Home Lifestyle Menurut Studi, Nenek Lebih Sayang Cucu Daripada Anaknya Sendiri

Menurut Studi, Nenek Lebih Sayang Cucu Daripada Anaknya Sendiri

121

ENSIPEDIA.ID, Jember – Hubungan antara nenek dan cucu merupakan salah satu ikatan yang sangat istimewa. Sangking istimewanya, terkadang para nenek cenderung lebih sayang kepada cucunya daripada anaknya sendiri.

Sebagai seorang ibu ataupun ayah terkadang bertanya-tanya, ‘bagaimana bisa si kecil dekat dengan neneknya, padahal sama anak sendiri tidak begitu dekat? Mengapa demikian? Simak penjelasannya di bawah ini.

Pertanyaan-pertanyaan ini pernah dilakukan penelitiannya, yaitu oleh para peneliti dari Emory University, Atlanta, Amerika Serikat. Penelitian tersebut melibatkan 50 nenek yang otaknya dipindai menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI). Tujuannya adalah untuk melihat aktivitas otak para nenek tersebut ketika diperlihatkan foto cucunya yang berusia 3 hingga 12 tahun.

Tidak hanya foto cucunya, para nenek juga diperlihatkan foto anak lain yang tidak dikenalinya, orang dewasa lain yang tidak mereka kenali bahkan anak kandung mereka sendiri. Para nenek juga diberikan sebuah kusioner yang berkaitan dengan pengalaman menjadi seorang nenek, berapa lama waktu yang dihabiskan bersama para cucunya serta aktivitas-aktivitas apa saja yang mereka lakukan bersama para cucunya.

Hasil dari penelitian ini pun membuktikan bahwa nayoritas nenek mempunyai hubungan yang positif dengan keterlibatan yang tinggi bersama para cucu-cucunya. Terdapat semacam emotional emphaty yang nampak pada pemindahan otak sang nenek.

James Rilling, salah satu peneliti dari Emory University, mengungkapkan bahwa emotional emphaty tersebut dapat membuat nenek mengetahui apa yang dirasakan oleh para cucu-cucunya saat sedang berinteraksi.

“Jika cucu mereka tersenyum, mereka (nenek) akan merasakan kegembiraan anak itu. Sebaliknya, jika cucu merasa sedih atau menangis, mereka merasakan sakit dan kesusahan dari anak itu (cucunya),” ujar Rilling, seperti dilansir dari kumparan.

Bahkan, dalam kusioner yang sebelumnya sudah diisi oleh para nenek tersebut, mereka memiliki kecendrungan untuk lebih banyak terlibat dalam pengasuhan cucunya.

Sebaliknya, ketika nenek diperlihatkan wajah sang anak, maka muncul empati kognitif di dalam otaknya. Menurut para peneliti yang terlibat dalam penelitian tersebut, para nenek berusaha untuk mencoba memahami secara kognitif aap yang sedang dirasakan oleh anaknya. Namun, sisi emosional ini tidak sebesar ketika mereka diperlihatkan wajah cucunya.

“Anak-anak kecil kemungkinan besar masih mengembangkan karakter emosional yang bisa memanipulasi otak orang dewasa. Sementara, anaknya yang sudah besar (dewasa) tidak memiliki faktor lucu atau menggemaskan seperti saat dirinya masih kecil. Jadi saat anaknya sudah dewasa (besar), mereka mungkin tidak memunculkan respons emosional yang sama,” pungkasnya.