Yuk Kenali 5 Tipe Memori Pada Manusia

ENSIPEDIA.ID – Apa jadinya manusia tanpa memori? Mungkin kita hanya akan menjadi seonggok daging yang berkeliaran di atas bumi. Ataukah mungkin lebih parah, tanpa memori kita bisa s5 aja tidak akan menjadi sebuah makhluk. “Cogito ergo sum—aku berpikir maka aku ada,” kata Descartes. Bagaimana cara kita berpikir tanpa memori? Sangat sulit untuk dibayangkan. Sayangnya kita tidak akan membahas tentang eksistensi dan hakikat memori. Pada kesempatan ini, kita akan membahas tentang lima tipe memori yang digunakan oleh otak manusia. Yuk, kita bahas.

Menurut seorang ahli saraf, Dr. Murray Grossman bersama koleganya dalam Pusat Medis Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat, mereka membagi memori menjadi lima, yaitu memori kerja (work), memori implisit (implicit), memori jangka panjang (remote), memori episodik (episodic), dan memori semantik (semantic). Kelima tipe memori tersebut bisa disingkat menjadi WIRES.

1. Memori Kerja (Work)

Sesuai namanya, memori ini aktif saat kita melakukan/membicarakan sesuatu dan bertahan hanya beberapa detik lamanya. Memori kerja biasa disebut juga memori jangka pendek. Misalnya saat kita sedang berbicara, work memory aktif bekerja saat awal percakapan hingga akhir percakapan. Begitu pula saat mendengarkan berita, hanya beberapa gagasan penting yang akan tersimpan di memori jangka panjang, selebihnya akan pudar begitu saja bersama work memory.

2. Implisit (Implicit Memory)

Pernahkah kamu lupa cara mengendarai sepeda? Atau lupa cara menggunakan gunting dengan baik dan benar? Jika pernah, selamat memori implisit kamu sedikit bermasalah. Memori implisit akan menyimpan keterampilan yang kita pelajari (kemungkinan) secara permanen serta penggunaanya juga akan diinstruksikan oleh otak secara otomatis. Misalnya saat mengendarai mobil, tangan dan kaki kita tanpa disuruh lagi akan melakukan tugasnya untuk mengemudi dan menginjak rem. Ya, semuanya berlangsung secara otomatis seperti saat kita sedang bernapas (ups, sekarang kamu bernapas secara manual lagi).

3. Memori Jangka Panjang (Remote)

Untuk mengingat tanggal kejadian, nama seseorang, ibu kota negara, dan ilmu pengetahuan lainnya, kita membutuhkan memori ini. Remote berfungsi untuk menyimpan segala akumulasi data yang kita peroleh dari berbagai topik yang begitu luas. Kehilangan ingatan jangka panjang adalah salah satu ciri bahwa kita telah lanjut usia. Memori ini pula yang sering diasah ketajamannya.

4. Memori Episodik (Episodic)

Apakah Anda masih ingat tentang pengalaman masa kecil? Memori ini menyimpan informasi mengenai pengalaman pribadi yang terikat secara emosional. Seperti halnya mengingat cita rasa nasi goreng buatan emak. Walaupun sudah mencoba puluhan resep nasi goreng akang-akang pinggir jalanan ataupun di restoran bintang lima, tetapi mungkin saja nasi goreng buatan tangan ibu lebih membekas di ingatan. Ini juga yang menjelaskan kenapa para penonton/pecinta sepak bola selalu gagal move on dengan angka gol kemenangan/kekalahan tim yang didukungnya.

5. Memori Semantik (Semantic)

“Merah artinya berhenti; kuning artinya hati-hati; dan hijau artinya jalan.” Ya, begitulah kita mengingat arti dari warna lampu lalu lintas. Memori semantik akan menyimpan informasi mengenai makna kata ataupun simbol. Saat merujuk kepada hewan yang berkaki empat dan bersuara “meow” pasti otak kita akan memanggilnya sebagai seekor “kucing”. Memori semantik sama halnya dengan memori implisit, kemungkinan besar tidak akan terhapus dari ingatan.

Itu tadi kelima tipe memori. Apakah kamu kehilangan salah satu di antaranya? Jika kamu masih bisa membaca tulisan ini dari awal sampai akhir, selamat, memori kamu masih normal dan baik-baik saja. Salam literasi.

_______________
Trivia:

70% dari apa yang kita pelajari hari ini akan terlupakan dalam jangka waktu 24 jam. Maka dari itu, lakukan upaya mengingatnya.
_______________

Referensi:

[1] Elita, R.F.M. ___. “Memahami Memori”. Diakses melalui http,//pustaka,unpad,ac,id/wp-content/uploads/2009/01/memahami_memory,pdf pada 22 Agustus 2021.

[2] Rose C., & Nicholl, M. J. 2019. Revolusi Belajar Abad 21. Bandung: Nuansa Cendikia.

Latest articles