Jurnalisme Kuning: Ketika “Wartawan” Tanpa Etika Membuat Berita

ENSIPEDIA.ID, Jakarta – Perkenalkan namaku Frederic Reminton. Di penghujung abad 19, aku ditugaskan untuk meliput situasi perang antara Amerika Serikat dan Spanyol di Kuba. Ya, seperti kebanyakan wartawan lainnya, aku ditugaskan untuk melihat suasana ketegangan perang untuk dikabarkan dalam koran New York Journal.

Rupanya, kala itu suasana tidaklah semengerikan yang aku bayangkan. Medan perang berubah kondusif saat Spanyol menyetujui segala tuntutan Amerika. Apa yang harus kulaporkan? Aku lantas mengirim telegram kepada atasan. “Keadaannya tenang. Tidak akan ada perang. Ingin pulang,” tulisku.

Aku kaget saat ada balasan dari Tuan Hearst—atasanku. “Harap tetap di sana. Anda membumbui gambarnya. Saya akan membumbui perang.”

Tak lama setelah itu, sebuah berita heboh terbit dari New York Journal. Ketegangan Spanyol-Amerika di Kuba pun kembali memanas.

Setidaknya, apa yang aku lakukan ini telah membawa jurnalisme Amerika dan dunia ke era kegelapan. “Jurnalisme Kuning.” Ya, begitulah mereka menyebutnya; berita yang bombastis yang bisa saja melanggar etika jurnalisme.

***

| Praktik Jurnalisme Kuning

Jurnalisme kuning merupakan kewartawanan yang sering mengangkat topik berbau gelap seperti sensasi, vulgaritas, kriminalitas, bahkan hal-hal yang berbau sadis. Selain itu, headline atau judul beritanya terkadang terlalu berlebih-lebihan, bombastis, dan sensasional.

Menurut beberapa pakar komunikasi, jurnalisme kuning juga disebut sebagai jurnalisme tanpa makna. Hal ini karena konten berita yang disajikan keluar dari substansi jurnalisme bahkan sampai melanggar etika komunikasi massa.

Munculnya praktik ini tak lain dan tak bukan dihahasilkan oleh motif bisnis. Saat penjualan oplah koran atau jumlah visitor meningkat, disitulah keuntungan yang didapatkan oleh media. Tak peduli kebermanfaatan konten yang disuguhkan. Yang terpenting adalah keuntungan dari iklan dan penjualan.

| Penny Pers: Sebuah Awal

Mari kita mundur ke masa lampau sejenak, masa yang menjadi mula kemunculan jurnalisme kuning.

Pada tahun 1833, seorang kaum urban Amerika bernama Benyamin Day menerbitkan untuk pertama kali surat kabar bernama New York Sun. Koran tersebut dijual seharga 1 penny. Harga yang sangat murah kala itu. Karakteristik koran Sun ada pada berita yang mereka angkat. Sun menghindari berita politik dan ekonomi. Mereka lebih mengangkat hal-hal yang dekat pada masyarakat awam dan para kaum urban pinggiran.

Koran Sun laku keras. Dengan harga yang murah dan berita yang ringan sangatlah digemari masyarakat. Karena kepopuleran korannya, Benyamin tidak mendapatkan keuntungan dari penjualan, melainkan dari iklan yang dipasang dalam surat kabar. Karena harga korannya hanya 1 penny, era jurnalisme ini kemudian disebut sebagai penny pers.

Melihat keberhasilan pers yang digunakan oleh Benyamin. Para pengusaha surat kabar pun mulai mengikuti cara Benyamin. Namun, karena banyaknya koran serta persaingan yang ketat. Maka dari itu, para jurnalis menggunakan cara baru untuk menggait pembaca yaitu dengan apa yang kita sebut hari ini sebagai jurnalisme kuning.

| Isi Jurnalisme Kuning: Kriminalitas, Kekerasan, dan Seksualitas.

Selain motif bisnis, koran kuning hadir sebagai media yang mengakomodasi kebiasaan bergosip dan bergunjing sebuah masyarakat. Media massa tentunya selalu melihat pangsa pasar. Apa yang kamu sukai, kami sediakan!

Setidaknya ada tiga informasi yang laku keras di masyarakat yaitu kriminalitas, kekerasan, dan seksualitas. Kalau bukan berita tentang seorang pemuda yang membunuh pacarnya, paling berita tentang artis yang foto ilustrasinya tak lari dari “Sekwilda” (sekitar wilayah dada) dan “Bupati” (buka paha tinggi-tinggi).

Rumus penting dari jurnalisme kuning yaitu: Trilogi informasi + Judul dan gambar yang bombastis = Keuntungan yang melimpah.

| Jurnalisme Kuning dan Media Online

Transformasi dari media konvensional ke media jenis baru ini semakin memperparah menjamurnya jurnalisme kuning. Apalagi untuk membuat media online tidaklah sulit. Diperparah lagi media yang katanya “besar” pun ikut-ikutan mejadi koran online kuning; berburu pengunjung dengan koran online kuning lainnya.

Ada tiga hal yang identik dengan media online, yaitu: asal cepat, tidak akurat, dan saru (seronok atau berbau porno). Dalam artikel yang dikutip Malik dari Dharmasaputra (2011) media online suka mengangkat rumor untuk dijadikan berita walaupun belum terbukti kebenarannya. Hal yang paling miris adalah berita online tidak mengindahkan kode etik jurnalisme. Tidak heran bahwa banyak media besar konvensional yang membuat edisi versi online guna berebut viewer.

| Epilog

Permasalah utama dari jurnalisme kuning adalah aspek etika. Apa kalian tega mengeksploitasi kesedihan para korban dengan berita-berita yang tidak bermoral? Ataukah tega meracuni pikiran anak bangsa dengan gambar-gambar yang sensual?

Walaupun sudah ada Pedoman Pemberitaan Media Siber yang dikeluarkan oleh Dewan Pers. Hal ini belum cukup untuk menekan menjamurnya jurnalisme kuning. Toh, pembaca berita jenis ini juga semakin banyak—sulit untuk menghentikannya.

Saya tutup tulisan ini dengan sebuah kutipan dari seorang sejarawan Amerika, Edward Eggleston.

“Jurnalisme adalah gosip yang terorganisir.”

_______________
Trivia:

Stasiun Televisi pertama di dunia adalah W2XB yang berdiri pada tahun 1928.
_______________

Referensi:

Malik, Abdul. 2017. Jurnalisme Kuning, “Lampu Kuning” Etika Komunikasi Massa. Jurnal AJUDIKASI Vol. 1 No. 2 Hal. 1-14.

Media Romeltea. 2014. “Banyak Media Online Jadi Koran Kuning”. Diakses melalui https,//www,romelteamedia,com/2014/09/banyak-media-online-jadi-koran-kuning,html?m=0 pada 26 Agustus 2021.

Latest articles