Mahasiswa UNISA Bandung Raih Juara Orasi Nasional: Bahas AI dan Stunting

Septian Tono

BANDUNG – Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Bandung patut berbangga. Salah satu mahasiswinya, Rima Melati dari Program Studi Sarjana Keperawatan, berhasil mengukir prestasi gemilang di kancah nasional. Ia sukses meraih juara dalam Lomba Public Speaking Tingkat Nasional bertajuk "Bersinergi dalam Kompetisi, Berkarya untuk Negeri" yang diselenggarakan oleh Universitas Faletehan pada tanggal 27-28 Juni 2026. Pencapaian ini membuktikan kemampuan mahasiswa UNISA dalam mengartikulasikan isu-isu krusial yang relevan dengan perkembangan zaman, mulai dari kecerdasan buatan hingga tantangan kesehatan masyarakat.

Kompetisi bergengsi ini menarik perhatian puluhan mahasiswa dari berbagai institusi pendidikan tinggi di seluruh Indonesia. Pada babak penyisihan, Rima Melati bersaing ketat dengan sekitar 50 peserta lainnya. Hanya sepuluh orator terbaik yang memiliki kesempatan untuk melaju ke babak final, dan Rima menjadi salah satu di antaranya, menunjukkan kualitas dan kedalaman pemikirannya.

Pada tahap awal kompetisi, Rima memilih untuk mengangkat topik yang sangat relevan dengan dinamika global saat ini, yaitu "Kecerdasan Buatan dan Ketimpangan Sosial: Akankah Teknologi Menggantikan Kesempatan?". Dalam orasinya, Rima memaparkan secara mendalam tentang bagaimana perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI) dapat memengaruhi struktur sosial masyarakat, termasuk potensi dampaknya terhadap peluang kerja dan pemerataan kesejahteraan. Analisisnya yang tajam dan cara penyampaiannya yang persuasif berhasil memukau dewan juri, mengantarkannya ke babak final.

Setelah memastikan tempat di babak puncak, Rima dihadapkan pada tantangan baru dengan tema yang berfokus pada kesehatan masyarakat. Ia membawakan orasi berjudul "Dampak Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis terhadap Pencegahan Stunting dan Anemia." Isu stunting dan anemia merupakan permasalahan kesehatan gizi yang masih menjadi prioritas nasional, sehingga pembahasan Rima sangat relevan dan mendesak.

Meskipun waktu persiapan yang tersedia untuk babak final sangat terbatas, yakni hanya satu hari, Rima tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Dengan dedikasi tinggi, ia memanfaatkan setiap momen untuk menyusun materi, memperdalam referensi, serta berlatih secara intensif. Ketekunan ini menjadi kunci baginya untuk dapat menyampaikan gagasan-gagasannya secara optimal di hadapan para juri dan audiens. Keberhasilan Rima melewati keterbatasan waktu persiapan ini menjadi bukti nyata komitmen dan profesionalismenya.

Menurut penuturan Rima, pengalaman mengikuti kompetisi ini jauh lebih berharga daripada sekadar meraih kemenangan. Ia menjelaskan bahwa ajang tersebut tidak hanya menguji kemampuannya dalam berbicara di depan umum, melainkan juga melatih keterampilan berpikir kritis, menyusun argumen yang kuat, dan merumuskan solusi konkret terhadap berbagai isu yang berkembang di tengah masyarakat. Ini adalah bekal penting yang akan sangat berguna bagi karier dan kehidupannya di masa depan.

Pencapaian yang membanggakan ini, lanjut Rima, adalah buah dari proses pembelajaran yang panjang, kerja keras tak kenal lelah, serta dukungan dari berbagai pihak. Ia mengungkapkan rasa syukurnya atas kelancaran seluruh proses yang pada akhirnya membawanya meraih penghargaan di tingkat nasional. Baginya, penghargaan ini bukan semata-mata tentang hasil akhir, tetapi lebih sebagai afirmasi bahwa kesungguhan, upaya maksimal, dan keberanian untuk mengambil setiap peluang dapat menghasilkan sesuatu yang luar biasa, bahkan ketika dihadapkan pada keterbatasan.

Rima juga tidak lupa menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada UNISA Bandung, keluarga, dan rekan-rekannya atas dukungan yang tak putus selama persiapan hingga pelaksanaan kompetisi. Ia menegaskan bahwa fasilitas yang disediakan oleh kampus serta semangat dari orang-orang terdekat menjadi pendorong utama baginya untuk memberikan penampilan terbaik dan membawa nama baik UNISA Bandung di panggung nasional.

Mengakhiri pernyataannya, Rima mengajak seluruh mahasiswa untuk tidak ragu berpartisipasi dalam berbagai kompetisi sebagai sarana efektif untuk mengembangkan potensi diri. Ia menekankan pentingnya tidak takut mencoba, meskipun merasa belum sepenuhnya siap atau khawatir akan kegagalan. Setiap kesempatan, menurutnya, adalah ruang untuk belajar, bertumbuh, dan memperluas cakrawala pengalaman. Ia berharap pencapaiannya ini dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya, berprestasi, dan mengharumkan nama UNISA Bandung, baik di tingkat nasional maupun internasional. Ini adalah langkah awal bagi UNISA Bandung untuk terus mencetak generasi muda yang kritis, adaptif, dan berdaya saing global.

Disclaimer

This article was rewritten using AI technology based on information from republika.co.id without altering the facts of the original article.

Also Read

Tags