Kisah Lionel Messi yang Berjuang Melawan Kelainan Hormon

ENSIPEDIA.ID, Jember – Siapa yang tidak tau Lionel Messi? Pria kelahiran Rosario, Argentina pada 24 Juni 1987 yang kini dinobatkan sebagai pemain terbaik dunia. Terhitung, La Pulga sudah mengoleksi tujuh penghargaan Ballon d’Or serta enam penghargaan sepatu emas Eropa.

Pemain yang kini membela Paris Saint-Germain itu telah merengkuh banyak trofi dan penghargaan baik secara induvidu maupun tim. Bersama Barcelona, sudah tidak dapat diragukan lagi kontribusinya mengantarkan El Barca menjadi raksasa Eropa yang menakutkan. Ia mampu mengantarkan Barcelona meraih 34 trofi, termasuk termasuk sepuluh gelar La Liga, tujuh gelar Copa del Rey dan empat gelar UCL.

Begitupun ketika bersama dengan Tim Tango, yang terbaru ia mengantarkan negaranya menjuarai Copa America. Messi juga pernah mengantarkan Argentina juara Piala Dunia U-20 tahun 2005 serta Olimpiade musim panas 2008.

Namun, dibalik semua prestasinya yang gilang gemilang tersebut, Lionel Messi menyimpan kisah masa kecil yang pilu, ia menderita kelainan hormon yang membuat pertumbuhannya melambat. Seperti apa kisahnya, simak penjelasannya di bawah ini.

Diagnosa Awal Kelainan Hormon

kisah-lionel-messi-yang-berjuang-melawan-kelainan-hormon

Sejak berusia lima tahun, Lionel Messi sudah bermain sepak bola bersama klub Grandoli, sebuah klub lokal yang dilatih oleh ayahnya. Selanjutnya, Messi memperkuat tim kampung halamannya, Newell’s Old Boys U-19 pada 1995.

Lima tahun setelahnya, Messi kecil didiagnosis menderita kelainan hormon yang membuat dirinya mengalami kelambatan perkembangan jika dibandingkan anak pada umumnya. Hal ini membuat dirinya memiliki tubuh yang paling kecil diantara rekan-rekan satu timnya.

Di lain tempat, salah seorang pemandu bakat sekaligus Direktur Olahraga klub Barcelona, Carles Rexach sedang melakukan scouting ke beberapa tempat. Akhirnya, pilihan Carles Rexach tertuju pada calon mega bintang pada masa mendatang, Lionel Andres Messi.

Rexach yang menemukan bakat dari Messi tersebut juga bersedia untuk membayar pengobatan kelainan hormon yang diderita oleh La Pulga. Hal inilah yang membuat El Barca pada waktu itu difavoritkan untuk mendapatkan sang wonderkid dibandingkan dengan River Plate yang tidak punya cukup uang untuk membayar biaya pengobatan Messi.

Mengetahui hal tersebut, ayah Messi mengadakan sebuah pertandingan uji coba guna meyakinkan sang pemandu bakat. Pada akhirnya, Rexach tertarik dan mengajukan sebuah syarat, yakni Messi harus pindah ke Spanyol dan bermain untuk La Masia (Barcelona Junior).

Karir Lionel Messi di Spanyol

kisah-lionel-messi-yang-berjuang-melawan-kelainan-hormon

Messi pindah D dari Newell’s Old Boys U-19 ke akademi La Masia terjadi pada 1 Juli 2000 dengan status bebas transfer. Kepindahan ini menjadi titik awal perjalanan karirnya sebagai pemain profesional. Di sana ia digembleng oleh tangan-tangan yang profesional.

Empat tahun berselang, La Pulga–julukan Lionel Messi–dipromosikan ke tim Barca B. Adapun debut pertamanya di tim senior terjadi pada 16 November 2003. Frank Rijkaard–pelatih Barcelona pada waktu itu–mempercayakan bocah 16 tahun pada laga persahabatan menghadapi FC Porto.

Setahun berselang, tepatnya 1 Juli 2004, Lionel Messi secara resmi bergabung dengan tim utama Barcelona yang kala itu dinahkodai oleh Frank Rijkaard. Debut pertamanya di liga Spanyol terjadi pada 16 Oktober 2004 kala Barcelona bersua Espanyol.

Beberapa tahun setelah debutnya, Messi bertransformasi menjadi momok yang menakutkan bagi setiap tim lawan. Meskipun tubuhnya tidak terlalu ideal bagi sepak bola Eropa, ia tetap menunjukkan tajinya dengan gocekan-gocekan magisnya.

Kini Messi sudah memasuki masa penghujung karir sepak bolanya. La Pulga kini sudah berusia 34 tahun, mungkin beberapa tahun mendatang kita tidak akan menyaksikannya bermain sepak bola secara profesional dan sentuhan-sentuhan sang bayi ajaib akan selalu dirindukan oleh seluruh pecinta sepak bola.

 

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles