Mengenal Ultras, Suporter Militan di Belakang Gawang

ENSIPEDIA.ID, Jakarta – Sepakbola dan suporter merupakan dua hal yang sulit untuk dipisahkan. Bahkan sangking eratnya munculah istilah “pemain ke-12” dalam sepakbola yang ditujukan kepada para penonton yang memberi dukungan kepada tim kesayangannya.

Sulit membayangkan bagaimana pertandingan sepakbola tanpa chant-chant, drum, bendera dan spanduk klub yang dipajang dengan rasa bangga. Menyanyikan lagu dengan sebuah kebanggan, bendera melambai ditiup angin dalam ritme yang sama dan sorak-sorai tampaknya dilakukan dengan cara yang selaras.

Tidak ada keraguan bahwa setiap penggemar olahraga senang melihat klubnya menang dan bersorak untuk timnya memenangkan setiap pertandingan, tetapi mereka berbeda, mereka mendukung klub ke tingkat yang lebih tinggi. Mereka adalah orang-orang yang mengatakan bahwa mereka hidup untuk klub mereka dan akan mati untuk klub.

Kelompok pendukung tersebut dikenal dengan nama “ Ultras ”, sebuah kata yang berasal dari Italia dan sekarang digunakan di seluruh dunia untuk menggambarkan kelompok penggemar yang paling berdedikasi, antusias, setia, dan paling terorganisir.

Sejarah dan Perkembangan Ultras

Asal-usul adanya kelompok suporter ultras masih belum dipastikan dengan jelas — namun menurut beberapa isu yang berkembang — kelompok pertama yang disebut sebagai ultras berasal dari “Torcida organizada” yang didirikan di Brazil dan juga kelompok suporter tim Kroasia Hajduk Split yang bernama Torcida Split.

Meskipun demikian, pada tahun 1960-an budaya ultras berkembang di Italia. Namun pada saat belum disebut ultras. Barulah pada tahun 1969 muncul pendukung Sampdoria menyebut diri mereka sebagai Ultras Tito Cucchiaron. Setelah itu nama dan budaya ultras pada tahun 1970-an pun mendapatkan popularitasnya dan banyak suporter yang menyatakan diri mereka sebagai seorang ultras.

Pada tahun-tahun berikutnya, aktivitas ultras semakin menjadi populer di dunia sepakbola, karena mereka sangat “berbeda” dari suporter pada umumnya. Setelah mendapatkan banyak daya tarik di Italia, ultras berkembang secara pesat di benua biru pada tahun 2000-an.

Kelompok suporter ultras yang terkenal adalah Ultras Frankfurt (Eintracht Frankfurt), Black Army (AIK Stockholm), Ultras Winners 2005 (Wydad AC), Delije (Red Star Belgrade), Fedayn (Napoli), Ultras Green-Boys 05 (Raja Casablanca) dan masih banyak lagi lainnya.

Prinsip Dasar dan Karakteristik Ultras

Dengan seiring berkembang ultras, mereka secara tidak langsung membangun prinsip-prinsip dasar dalam mendukung tim kesayangannya. Adapun prinsip-prinsip dasar yang sangat melekat pada kelompok ultras antara lain:

  • Mereka tidak pernah duduk selama pertandingan
  • Mereka tetap mendukung tim terlepas dari hasil pertandingan
  • Mereka menghadiri pertandingan sebanyak mungkin, entah itu laga kandang ataupun tandang

Upaya untuk membuat suasana di lapangan menjadi menarik dan menyatukan semua orang yang tertarik dengan kegiatan tersebut, dalam perjalanannya, berkembang menjadi sebuah gaya hidup, budaya, sikap dan perilaku. Adapun karakteristik-karakteristik ultras antara lain:

  • Anggota ultras biasanya menutup wajahnya dengan bandana jaket, masker ataupun syal serta berpakaian dominan warna hitam
  • enempati tribun “curva” (belakang gawang), entah itu nord (utara) ataupun sud (selatan).
  • Dipenuhi dengan banyak bendera raksasa dan perkusi pada tribun yang ditempatinya
  • Sangat melekat dengan koreografi-koreografi yang atraktif, chant-chant yang lantang dan kembang api/flare.
  • Terkenal akan sifat pembangkangnya.

Masuknya Ultras ke Indonesia

Tidak diketahui secara pasti siapa pelopor gerakan ultras di Indonesia. Namun, ultras begitu populer di Indonesia saat suporter PSS Sleman yang menempati belakang gawang bagian selatan menyebut diri mereka sebagai Brigata Curva Sud.

Dengan karakterikstik ultras pada umumnya, seperti berpakaian serba hitam, dilarang meniup terompet, harus berdiri sepanjang pertandingan hingga dilarang selfie pun menyertainya. BCS dikenal dengan chants-nya yang indah serta berbagai koreografi yang menarik.

BCS dibentuk pada tahun 2010 oleh lima komunitas pendukung PSS Sleman. Istilah-istilah dunia suporter Italia pun sangat kental dengan Brigata Curva Sud, seperti Ale, Bianco Verde, Vinci per noi, hingga Siamo noi. 

Kini ultras semakin berkembang di Indonesia, banyak suporter yang menyatakan bahwa mereka adalah kelompok ultras, sebut saja seperti Curva Sud Arema, Bomber Ultrasud Familia, Curva Nord 28, Curva Boys Persela 1967, bahkan timnas Indonesia pun memiliki pendukung yang bernama Ultras Garuda.

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles