karena merasa takut, merasa terancam dan merasa tidak bahagia.

Kesimpulan

Di sekolah, peran guru sangat penting dalam mendidik siswanya. Namun, alangkah baiknya guru mempertimbangkan kembali cara mengajarnya. Karena kekerasan fisik dapat menimbulkan luka pada tubuh.

Selain itu, hal tersebut juga tidak dibenarkan oleh hukum. Sesuai pasal yang tertera di atas, di Indonesia sendiri sudah mengeluarkan undang-ndangnya, dan efeknya bisa terjerat hukum sesuai pasal yang tertulis.

Latest articles