Mengenal Mixed Anxiety-Depressive Disorder

ENSIPEDIA.ID, Jakarta – Pernahkah kamu merasakan kecemasan dan sedih pada satu waktu? Ya, kamu bisa saja mengalami hal itu keadaan ini disebut juga dengan mixed anxiety-depressive disorder atau gangguan campuran anxietas dan depresi.

Apa itu MADD?

Gangguan campuran kecemasan dan depresi dalam satu waktu merupakan keadaan ketika kecemasan yang terjadi beriringan dengan perasaan stress atau depresi yang secara berlebihan hingga tidak dapat didiagnosis secara terpisah.
Dikutip dari advisory of mental health, seseorang dengan MADD memiliki tingkat tekanan setara dengan orang-orang yang mengidap kecemasan dan depresi. Hal ini secara general banyak dirasakan oleh masyarakat Hongkong sebesar 7% seperti yang dikemukakan oleh advisory of mental health.

Apa Gejala MADD ini?

Gejala yang ditampakkan oleh orang dengan MADD hampir mirip dengan orang yang memiliki kecemasan dan depresi, namun dengan tingkatan yang tidak terlalu parah. Yang Gika paparkan di bawah adalah gejala sebelum diperiksa oleh ahli atau psikolog/psikiater yang mungkin Anda rasakan.

Gejala Fisik

  • Mudah letih;
  • Mudah berkeringat;
  • Gemetar dan tegang otot; dan
  • Tekanan darah dapat meningkat.

Gejala Emosi

  • Sulit untuk tenang atau relax; dan
  • Penurunan minat pada aktivitas yang biasanya digemari.
Hal lain yang menunjukan MADD’s person adalah kualitas tidur yang terganggu.
Jikalau menurut psikolog klinis, maka dapat diassesment menggunakan kriteria diagnosis ICD 10 yang menunjukan gejala sebagai berikut:

Gejala Kecemasan, antara lain:

  • Sulit fokus dan khawatir berlebihan;
  • Tidak dapat tenang, sakit kepala, gemetar; dan
  • Berkeringat, susah bernafas, diare, pusing ataupun mulut kering serta keluhan yang berkaitan dengan lambung.

Gejala Depresi, yakni:

  • Suasana hati murung/sedih;
  • Tidak minat akan aktivitas yang disukai;
  • Tidak dapat tidur dengan nyenyak;
  • Mudah capek;
  • Feeling guilty;
  • Pesimis akan sesuatu; dan
  • Gangguan pada pola makan.
Biasanya, setelah diobservasi maka ada tindakan lanjutan dari psikolog klinis atau dokter sesuai dengan gejala yang muncul.

Apa Penyebab MADD ini?

Dikutip dari dictio,com, prognosis atas MADD ini sendiri adalah bonam atau tidak dapat diketahui.

Bagaimana Cara Men-treat MADD’s Person?

Dikutip dari dictio,com, ada beberapa cara jika mengikuti kaidah psikolog klinis dalam membantu orang yang terdiagnosis MADD—namun, hal yang paling umum adalah dukungan dari keluarga agar bisa bangkit dari keadaan yang sedang dirasakannya kemudian.
Tahapan lain untuk membantu berdasarkan psikolog klinis adalah:

Non farmakologi

1. Konseling
Dalam tahap ini, pasien akan diberikan konseling dan edukasi juga pada keluarga si pengidap MADD seperti memberikan support positif, menghidari penyebab stres, jangan halangi kegiatan positif yang dilakukan si pasien serta jika diresepkan obat, maka peran keluarga dapat sangat membantu mengawasi pasien untuk teratur dalam mengkonsumsi obat yang diberikan.
2. Intervensi Psikososial
Dalam tahap ini ada beberapa fase yang bisa membantu si pasien yakni:
  • komunikasi terapeutik yang diharapkan dalam membuat pasien nyaman dan mengkomunikasikan gejala serta apa yang dirasakan olehnya;
  • menjelaskan apa yang dirasakan pasien secara fisik dan psikologis;
  • jika diperlukan dibuatkan jadwal untuk terapi lanjutan;
  • memberikan teknik nafas dalam atau relaksasi;
  • memberikan nasihat untuk melakukan aktivitas positif atau semisal olahraga; dan
  • mengajarkan cara manajemen stres dan berpikir lebih positif.

Farmakologi

Tahap ini pasien akan diresepkan obat sesuai dengan diagnosis yang ada.
Yang terakhir adalah kriteria rujukan jika selama terapi beberapa bulan, pasien tidak ada perkembangan dan menolak kooperatif untuk sembuh serta ada tindakan untuk mencelakakan dirinya atau ada timbul gejala depresi yang lebih parah.

Klasifikasi Gangguan Cemas atau Anxietas

Gangguan Anxietas Fobic antara lain:

– agoraphobia;
– fobia sosial; dan
– fobia spesifik.

Klasifikasi lainnya meliputi:

– gangguan panik;
– gangguan cemas menyeluruh; dan
– gangguan obsesif kompulsif.
Jika teman-teman merasakan hal-hal di atas, sebaiknya hindari self-diagnosis karena hal itu tidak sama sekali membantu. Sebaiknya hubungi dokter atau psikolog klinis terdekat atau bisa melalui jasa dokter online dan semisal lainnya agar dapat membantu meringankan apa yang dirasakan.

Latest articles