Mengenal Istilah Social Justice Warrior (SJW) dan Konotasinya Saat  Ini

ENSIPEDIA.ID, Kendari – Salah satu dampak dari hadirnya media sosial adalah kebebasan berpendapat. Saat ini, setiap orang bisa saja mengetikkan apa saja di time line social media mereka masing-masing. Tak terkecuali terkait  permasalahan-permasalahan yang cukup kritis seperti permasalahan keadilan sosial. Belakangan ini, jagad maya sering sekali menggunkan istilah social justice warrior atau SJW. Kehadiran SJW merupakan buntut kebebasan akses informasi, karena dengan media sosial, orang-orang akan lebih mudah mendapat informasi dan menyuarakan informasi. Namun, konotasi yang sering didengar terkait SJW cenderung negatif.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Padahal dari namanya saja, SJW terlihat seperti para pembela kebenaran. Mari kita bahas bersama-sama.

Berkenalan Dengan Istilah Social Justice Warrior (SJW)

Secara harfiah, social justice warrior dapat diartikan sebagai “pejuang keadilan sosial”. Dalam hal ini, para SJW tentunya bercita-cita untuk mewujudkan sebuah keadilan sosial. Maka dari itu, banyak SJW yang membela dan memperjuangkan suara-suara kaum minoritas.

Berbicara tentang keadilan sosial, tentunya Indonesia sangat dekat dengan isu tersebut. Bahkan keadilan sosial merupakan salah satu asas di dalam Pancasila. Apalagi di era keterbukaan informasi saat ini, ketika setiap orang bebas berpendapat dan mencurahkan pikiran. Kehadiran media sosial dan isu keadilan sosial menjadi landasan banyaknya SJW di Indonesia.

Istilah SJW sendiri tentunya diadaptasi dari budaya internasional.  Istilah ini pertama kali di tuliskan dalam sebuah artikel di The Washington Post pada tahun 1991. SJW pada saat itu digunakan sebagai label yang diberikan kepada orang-orang yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap isu keadilan sosial, tentunya dalam arti yang positif. Seorang Kepala Kamus Amerika Serikat yang bekerja di Oxford University Press berpendapat bahwa SJW merupakan istilah yang diberikan sepada seseorang sebagai wujud penghormatan sekaligus menjadi pembesar nama seseorang.

Seseorang di generasi awal yang mendapatkan sebutan SJW ialah Michel Chartrand, seorang yang menentang ketidakadilan yang ada di Masyarakat. Ia mendapat gelar tersebut pada tahun 1991. Selanjutnya pada tahun 1998 sebutan ini juga diberikan kepada para anggota gerakan Homeless Action Coalitio yang membela dan memperjuangkan kepentingan tunawisma.

Jika melihat dan mendengar kisah-kisah SJW di masa lampau, juga mengetahui definisi dari SJW, seharusnya gerakan ini sangatlah mulia. Namun, mengapa SJW saat ini cenderung berkonotasi negatif?

Konotasi Negatif SJW

Sejak dahulu, pemberian gelar SJW memanglah kurang disepakati oleh beberapa pihak. Pasalnya, para SJW hanyalah sekolompok orang-orang yang hanya peduli dengan isu yang dibawanya, bertingkah serba benar, dan terkadang membawa permasalahan kosong.

Namun saat ini, peyorasi makna SJW semakin menjadi-jadi karena SJW menjadi istilah untuk meledek orang-orang  dianggap memiliki pemikiran yang terlampau progresif dibanding lingkungannya.

Belum lagi terkait keterbukaan informasi di media sosial yang di awal disinggung. Jika melihat perdebatan-perdebatan di media sosial terkhusus di Twitter, maka tak sedikit debat yang diakhiri dengan “meng-SJW-kan” lawan bicara.

Seperti yang bisa disaksikan sendiri di media sosial,  banyak aktvis-aktivis dadakan yang membawa isu-isu kosong, berpendapat tanpa riset, dan asal ngomong hal-hal viral semata. Mereka terkadang memandang isu secara setengah-setengah tergantung informasi yang di dapatkannya di media sosial saja. Dengan teriakan kosong tersebut, jadilah istilah SJW menjadi negatif dan kadang digunakan untuk meledek orang-orang yang berlagak aktivis.

Dalam dunia politik di Indonesia, SJW hadir sebagai golongan ketiga selain golongan cebong dan kampret. Jika kedua golongan tersebut terlalu ekstrem ke kubu pemerintah atau oposisi. SJW menjadi golongan independen yang ekstrem. Mereka dicap sebagai orang-orang yang terlalu nyiyir dan merasa paling benar. Politikus Indonesia, Luhut, bahkan memberi mereka sebutan sebagai orang-orang yang kurang kerjaan.

Belum lagi melihat para SJW yang hanya mengikuti tren saja. Mereka membela keadilan karena dasar sedang tranding topic saja, bukan berdasarkan keyakinan dalam hati. Aktivis sosial harusnya bergerak sesuai hati nurani, mereka mengatakan ketidakadilan pada ketidakadilan yang sesuai dengan realita lapangan, bukan realita media sosial.

Para SJW yang Sesungguhnya

Dengan adanya label konotasi negatif terkait SJW. Terkadang orang-orang yang mengangkat isu keadilan sosial secara serius ikut terkena imbasnya. Padahal mereka membawa data secara valid dan ingin membahasnya secara objektif. Namun, karena label SJW yang disematkan menjadikan suara mereka tidak terdengar.

Ya, begitulah. Orang-orang di media sosial terkadang terlalu cepat menilai orang lain. Jenis pengguna media sosial seperti itu juga tak berbeda jauh dengan SJW  dadakan.

SJW yang sesungguhnya ialah orang-orang yang percaya bahwa  keadilan sosial harus tercapai. Tentunya gagasan tersebut harus dibarengi dengan langkah nyata tanpa menjatuhkan pemahaman yang tidak sejalan dengannya. Para SJW atau aktivis sosial haruslah bergerak memberikan pemahaman secara efektif dan berusaha agar gagasan yang dibawanya bisa tersampaikan secara menyeluruh dan tidak menjadi konsepsi yang buruk di mata masyarakat.

Latest articles