Jetour T2 Rp 588 Juta: SUV Berotot yang Membius, Lupakan Sejenak Urusan BBM?

Satrio Lukito

Di pasar otomotif yang semakin mengedepankan efisiensi dan rasionalitas, ada kalanya sebuah kendaraan muncul untuk menantang pakem tersebut. Jetour T2, sebuah SUV pendatang baru dari Tiongkok, hadir dengan daya tarik yang unik, menawarkan sensasi berkendara yang berbeda, bahkan jika itu berarti harus sedikit mengesampingkan pertimbangan irit bahan bakar.

Sebagai sebuah SUV berukuran besar dengan mesin turbo 2.0 liter dan bobot yang tidak ringan, konsumsi bahan bakar memang bukan poin utama yang bisa dibanggakan dari Jetour T2. Namun, setelah diuji dalam berbagai kondisi, pertanyaan yang muncul bukanlah seberapa borosnya, melainkan apakah performa dan karakternya yang kuat mampu membuat kita memaafkan angka konsumsi BBM tersebut.

Pesona Visual yang Tangguh dan Harga Menggoda

Tak lengkap rasanya membahas Jetour T2 tanpa menyinggung desainnya yang mencolok. Mobil ini memiliki proporsi yang besar, garis-garis bodi yang mengotak, dan kesan kekar yang terpancar dari setiap sudut. Dari fasia depan hingga buritan, aura SUV tangguh begitu terasa kuat, menegaskan identitasnya sebagai penjelajah yang siap menghadapi medan apa pun.

Siluet kotak yang tegas, diperkuat dengan ban cadangan yang terpasang di pintu belakang, tak ayal membangkitkan memori akan legenda off-road seperti Land Rover Defender. Desain berani ini ditawarkan dengan banderol harga yang kompetitif, yakni Rp 588 juta. Tampilan yang demikian agresif menjadi salah satu alasan terkuat bagi calon konsumen untuk melirik T2, terutama mereka yang mengidamkan SUV dengan gaya retro yang autentik dan karakter yang siap diajak bertualang.

Dengan dimensi panjang 4.785 mm, lebar 2.006 mm, tinggi 1.870 mm, serta jarak sumbu roda 2.800 mm, Jetour T2 memang terlihat dominan di jalan. Meskipun ukurannya besar, mobil ini dirancang dengan konfigurasi dua baris bangku untuk lima penumpang. Tata letak ini justru menghasilkan ruang kabin yang luar biasa lega, terutama untuk penumpang di baris kedua. Area bagasi juga sangat fungsional, berkat kemampuan bangku belakang yang dapat dilipat untuk menciptakan kapasitas penyimpanan yang lebih besar.

Kesan premium berlanjut ke dalam interior. Pengemudi dan penumpang akan dimanjakan dengan kehadiran panoramic sunroof berukuran masif, material kabin yang terasa berkualitas, layar head unit berukuran besar yang modern, serta sejumlah tombol fisik yang tetap dipertahankan untuk mengoperasikan beberapa fungsi penting, memastikan kepraktisan penggunaan. Fitur yang disematkan pun tergolong lengkap, mulai dari konektivitas Apple CarPlay dan Android Auto, kamera 360 derajat untuk memudahkan parkir, sistem bantuan pengemudi canggih (ADAS), hingga ventilated seat yang menambah kenyamanan. Hanya saja, penempatan pengaturan spion yang terintegrasi di layar sentuh mungkin terasa kurang intuitif bagi sebagian pengguna, mengingat Jetour masih menyisakan tombol fisik untuk fitur-fitur yang relatif jarang digunakan seperti mode off-road dan crawl control.

Bukan Sekadar Tampilan, T2 Punya DNA Petualang

Di balik desainnya yang gagah, Jetour T2 bukan sekadar pamer gaya. SUV ini dibekali kemampuan untuk menghadapi kondisi jalan non-aspal. Dengan ground clearance mencapai 220 mm, approach angle 39 derajat, dan departure angle 33 derajat, T2 siap melibas rintangan ringan hingga menengah.

Sistem penggerak roda empatnya didukung oleh teknologi BorgWarner yang andal, dilengkapi dengan berbagai mode berkendara yang memungkinkan pengemudi menyesuaikan karakter mobil dengan kondisi jalan yang beragam. Fitur crawl control juga hadir untuk membantu kendaraan bergerak perlahan dan stabil di medan yang menantang. Namun, penting untuk dicatat bahwa Jetour T2 dibangun di atas konstruksi monokok, bukan ladder frame seperti SUV off-road sejati. Ini berarti kemampuannya di medan ekstrem memiliki batas. T2 lebih tepat diposisikan sebagai SUV serbaguna yang sangat mumpuni untuk menghadapi jalan rusak, medan tanah ringan, atau bahkan jalur semi-off-road, bukan sebagai mesin penjelajah gunung yang tak terkalahkan.

Performa Bertenaga dengan Sedikit Catatan

Jetour T2 ditenagai oleh mesin 2.0 TGDi yang mampu memuntahkan tenaga sebesar 245 PS pada 5.500 rpm dan torsi puncak 375 Nm pada rentang 1.750-4.000 rpm. Tenaga impresif ini disalurkan melalui transmisi dual-clutch (DCT) 7-percepatan. Saat mobil sudah melaju, karakter mesinnya terasa sangat responsif dan menyenangkan. Tarikan yang kuat pada putaran menengah hingga atas memberikan cadangan performa yang melimpah, terutama saat melaju di jalan tol.

Namun, karakter bertenaga ini tidak selalu terasa mulus di lingkungan perkotaan yang padat. Dalam kondisi stop-and-go, transmisi dual-clutch terkadang menunjukkan sedikit kekuranghalusan. Respons awal dari kecepatan rendah juga bisa terasa sedikit kikuk, ditambah dengan getaran minor yang sesekali terasa saat berakselerasi dari posisi diam.

Meskipun memiliki dimensi yang besar, Jetour T2 surprisingly tidak terlalu merepotkan untuk dikendarai di dalam kota. Konstruksi monokoknya memberikan sensasi berkendara yang lebih mirip dengan SUV perkotaan modern dibandingkan SUV berbasis ladder frame yang cenderung lebih kaku. Setirnya terasa cukup responsif, memudahkan manuver dan putar balik di ruang terbatas. Pengemudi memang perlu sedikit beradaptasi dengan dimensi bodi dan posisi ban cadangan di pintu belakang yang dapat sedikit membatasi visibilitas ke belakang. Sementara itu, suspensinya cenderung memiliki karakter yang agak kaku, namun hal ini masih dapat diterima mengingat T2 dirancang untuk menghadapi beragam kondisi permukaan jalan.

Lantas, Seberapa Besar Pengorbanan BBM-nya?

Inilah inti dari kompromi yang ditawarkan Jetour T2. Dengan mesin 2.0 liter turbo tanpa dukungan sistem hibrida, ekspektasi terhadap konsumsi bahan bakar yang irit tentu harus dikesampingkan. Dalam pengujian, angka konsumsi bahan bakar di rute perkotaan cukup sulit menembus 9 km/liter. Sementara itu, untuk rute tol, angka sekitar 11 km/liter sudah dapat dianggap sebagai hasil yang cukup baik.

Angka-angka tersebut jelas tidak dapat disebut efisien. Dengan kapasitas tangki bahan bakar 70 liter, pengguna dengan mobilitas tinggi harus siap untuk lebih sering singgah ke SPBU dibandingkan dengan pemilik SUV hibrida. Namun, di sinilah letak pertimbangan utamanya.

Jetour T2 menawarkan paket yang menarik: mesin bertenaga 245 PS, bodi besar yang gagah, kabin yang lapang, fitur lengkap nan modern, kemampuan menghadapi medan non-aspal, serta desain yang membuatnya terlihat jauh lebih mahal dari banderol Rp 588 juta. Jika prioritas utama Anda adalah efisiensi bahan bakar maksimal atau kehalusan transmisi total dalam lalu lintas stop-and-go, mungkin ada banyak pilihan lain yang lebih "rasional" di pasaran.

Namun, bagi mereka yang mendambakan SUV dengan desain yang berani dan mencolok, performa mesin yang kuat, kabin yang lega, fitur berlimpah, serta kemampuan untuk menjelajah jalanan rusak dengan percaya diri, Jetour T2 menawarkan proposisi nilai yang sangat menarik. Pada akhirnya, T2 memang menuntut sebuah kompromi. Konsumen harus bersedia menerima konsumsi bahan bakar yang bukan bintang kelasnya, demi mendapatkan tenaga yang besar, karakter SUV yang kuat, dan sensasi berkendara yang berbeda. Dan bagi mereka yang mencari paket semacam itu, borosnya Jetour T2 masih terasa layak untuk dimaafkan, bahkan mungkin dilupakan sejenak.

Disclaimer

This article was rewritten using AI technology based on information from oto.detik.com without altering the facts of the original article.

Also Read

Tags