Perang harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia memasuki babak baru pada awal Mei 2026. Sejumlah pemain swasta, yakni BP dan VIVO, secara serentak melakukan penyesuaian drastis pada harga BBM jenis diesel, sementara PT Pertamina (Persero) masih mempertahankan banderol yang berlaku sejak bulan sebelumnya. Perubahan ini sontak menarik perhatian publik, terutama dengan adanya lonjakan harga yang signifikan pada salah satu produk BBM diesel swasta, bahkan menembus angka Rp 30.000 per liter.
BP menjadi salah satu perusahaan yang paling mengejutkan pasar dengan kenaikan harga BBM dieselnya. Produk yang sebelumnya dikenal sebagai BP Ultimate Diesel, yang pada periode sebelumnya dibanderol seharga Rp 25.560 per liter, kini melonjak drastis menjadi Rp 30.890 per liter. Kenaikan ini mencapai angka fantastis sebesar Rp 5.330 per liter, sebuah lompatan yang tak terduga bagi konsumen.
Namun, kebijakan penyesuaian harga BP tidak berlaku untuk seluruh lini produknya. Tiga jenis BBM lainnya yang ditawarkan oleh BP, yaitu BP 92, BP 95, dan Ultimate, tetap stabil pada harga masing-masing. BP 92 masih dapat dibeli dengan harga Rp 12.390 per liter, sementara Ultimate dipatok pada Rp 12.930 per liter. Kenaikan hanya terfokus pada produk diesel mereka, menunjukkan strategi pasar yang spesifik untuk segmen tersebut.
Tak mau kalah, VIVO juga mengambil langkah serupa dengan BP dalam hal penyesuaian harga BBM diesel. Produk mereka, yang diberi nama Diesel Primus, kini juga dijual dengan harga yang sama dengan BP Ultimate Diesel, yaitu Rp 30.890 per liter. Angka ini merupakan peningkatan tajam dibandingkan harga sebelumnya yang hanya Rp 14.610 per liter. Seperti halnya BP, VIVO juga memilih untuk tidak mengubah harga produk BBM non-diesel mereka, seperti Revvo 92 dan Revvo 95. Hal ini mengindikasikan bahwa fokus penyesuaian harga oleh kedua perusahaan swasta ini memang tertuju pada segmen pasar bahan bakar diesel.
Sementara itu, PT Pertamina (Persero) mengambil sikap yang berbeda dengan tetap mempertahankan harga BBM di seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) miliknya di Indonesia. Berdasarkan informasi yang dihimpun per 1 Mei 2026, harga produk-produk unggulan Pertamina tidak mengalami perubahan. Pertalite masih dijual dengan harga Rp 10.000 per liter, Pertamax seharga Rp 12.300 per liter, Pertamax Turbo Rp 19.400 per liter, dan Pertamax Green Rp 12.800 per liter.
Untuk segmen bahan bakar solar, Pertamina juga masih mempertahankan harga yang sama, dan yang terpenting, nominalnya jauh lebih terjangkau dibandingkan dengan produk diesel dari pesaing swastanya. Dexlite ditawarkan dengan harga Rp 23.600 per liter, sementara Pertamina Dex dipatok pada Rp 23.900 per liter. Perbedaan harga yang cukup mencolok ini tentu akan menjadi pertimbangan utama bagi para konsumen, terutama dalam memilih jenis BBM yang paling sesuai dengan kebutuhan dan anggaran mereka.
Penting untuk dicatat bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi merupakan sebuah keniscayaan yang telah diatur dalam peraturan pemerintah. Ketentuan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022. Regulasi ini memberikan kewenangan kepada badan usaha energi untuk melakukan penyesuaian harga secara berkala, menyesuaikan dengan fluktuasi harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, serta biaya operasional lainnya. Keputusan ini bertujuan untuk menjaga kestabilan pasokan dan mengantisipasi dampak terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sekaligus memberikan keleluasaan bagi perusahaan untuk beroperasi secara kompetitif.
Dampak dari lonjakan harga BBM diesel oleh BP dan VIVO ini diprediksi akan terasa di berbagai sektor ekonomi, terutama sektor logistik dan transportasi yang sangat bergantung pada ketersediaan bahan bakar yang terjangkau. Para pelaku usaha di sektor ini kemungkinan besar akan dihadapkan pada pilihan sulit, apakah akan menyerap kenaikan biaya operasional atau meneruskannya kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga barang dan jasa. Situasi ini juga berpotensi memicu perdebatan mengenai kebijakan subsidi BBM, terutama jika disparitas harga antara BBM bersubsidi dan nonsubsidi semakin melebar.
Para analis pasar energi memperkirakan bahwa penyesuaian harga yang dilakukan oleh BP dan VIVO ini bisa jadi merupakan respons terhadap kondisi pasar global atau strategi bisnis masing-masing perusahaan. Kenaikan harga yang signifikan pada produk diesel, yang merupakan bahan bakar utama untuk kendaraan niaga dan industri, dapat diartikan sebagai upaya untuk menyeimbangkan neraca keuangan mereka, atau sebagai antisipasi terhadap potensi kenaikan harga minyak mentah di masa mendatang.
Di sisi lain, sikap Pertamina yang memilih untuk tidak mengubah harga BBM dapat diinterpretasikan sebagai upaya untuk menjaga stabilitas harga bagi masyarakat luas dan melindungi daya beli konsumen. Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Pertamina memiliki mandat ganda, yaitu menjalankan bisnis secara profesional sekaligus memastikan ketersediaan dan keterjangkauan energi bagi seluruh rakyat Indonesia. Keputusan ini juga bisa jadi merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk mempertahankan pangsa pasar di tengah persaingan yang semakin ketat.
Masyarakat pun kini dihadapkan pada pilihan yang lebih beragam, namun juga lebih kompleks. Dengan adanya variasi harga yang cukup signifikan antar operator penyedia BBM, konsumen dituntut untuk lebih cermat dalam memilih SPBU yang akan mereka kunjungi. Faktor harga, kualitas produk, serta lokasi SPBU akan menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan.
Berikut adalah rangkuman harga BBM per tanggal 2 Mei 2026 di berbagai SPBU:
Pertamina
- Pertalite: Rp 10.000/liter
- Pertamax: Rp 12.300/liter
- Pertamax Turbo: Rp 19.400/liter
- Pertamax Green: Rp 12.800/liter
- Dexlite: Rp 23.600/liter
- Pertamina Dex: Rp 23.900/liter
BP
- BP 92: Rp 12.390/liter
- Ultimate: Rp 12.930/liter
- BP Ultimate Diesel: Rp 30.890/liter (naik dari Rp 25.560/liter)
VIVO
- Revvo 92: (Harga tidak berubah)
- Revvo 95: (Harga tidak berubah)
- Diesel Primus: Rp 30.890/liter (naik dari Rp 14.610/liter)
Perkembangan harga BBM ini akan terus menjadi sorotan publik dan analis ekonomi. Perubahan yang terjadi, terutama pada segmen BBM diesel, mengindikasikan dinamika pasar yang terus bergerak dan adaptasi para pelaku usaha terhadap berbagai faktor yang memengaruhinya.






