Dua Kali Tujuh Gol: Rekor Piala Dunia Lionel Messi yang Sulit Disentuh Cristiano Ronaldo

Bung Kusnaedi

Pagi yang cerah di Miami pada Sabtu, 4 Juli 2026, menjadi saksi bisu bagi terciptanya selembar sejarah baru dalam gelaran Piala Dunia. Dalam sebuah pertandingan yang penuh drama dan ketegangan, bintang sepak bola Argentina, Lionel Messi, berhasil mengukir rekor individu yang diperkirakan akan sangat sulit untuk dipecahkan, bahkan oleh rival abadinya, Cristiano Ronaldo. Pencapaian monumental ini terjadi setelah La Albiceleste sukses menundukkan tim debutan Tanjung Verde dalam babak 32 besar turnamen empat tahunan tersebut.

Pertarungan sengit antara Argentina dan Tanjung Verde di Hard Rock Stadium, Miami, berlangsung jauh dari kata mudah. Tim asal Amerika Selatan itu harus mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mengatasi perlawanan gigih dari pendatang baru di kancah Piala Dunia 2026 ini. Sejak peluit kick-off dibunyikan, intensitas permainan sudah terasa tinggi, dengan kedua tim saling jual beli serangan. Argentina, yang dijagokan, sempat memimpin terlebih dahulu pada menit ke-29. Sosok Lionel Messi, yang kini berusia 39 tahun, menunjukkan kelasnya dengan menuntaskan sebuah peluang emas setelah menerima umpan matang dari rekan setimnya, Lautaro Martinez. Gol pembuka ini seolah memberikan sinyal bahwa Argentina akan mendominasi.

Namun, Tanjung Verde membuktikan bahwa mereka bukanlah lawan yang bisa diremehkan. Dengan semangat juang yang luar biasa, mereka berhasil menyamakan kedudukan melalui Deroy Duarte, memaksa pertandingan berlanjut ke babak perpanjangan waktu. Drama tak berhenti di situ. Argentina sempat kembali unggul berkat gol dari Lisandro Martinez, namun keunggulan tersebut kembali dipupus oleh Sidny Cabral yang sekali lagi menyamakan skor. Atmosfer di stadion semakin memanas, dengan para penonton disuguhkan tontonan yang mendebarkan.

Kemenangan Argentina akhirnya tiba pada menit ke-111, sebuah momen krusial yang menentukan nasib kedua tim. Dari sebuah tendangan sudut yang dieksekusi oleh Messi, bola meluncur deras ke kotak penalti. Cristian Romero berhasil menyambutnya dengan sundulan, yang sayangnya mengenai Diney Borges dari Tanjung Verde dan berujung pada gol bunuh diri. Gol dramatis ini mengakhiri perlawanan heroik Tanjung Verde dan memastikan Argentina melaju ke babak 16 besar dengan skor akhir 3-2. Langkah selanjutnya bagi Lionel Messi dan kawan-kawan adalah menghadapi tim nasional Mesir.

Meskipun harus bekerja keras sepanjang pertandingan karena selalu mendapatkan pengawalan ketat dari lawan, kontribusi Lionel Messi dalam kemenangan ini tidak dapat disangkal. Gol tunggalnya di laga tersebut tidak hanya penting untuk kemenangan tim, tetapi juga menjadi fondasi bagi terciptanya sebuah rekor pribadi yang mengagumkan. Itu adalah gol ketujuh Messi di Piala Dunia 2026 ini, sebuah torehan yang kembali menempatkannya di puncak daftar pencetak gol terbanyak, menjauh dari Kylian Mbappe yang sempat menyamai catatan enam golnya setelah mencetak dua gol saat Prancis mengalahkan Swedia 3-0.

Namun, lebih dari sekadar jumlah gol semusim, gol ke gawang Vozinha pada pagi itu mengukuhkan status Messi sebagai legenda hidup. Menurut catatan dari Opta, sebuah perusahaan statistik sepak bola terkemuka, Lionel Messi kini menjadi pesepak bola pertama dalam sejarah Piala Dunia yang berhasil mencetak minimal tujuh gol dalam dua edisi Piala Dunia yang berbeda. Rekor ini sungguh luar biasa, menunjukkan konsistensi dan produktivitas gol yang jarang terlihat di level tertinggi kompetisi internasional.

Pencapaian ini secara khusus menyoroti kesenjangan yang ada antara Messi dan pesaing-pesaingnya, termasuk megabintang Portugal, Cristiano Ronaldo. Ronaldo, yang juga dikenal sebagai salah satu pencetak gol terhebat sepanjang masa, belum pernah berhasil mencapai tujuh gol dalam satu edisi Piala Dunia. Catatan terbaiknya dalam satu turnamen adalah lima gol, yang ia raih pada Piala Dunia 2018. Ini berarti, untuk bisa menyamai rekor Messi, Ronaldo tidak hanya harus mencetak tujuh gol di Piala Dunia tahun ini, tetapi juga harus mengulanginya lagi di Piala Dunia 2030, sebuah tantangan yang sangat berat mengingat usianya yang juga terus bertambah.

Meskipun secara matematis rekor ini "tidak sepenuhnya mustahil" untuk dipecahkan, realitasnya sangatlah sulit. Menjaga performa puncak dan produktivitas gol di usia yang semakin senja, di tengah persaingan Piala Dunia yang ketat, adalah tugas yang hampir mustahil. Rekor ini tidak hanya menegaskan dominasi Messi dalam hal mencetak gol, tetapi juga menjadi bukti nyata dari konsistensi, kebugaran, dan insting golnya yang tak lekang oleh waktu. Ini adalah sebuah capaian yang akan semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain terhebat sepanjang masa, mengukir namanya dalam tinta emas sejarah sepak bola dunia dengan sebuah rekor yang mungkin akan bertahan untuk generasi mendatang.

Also Read

Tags