Stop Sebar Spoiler! Dari Amarah Penonton hingga Jerat Hukum yang Menunggu

ENSIPEDIA.ID, Kendari – Penghujung tahun merupakan momen yang paling ditunggu-tunggu oleh penikmat film. Ada banyak film yang tayang di akhir tahun seperti ini.

Belakangan ini, jagad media sosial dihebohkan dengan penayangan film produksi Marvel, Spiderman: No Way Home. Film tersebut menjadi perbincangan hangat dan sudah dinanti-nanti sejak lama.

Karena perbincangan yang ramai di media sosial, timbullah sebuah fenomena yang mengulas, membicarakan, bahkan membocorkan alur film garapan Marvel tersebut. ada banyak penikmat film atau penonton yang merasa risih dengan kehadiran spoiler. Ya, spoiler menjadi momok menakutkan bagi beberapa kalangan yang belum menonton film yang dinanti-natikan.

Nah, sebelum kita mengungkap masalah yang ditimbulkan oleh spoiler, mari kita cari tahu terlebih dahulu pengertian spoiler.

Mengenal Spoiler

Spoiler merupakan istilah dalam bahasa Inggris yang sering disebut-sebut oleh penonton film, pembaca buku, atau pembaca komik.

Dalam Kamus Cambridge, dijelaskan bahwa spoiler sebagai informasi dalam artikel surat kabar, blog, dan lain-lain yang memberi tahu Anda apa yang terjadi dalam sebuah program, yang dapat merusak kesenangan Anda jika Anda belum pernah melihatnya.

Secara sederhana, spoiler dapat diartikan sebagai bocoran cerita. Spoiler biasanya berbentuk tulisan, video, gambar, atau keterangan yang dapat membeberkan isi cerita dalam film. Tidak hanya film, spoiler juga kerap terjadi di novel, musik, komik, bahkan event.

Lebih ekstrem lagi, terkadang spoiler disajikan dalam bentuk potongan film yang diambil dari proses pembajakan. Tentunta tindakan ini bisa sangat merugikan pembuat film.

Spoiler Merugikan Penonton

Tak hanya pihak sineas, para pecinta sinema juga banyak yang tidak suka dengan aksi spoiler. Bahkan, ada beberapa kalangan yang akan marah ketika diberi spoiler. Bayangkan ketika kamu hendak menonton atau membaca buku. Namun, teman kamu membocorkan plot film atau novel tersebut. Plot twist yang seharusnya mengejutkan akan menjadi tidak menarik lagi.

Setiap penonton atau pembaca memiliki sensasi “menonton pertama kali”. Membocorkan alur cerita akan menghilangkan sensasi tersebut. Akibatnya, imajinasi yang ditimbulkan oleh penonton akan menjadi berkurang bahkan menghilang.

Seorang profesor kognitif, Case Wetern Reserve University, menjelaskan bahwa spoiler akan membawa penonton pada curse of knowledge atau kutukan pengetahuan. Ia menganalogikan hal tersebut seperti saat bermain teka-teki. Saat seseorang sudah tahu jawaban dari teka-teki tersebut, maka permainan tersebut akan menjadi lebih mudah, tidak menantang, dan tidak menarik lagi.

Menikmati Cerita Tanpa Spoiler

Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Live Science menemukan hasil bahwa spoiler memang tidak merusak alur utama cerita. Namun, dengan adanya spoiler, pembaca atau penonton akan kekurangan sensasi dan mengurangi ketegangan cerita.

Kata seorang peneliti pada studi tersebut mengatakan bahwa efek spoiler selalu berbuah negatif. Walaupun ada hal yang dirusak oleh spoiler, penelitian ini juga menemukan temuan bahwa film yang telah ditonton berulang kali masih bisa memunculkan efek memuaskan yang dihasilkan dari detail cerita, bukan melalui alur utama.

Hasil yang sedikit berbeda ditemukan oleh peneliti di San Diego. Hasil penelitian yang mereka dapatkan ialah spoiler bahkan bisa membuat pembaca lebih menikmati isi cerita. Dari 819 responden yang disuruh untuk membaca buku di paragraf pertamanya berisi spoiler serta buku lainnya dibaca secara normal. Sebagian dari mereka lebih menikmati membaca buku yang telah diberi spoiler.

Jerat Hukum yang Menunggu Tukang Spoiler

Permasalahan berikutnya terlait spoiler adalah isu hak cipta. Terkadang, setelah mendengar spoiler, penonton tidak akan tertarik lagi untuk menonton. Karena mereka sudah tahu akhir dari cerita. Hal ini membuat keuntungan dari pihak produksi menjadi menurun.

Di era digital ini, banyak orang yang membagikan spoiler berdasarkan video-video di internet. Video spoiler yang mereka sajikan bersumber dari proses membajak. Merekam, membagikan, alur cerita film tentunya melanggar UU Hak Cipta.

Seseorang yang melakukan spoiler film dengan cara menyebarkan video rekaman film di bioskop bisa dikenakan pidana dengan UU Nomor 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta dan UU No 11 Tahun 2008 tentang ITE dengan ancaman pidana penjara selama 10 tahun atau denda senilai Rp.4 miliar

Penegakkan hukum dilakukan apabila terdapat indikasi kerugian yang dialami oleh pemegang hak cipta. Kerugian yang dimaksud bisa berupa kerugian materil (turunnya minat masyarakat akibat banyaknya cuplikan film di medi sosial) maupun imateril (mengurangi potensi keuntungan yang didapatkan).

Walaupun demikian, tidak semua spoiler bisa dipidanakan dengan ketentuan mencantumkan sumber secara lengkap dengan keperluan:

  1. Pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah dengan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari pihak Pencipta.
  2. Penyelenggaraan pemerintahan, legislatif, dan peradilan.
  3. Ceramah yang hanya untuk tujuan pendidikan dan ilmu pengetahuan.
  4. Pertunjukan atau pementasan yang tidak dipugut biaya dengan ketentuan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari pencipta.

Kepentingan yang wajar yang dimaksud di atas adalah kepentingan yang berhubungan dengan kepentingan ekonomi si pencipta atau keuntungan yang wajar yang didapatkan oleh pencipta.

Latest articles