Ketika Korban Jadi Tersangka, Apakah Hukum di Indonesia Tidak Lagi Melindungi Rakyatnya?

ENSIPEDIA.ID, Jakarta – Ada satu kasus yang membuat saya bingung dan tertawa ketika membaca beritanya. Yaitu terkait seorang ibu pedagang yang membela diri ketika diserang preman malah ibu pedagang yang jadi tersangka. Padahal ibu pedagang ini korban. Tetapi mengapa malah korban jadi tersangka?

Kalau ngomongin kejahatan di masyarakat, pasti tidak akan ada habis-habisnya. Sering kali masyarakat menjadi korban kejahatan yang dilakukan oleh orang lain. Ketika dalam situasi terdesak atau terancam, sebagian orang akan pasrah. Tetapi ada juga yang melawan balik.

Tetapi pernahkah kalian berpikir kalau melawan balik penjahat yang menyerang kamu, malah bisa saja kamu yang menjadi tersangka dan mendapat ancaman pidana? Apakah itu masuk akal? Ketika ingin membela diri malah masuk bui.

Ada banyak sekali kasus-kasus di mana korban menjadi tersangka ketika melawan balik penjahat yang menyerangnya. Lalu apa yang harus kita lakukan ketika diserang penjahat? Apakah harus diam saja dan tidak melakukan perlawanan, baru lapor polisi?

Sebenarnya bagaimana sih hukum yang ada di indonesia? Apakah hukum di indonesia tidak lagi melindungi rakyatnya? Bagaimana aturan hukum yang berlaku ketika kita sedang membela diri dari penjahat? Apakah itu dibenarkan oleh hukum, atau malah melawan hukum?

Bisakah Korban Jadi Tersangka Ketika Melawan Balik Penjahat?

Akan terasa aneh jika orang membela diri dari orang jahat malah berurusan dengan hukum pidana. Apakah kita tidak punya hak untuk melawan balik penjahat jika terancam? Padahal peraturan itu sudah tertuang di dalam undang-undang.

Seorang ahli hukum pidana yang bernama van Hamel mengatakan “Membela diri merupakan suatu hak, sehingga orang yang menggunakan hak tersebut tidak dapat dihukum”.

Untuk masalah pembelaan diri yang dilakukan secara terpaksa atau pembelaan darurat sebenarnya sudah ada undang-undangnya, dan tertuang dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia (KUHP), pasal 49 ayat 1-2.

    1. Tidak dipidana, barang siapa melakukan perbuatan pembelaan terpaksa untuk diri sendiri maupun untuk orang lain, kehormatan kesusilaan atau harta Benda sendiri maupun orang lain, karena ada serangan atau ancaman serangan yang sangat dekat pada saat itu yang melawan hukum.
    2. Pembelaan terpaksa yang melampaui batas, yang langsung disebabkan oleh keguncangan jiwa yang hebat karena serangan atau ancaman serangan itu, tidak dipidana.

Setelah membaca dan melihat kedua ayat di atas, dapat kita simpulkan bahwa orang yang melakukan pembelaan secara terpaksa atau pembelaan darurat tidak dapat dihukum pidana. Karena, perbuatan pembelaan darurat karena adanya suatu ancaman serangan bukan termasuk perbuatan yang melawan hukum.

Baca juga: Apakah Merayakan Hari Raya Harus dengan Petasan?

Lalu mengapa ada kasus di mana ada orang membela diri dari ancaman orang jahat, malah korban yang terkena pasal pidana? Padahalkan itu dilakukan secara terpaksa karena adanya serangan dari orang jahat.

Syarat-syarat Pembelaan Diri yang Dibenarkan Oleh Hukum Sesuai Pasal 49 KUHP

Kalau kalian baca KUHP pasal 49, sebenarnya secara tidak langsung sudah jelas tertulis syarat pembelaan terpaksa yang dibenarkan oleh hukum. Oke langsung saja saya jelaskan makna yang terkandung di dalam KUHP pasal 49.

1. Syarat yang pertama yang tidak lain dan tidak bukan adalah harus dilakukan secara terpaksa. Maksudnya terpaksa di sini adalah tidak ada jalan lain selain melakukan tindakan yang melanggar hukum untuk membela diri. Akan tetapi membela diri juga ada aturannya, membela diri yang dimaksud di sini ada batasannya.

Contoh misal si Budi di pukul 2 kali oleh penjahat sampai berdarah, lalu si Budi balas memukul si penjahat sampai berkali-kali, sampai si penjahat berdarah dan tersungkur tidak berdaya. Setelah si penjahat berdarah dan tidak berdaya, si Budi melanjutkan pukulan dia ke penjahat sampai mati. Maka dalam kasus ini si Budi berpotensi menjadi tersangka. Karena itu sudah termasuk berlebihan.

2. Yang kedua, pembelaan terpaksa harus dilakukan untuk mempertahankan nyawa/badan, harta benda, dan kehormatan, sesuai yang disebut di dalam pasal. Maksud dari kata “Kehormatan” di sini lebih merujuk kesusilaan wanita, bukan karena penghinaan.

Contoh misal si Maya sedang bertemu dengan penjahat, lalu mau diperkosa. Maka kalau si Maya melakukan pembelaan yang melanggar hukum terhadap penjahat, itu diperbolehkan.

3. Yang terakhir adalah, harus serangan yang melawan hak dan mengacam dengan sekonyong-konyong atau pada ketika itu juga.

Contoh misal si Budi mau diserang oleh penjahat, dan kebetulan si Budi jago bela diri, lalu si Budi menangkis serangan yang dilalukan oleh penjahat dan menyerang balik, sehingga menyebabkan kematian. Maka si Budi tidak bisa dihukum karena itu dinamakan pembelaan diri tidak sengaja.

Kesimpulan

Jadi kesimpulannya apakah boleh membela diri ketika sedang diserang oleh penjahat walaupun dengan cara yang bisa dibilang melanggar hukum? Jawabannya boleh, karena itu suatu hak dan tidak dapat dipidana-kan. Akan tetapi ada aturan-aturan yang berlaku agar korban tidak menjadi tersangka ketika melawan penjahat.

Latest articles