Hinaan Dikemas Rapi dalam Sebuah Candaan

“Halah, baperan! Gitu aja ngambek. Gue cuman bercanda doang!”
Sekarang, kebanyakan orang sudah sangat pandai mengemas rapi sebuah hinaan dalam bentuk candaan. Menjadikan orang-orang di sekitarnya sebagai objek hinaan, baik perihal fisik, perilaku, status, keluarga, dan sebagainya. Terlebih lagi bagi mereka yang cenderung pendiam, sering kali dijadikan objek.
Di balik banyaknya orang pendiam, orang yang asal ceplos juga tak kalah banyak. Berbicara tanpa menyaring kata-katanya terlebih dahulu dan tak berpikir panjang akibat dari apa yang diucapkan.
Memang tak semua orang berniat untuk menghina, ada juga yang hanya bercanda. Namun, setiap kalimat yang mengandung unsur menyinggung tetap akan menorehkan luka di hati.
Boleh bercanda, tapi lihatlah dulu dengan siapa Anda berbicara, serta sesuaikan pula kondisi dan keadaannya. Jika Anda berbicara dengan kawan karib itu tak masalah, setidaknya Anda dan kawan Anda sudah saling mengenal cukup dekat dan memahami satu sama lain. Namun, jika di tempat umum atau bersama orang lain tolong dikondisikan ucapannya.
Mungkin, Anda berniat sekedar ingin mencairkan suasana dan menciptakan tawa, tetapi jangan lupa bahwa orang yang Anda jadikan objek juga punya perasaan. Memang tak semua orang yang Anda jadikan objek menunjukkan reaksi tak suka atau memberontak, ada juga yang ikut tertawa dan menimpali, bahkan ada yang hanya diam dan memasang wajah datar saja.
Akan tetapi, orang yang hanya diam saja ini perlu diprihatinkan karena tak selamanya orang yang menunjukkan reaksi tersebut berarti tak peduli atau bodoh amatan, ada juga karena tak mampu menunjukkan emosionalnya; tak berani. Diam-diam hatinya merutuki dan mengajak berperang; memendam.
Jikalau Anda tak ingin apa yang Anda ucapkan berujung dengan persoalan yang panjang, maka berpikir bijaklah sebelum bertindak. Terapkanlah etika dan adab berbicara. Kata maaf saja tak cukup untuk mengobati hati yang terluka.
Bahkan, kata baperan yang sering Anda jadikan untuk mengelak atau membela diri itu bukanlah sebuah solusi, malah itu akan membuat orang yang Anda jadikan objek bertambah sakit hati.
Baik dengan tujuan menghina atau tidak, itu tetaplah tidak baik karena walau bagaimanapun Anda tak memberi kejelasan terlebih dahulu atas dasar apa Anda melontarkan kata-kata tersebut. Selesaikan masalah dengan sikap dewasa, tak perlu saling menyinggung satu sama lain.
Ingat, di balik tawa yang terhura-hura ada hati yang merasakan lara.

Latest articles