Kisah penjudi Oxford yang Sukses Mengelola Klub Bola

ENSIPEDIA.ID, Jember – Matthew Benham merupakan salah satu faktor keberhasilan dari Brentford untuk dapat naik ke kasta tertinggi Liga Inggris, Premier League.

Brentford merupakan tim yang berhasil promosi ke Premier League setelah berhasil memenangi Play Off Divisi Championship 2020/21. Di partai final, Brentford mampu menundukan Swansea City dengan skor 2-0.

Keberhasilan ini mewujudkan penantian panjang The Bees naik ke kasta tertinggi Liga Inggris yang terakhir kali mereka raih 74 tahun yang lalu. Keberhasilan ini tidak lepas dari kecerdikan sang pemilik, Matthew Benham.

Namun, siapa sangka, kecerdikan Benham dalam menyulap Brentford menjadi tim elit merupakan hasil dari pengalamannya selama bertahun-tahun bermain judi bola. Lantas, bagaimana bisa seorang penjudi mampu mengelola sebuah klub yang kini terbilang sukses? Simak penjelasannya di bawah ini.

Sekilas Tentang Matthew Benham

kisah-penjudi-oxford-yang-sukses-mengelola-klub-bola

Matthew Benham merupakan lulusan Oxford University bidang fisika pada tahun 1989. Setelah lulus, ia bekerja di perbankan investasi dan asuransi selama 11 tahun lamanya. Pada tahun 2001, ia bekerja untuk sebuah perusahaan judi, premier bet, di sana ia belajar dengan salah satu penjudi sukses dunia, Tony Bloom.

Namun, beberapa tahun setelahnya ia berselisih dengan Tony Bloom dan menjadi seorang penjudi profesional. Tidak diketahui berapa banyak uang yang ia hasilkan dari judi, tetapi ia mampu membangun perusahaan judinya sendiri yang diberi nama Smartodds.

Perusahaan smartodds merupakan perusahaan yang membantu para klien menggunakan algoritma, statistik, dan penelitian data terkait sebuah pertandingan sepak bola. Dengan bantuan perusahaan tersebut, para klien akan disulap oleh Benham menjadi seorang penjudi olahraga yang sukses.

Kisah Benham Mengakuisisi Brentford

kisah-penjudi-oxford-yang-sukses-mengelola-klub-bola

Brentford merupakan klub profesional pertama di London yang sahamnya dimiliki oleh para suporternya sendiri. Namun, terdapat masalah, dana yang digunakan mayoritas berasal dari pinjaman salah seorang investor ‘misterius’, yakni Matthew Benham.

Pada tahun 2012, para penggemar tidak sanggup untuk mengembalikan uang hasil pinjaman dari Matthew Benham sebesar 700 ribu dollar. Dengan hal tersebut, Benham berhak menjadi pemilik tunggal klub london tersebut

Siapa sangka, dari uang yang hanya 700 ribu dollar, kini Brentford diubahnya menjadi sebuah klub elit yang bernilai 300 juta dollar pada tahun 2021. Kehebatannya dalam mengelola Brentford yang hampir bangkrut kala itu tidak lepas dari pengalamannya sebagai seorang penjudi olahraga profesional.

Konsep Moneyball ala Matthew Benham

kisah-penjudi-oxford-yang-sukses-mengelola-klub-bola

Tidak seperti pemilik klub pada umumnya yang menggelontorkan banyak uang untuk membeli pemain, mengontrak pelatih hebat serta membuat sarana dan prasarana yang baik, Matthew Benham memiliki ide yang berbeda, ia menggunakan konsep moneyball.

Singkatnya, konsel moneyball merupakan konsep yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan besar tetapi dengan modal yang kecil. Pada bidang olahraga, moneyball merupakan cara mengevaluasi pemain berdasarkan data, statistik serta hitung-hitungan matematis.

Adapun konsep moneyball sendiri pertama kali dipopulerkan oleh Billy Beane bersama tim bisbol Amerika Serikat, Oakland Athletic. Karena keberhasilan Beane, kisah tersebut diangkat menjadi sebuah film yang berjudul “Moneyball”.

Untuk menguji konsep moneyball-nya ini, Benham harus berinvestasi terlebih dahulu sebesar 10 juta dollar dengan membeli klub Denmark, FC Midtjylland. Klub Denmark tersebut seakan-akan ia anggap sebagai ‘tumbal’ guna menguji konsep analitiknya. Jika konsep analitiknya berhasil, maka akan dibawah ke Brentford FC. Namun, jika gagal, ia buang ke ‘tempat sampah’.

Matthew Benham mendeskripsikan konsepnya ini seperti perumpamaan di bawah ini, seperti dilansir dari BBC.

“Katakan saja Anda saat ini tengah memantau 2 striker. Salah satu di antaranya dalam 4 laga mendapat 3 peluang dan mencetak 3 gol, sedangkan pemain satunya lagi bermain dengan jumlah laga yang sama mendapat 10 peluang tapi tidak mencetak gol. Manakah yang akan Anda pilih?”

“Semua orang akan mengatakan untuk mengambil pemain yang pertama karena lebih efektif. Sedangkan kami akan mengambil yang kedua karena untuk striker kami tak melihat seberapa efektif dia mencetak gol, namun seberapa konsisten ia menempatkan diri sehingga mendapat banyak peluang dengan kemungkinan mencetak gol lebih tinggi.” ujar Benham

Adapun statistik Benham pada penjelasannya di atas adalah dengan menggunakan Expected Goals (xG) dan Expected Assist (xA). Namun, pemantauan pemain yang ia lakukan berdasarkan statistik tersebut tidak pada liga-liga top Eropa, melainkan liga-liga kecil ataupun liga kasta kedua.

Ia juga jarang merekrut pemain Inggris, karena menurutnya harga pemain Inggris terlampau mahal. Alih-alih merekrut pemain berpengalaman, pemain-pemain yang direkrut Brentford adalah pemain-pemain junior yang masih berusia di bawah 23 tahun.

Adapun hal nyeleneh yang pernah ia lakukan adalah dengan membubarkan akademi Brentford dan membuat tim Brentford B yang berisikan pemain-pemain berusia 17-20 tahun. Para pemain Brentford B merupakan pemain yang dianggap ‘tidak berguna’ oleh tim lain.

Mengapa? Karena Brentford percaya Anda harus memberikan pemain muda setidaknya 35 pertandingan sebelum menentukan nilainya, tetapi tim terkaya di dunia tidak memiliki waktu, kesabaran, atau infrastruktur yang sesuai untuk melakukan itu. Sebagai klub kecil yang mau bereksperimen, Brentford melakukannya.

Bukti Kesuksesan Matthew Benham

kisah-penjudi-oxford-yang-sukses-mengelola-klub-bola

Seperti yang sudah kita singgung di atas, Benham mengelola dua klub sekaligus, yakni FC Midtjylland dan Brentford FC. Bersama FC Midtjylland dan konsep moneyball-nya, Benham mampu mengantarkan tim tersebut menjuara Liga Denmark. Terhitung sejak ia proses akuisisi, FC Midtjylland mampu menjuarai Liga Denmark sebanyak 3 kali dan 1 kali Piala Denmark.

Adapun Brentford FC kini mampu promosi ke kasta tertinggi Liga Inggris dan saat ini bertengger di posisi ke-11. Brentford merupakan tim debutan yang terbaik jika dibandingkan 2 tim promosi lainnya.

Tidak hanya piala saja, bukti kesuksesan Matthew Benham dalam mengelola klub adalah melakukan pembelian dengan harga yang murah dan menjualnya dengan harga tinggi. Said Benrahma contohnya, dulu ia hanya dibeli seharga 1,7 juta euro, akan tetapi Brentford mampu menjualnya seharga 23,1 juta euro kepada West Ham United. Contoh lainnya adalah Olie Watkins, pemain yang saat ini membela Aston Villa tersebut hanya dibeli seharga 2 juta euro dan dijual dengan harga 30 juta euro.

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles