Membahas Lebih Lanjut Dampak dari Feminisme dan Toxic Masculinity

ENSIPEDIA.ID – Toxic Masculinity adalah keadaan di mana pria diharuskan tumbuh sesuai kodrat masyarakat. Kodrat masyarakat di sini biasanya melebih-lebihkan pandangan tentang ke jantanan terhadap pria. Di mana pria dipandang sebagai sosok yang kuat, agresif dan tidak memiliki emosi. Padahal, pria juga memiliki batasan atas hal-hal tersebut.

Sedangkan pengertian Feminisme dalam KBBI, adalah suatu gerakan perempuan yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum laki-laki dan perempuan.

Baik toxic masculinity atau feminisme ini sendiri, sebenarnya merupakan hal bermanfaat dan lumrah yang tidak berbahaya apabila diterapkan sesuai dengan porsinya masing-masing dan tidak berlebihan. Namun seperti yang saya katakan sebelumnya, di masyarakat kita masih menganut sebuah paham dengan terlalu berlebihan.

Misalnya saja, masculinity ini. Beberapa pria dalam survei saya mengatakan, masculinity ini sebenarnya wajar di terapkan namun tidak berlebihan dan tidak bersifat universal. Karena hal ini memiliki batasan dan bisa memberikan dampak, entah itu dampak positif atau negatif. Paham masculinity ini ada sejak dahulu kala, di mana dampaknya melahirkan orang-orang hebat dan kuat seperti tokoh pahlawan bahkan raja-raja. Dampak lainnya, pria menjadi lebih dewasa dan mengerti perbedaan antar wanita dan pria, yang mana kala pria bisa menjadi sosok pelindung.

Memandang perempuan rendah, pekerjaan perempuan itu sampah, maraknya kekerasan kepada perempuan karena notabene-nya lemah, perbudakan seks untuk perempuan karena perempuan itu hanya beban. Sisi negatif itu yg gw anggep berlebihan dan melenceng dari tujuan sebenernya masculinity ini.  Dan dampak yang paling berkesan ya, toxic masculinity merasa bahwa laki-laki lebih tinggi daripada wanita dan mereka menganggap kekuatan fisik mereka lebih besar sehingga mereka melakukan kekerasan bahkan semena-mena terhadap wanita. “Sisi negatif masculinity kata Bapak Yutra Ulinnuha.

Menurut aku, toxic masculinity ga baik. Namanya aja toxic, wkwk. tetapi, pernyataan cowo harus kuat, itu bener. Yang kurang tepat adalah ketika definisi ‘kuat’ yang disandarkan pada cowok itu diartikan dengan ‘tidak pernah menangis’, totally wrong gitu, wkwk.

Dasarnya, manusia emang punya emosi, laki-laki juga manusia kan ekekek. Entah itu emosi bahagia, marah ataupun ‘sedih’. Nah, cara orang melampiaskan kesedihannya itu juga bisa berbeda.Sometimes, nangis bikin lega. Yaudah nangis aja. Termasuk cowo, wkwk.

Cuma kadang emang beberapa orang atau ortu suka bilang ‘jangan nangis, kamu cowo’ untuk menenangkan anak kecil dengan cara instan. Kurang baik, sih. kalau kita ngelakuin kaya gitu, dan maybe dampaknya anak kurang bisa atau merasa terbatasi untuk mengekspresikan emosinya.Toxic masculinity menurut Kak Dethan. 

Kalau ada yang bilang ‘cowo kok nangis?’ gua gebuk ajg yang bilang. Terus gua bilang, ortu lu gua b*n*h lu nangis kaga?Toxic masculinity oleh some stranger.

Sama halnya dengan feminisme. Feminisme ini bisanya menjadi sesuatu yang melindungi wanita dan menaikkan derajat wanita di mata masyarakat jika diterapkan dengan porsinya sendiri.

Kembali ke zaman dahulu, di mana wanita di pandang rendah dan pekerjaan wajibnya hanya dapur, sumur dan kasur. Wanita hanya bekerja sebagai pembantu dan pemuas nafsu suaminya, pun tidak diizinkan untuk bersekolah atau mengembangkan karirnya.

Di sinilah fungsi feminisme. Di indonesia sendiri melalui Ibu Kartini, derajat wanita perlahan-lahan naik dan keberadaan wanita mulai bisa diterima dan mendapat pandangan di masyarakat saat wanita bersuara.

Baca juga : Kenali Charm Point atau Titik Pesona Pada Dirimu – Ensiklopedia Bebas (ensipedia.id)

Namun berbeda halnya dengan masculinity yang terlalu berlebihan, feminisme di zaman sekarang mulai memudar dan bahkan tidak diterima di masyarakat. Ini juga merupakan dampak dari masculinity yang terlalu berlebihan yang menganggap perempuan lebih rendah dan tidak pantas untuk bersuara. Hal lainnya menganggap wanita dalam paham feminisme adalah wanita pemberontak yang berusaha melanggar tradisi-tradisi lama yang diwariskan secara turun temurun.

Padahal tujuan feminisme tidak seperti itu dan bahkan feminisme sendiri jika di terapkan dengan baik akan memberikan dampak yang sangat besar. Misalnya saja; menekankan angka putus sekolah, meminimalisir kasus pernikahan dini atau bahkan perempuan bisa memilih jalan hidupnya sendiri.

Perempuan dengan pemikiran terbuka itu tidak terlalu buruk dan laki-laki dengan emosinya juga bukan merupakan aib.

Latest articles