Mengenal Filosofi Sepakbola Tiki-taka Barcelona

ENSIPEDIA.ID, Jakarta – Dibalik kesuksesan sebuah klub sepakbola terdapat pelatih yang meracik formasi dan strategi. Salah satu pelatih yang sangat terkenal dan dikagumi oleh banyak orang ialah Pep Guardiola.

Pep Guardiola mulai dikenal oleh banyak orang saat ia menahkodai Barcelona pada tahun 2008 hingga 2012 silam. Pep mampu mengantarkan klub Catalan tersebut meraih Sixtuple (6 trofi dalam 1 musim) di tahun pertamanya.

Capaian tersebut tidak hanya sekadar keberuntungan saja, strategi Guardiola yang dikenal dengan sebutan “Tiki-taka” serta dilengkapi dengan pemain yang berkualitas menjadikan Barcelona sebagai raja sepakbola saat itu.

Lalu, seperti apa tiki-taka itu sebenarnya ? Dan bagaimana cara kerja dari strategi ini? Simak ulasannya berikut ini

Apa Itu Tiki-taka?

Tiki-taka merupakan gaya permainan yang mengutamakan pengusaan bola, melakukan umpan-umpan pendek 1-2 sentuhan serta diiringi dengan pergerakan yang dinamis.

Sebutan tiki-taka sendiri diyakini berasal dari seorang penyiar asal Spanyol bernama Andreas Montes pada saat menjadi komentator Piala Dunia 2006 di channel LaSexta.

Dia berkata “Estamos tocando tiki-taka tiki-taka” yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berbunyi “Kami bermain dengan bola tiki-taka, tiki-taka”. Istilah ini merujuk pada permainan La Roja saat itu yang memainkan umpan-umpan pendek cepat.

Sejarah Terbentuknya Tiki-taka

Asal muasal permainan indah ini disinyalir berasal dari sosok seorang Johan Cruyff yang mengadopsi permainan pengusaan bola atau lebih dikenal dengan Total Football saat melatih Barcelona pada tahun 1988 hingga 1996.

Setelah Cryuff meninggalkan kursi kepelatihan, gaya permainan Barca terus dikembangkan oleh pelatih asal Belanda lainnya, Louis van Gaal tahun 1997-2000 dan Frank Rijkaard tahun 2003-2008.

Cara Kerja Tiki-taka

Mereka berusaha untuk menarik lawan mereka keluar dan menciptakan ruang yang dapat dimanfaatkan oleh lini depan, dengan passing dari lini tengah yang mampu menembus pertahanan apapun.

Bagi Guardiola, ini tentang menciptakan kelebihan beban, memaksa pertahanan untuk miring secara tidak merata ke satu sisi sebelum umpan cepat ke sisi lain mengeksploitasi area lemah.

Tiki-taka, tidak hanya mengoper bola dengan cepat di antara pemain, ini tentang pertukaran posisi dan gerakan cerdas yang dapat menciptakan ruang dan jalur umpan untuk dimanfaatkan orang lain.

Dalam penguasaan bola, ini tentang membuat lapangan sebesar mungkin bagi lawan, sambil mengecilkannya sekecil mungkin saat mereka menguasai bola.

Puncak Kejayaan Tiki-taka

Puncak kesuksesan tiki-taka ada setelah Guardiola menggantikan kedudukan Rijkaard sebagai pelatih kepala. Tiki-taka berjalan dengan semestinya berkat dukungan dari gelandang kreatif saat itu, sebut saja Iniesta, Xavi hingga Fabregas.

Barcelona yang saat itu mengkombinasikan pemain-pemain berpengalaman dengan didikan akademi La Masia mampu berbicara banyak di kancah Eropa bahkan dunia.

Blaugrana sukses meraih 3 gelar La Liga, 2 gelar Copa Del Rey, 3 gelar Piala Super Spanyol, 2 gelar UCL, 2 gelar Piala Super UEFA dan 2 gelar Piala Dunia Antar Klub.

Di kancah Internasional, Spanyol mendapatkan keberkahan tersendiri dari kombinasi gelandang Barcelona yang ketiganya kebetulan merupakan warga negara Spanyol.

La Roja berhasil mendominasi sepakbola dunia, mereka memenangkan EURO pada tahun 2008 dan 2012 serta Piala Dunia tahun 2010 di Afrika Selatan.

Apakah Tiki-taka Masih Ada?

Bisa dibilang setelah Guardiola minggat dari Camp Nou dan memutuskan pergi ke Jerman, filosofi tiki-taka lambat laun semakin memudar dan diganti dengan yang lebih modern.

Hal tersebut diperparah setelah Xavi Hernandez memutuskan meninggalkan klub yang ia bela sejak tahun 1997. Dan disusul oleh Andres Iniesta pada tahun 2018 yang juga keluar dari klub.

Sang penciptanya sendiri pun sudah tidak memakainya lagi, Pep Guardiola mengkombinasikan pengusaan bola yang merupakan ciri khasnya dengan gaya sepakbola modern.

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles