Sejarah Dibalik Panasnya El Clasico, Antara Sepakbola dan Politik

ENSIPEDIA.ID, Jember – Jika dalam dunia baseball kita mengenal rivalitas antara New York Yankees melawan Boston Red Sox dan di tinju kita mengenal pertandingan sengit antara Muhammad Ali kontra Joe Frazier, maka di sepakbola kita mempunyai derby panas yang disebut El Clasico, pertandingan yang mempertemukan antara Real Madrid dan Barcelona.

Laga El Clasico selalu dinantikan oleh penggemar sepakbola di seluruh dunia setiap tahunnya. Pertandingan yang penuh drama, intrik, hingga pertandingan yang berjalan dengan keras. Tak jarang beberapa pemain di antara kedua tim yang menjadi “korban” dari keganasan derby ini.

Pertandingan antara Real Madrid dan Barcelona in ternyata tidak hanya rivalitas dalam dunia olah si kulit bundar saja, melainkan berkaitan dengan memanasnya politik yang ada di Spanyol antara rakyat Catalan dengan Pemerintah Pusat Spanyol yang ada di Kota Madrid. Bagi rakyat Catalan, pertandingan El Clasico adalah saat yang pas bagi mereka untuk menuntut kemerdekaan wilayahnya atas Spanyol.

Dahulu kala, Catalonia merupakan sebuah negara yang memiliki, bahasa, budaya, dan identitas tersendiri. Namun, semua itu berubah ketika pada 11 September 1714 Raja Philip V berhasil menaklukan wilayah Catalan dan menyatukan dengan berbagai daerah kekuasaan lain sehingga membentuk negara yang sekarang kita kenal dengan Spanyol.

Selama 200 tahun lebih, Bahasa Spanyol diperkenalkan kepada warga Katalan dan hingga akhirnya menjadi bahasa resmi wilayah tersebut. Bahasa Katalan masih boleh digunakan oleh rakyat setempat karena itu merupakan bahasa ibu mereka, tetapi untuk kepengurusan berbagai dokumen, media, dan sekolah diwajibkan untuk menggunakan Bahasa Spanyol. Kebijakan ini membuat bahasa dan budaya di sana perlahan-lahan menjadi luntur, meskipun tidak hilang secara permanen.

Pada awal; abad 20 an, publik Catalan semakin vokal untuk menuntut kemerdekaan negaranya. Namun, semua itu berhasil diredam oleh Francisco Franco, militan sayap kanan dan konservatif yang kemudian menjadi pemimpin diktator. Salah satu buktinya adalah dengan terbunuhnya Joseph Sunol, aktivis politik sayap kiri yang juga menjadi presiden klub Barcelona. Franco memimpin Spanyol dengan menjadikan ketakutan, tekanan dan kekuatan militer sebagai senjatanya.

Pada masa Franco juga inilah terjadi banyak pemberontakan yang didominasi berasal dari daerah Basque dan Catalan. Namun, pemberontakan tersebut gagal dan justru para pemberontak disiksa, di introgasi agar memberikan informasi penting, lalu dibunuh dengan kejam. Sejak saat itulah, Barcelona bukan hanya sekadar klub sepakbola biasa, melainkan alat perjuangan untuk melawan rezim Franco.

Seakan tidak tinggal diam, Pemerintah Spanyol juga memiliki klub sepakbola Real Madrid yang merepresentasikan Pemerintah Spanyol itu sendiri. Warna putih pada jersey Los Galacticos melambangkan Spanyol yang murni dan bersatu. Mahkota yang ada pada logo klub ibukota Spanyol itu diberikan oleh Raja Alfonso XII yang sudah sangat jelas penafsirannya sebagai “perwakilan” dari Pemerintah Spanyol.

Adapun pada logo dan jersey klub Barcelona selalu mengkombinasikan warna merah, biru, dan kuning yang merupakan warna dominan dari bendera negara Katalan. Hingga kini El Clasico masih menjadi derby terpanas dalam dunia sepakbola dan akan selalu dinantikan drama-drama menariknya

 

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles