Budaya La Sape, Gaya Hidup Rela Miskin Demi Pakaian Branded

ENSIPEDIA.ID, Jember – Berpenampilan menarik dan mengenakan pakaian yang tren dan branded merupakan sebuah keharusan bagi kebanyakan masyarakat saat ini. Terutama bagi mereka yang biasanya disebut dengan crazy rich maupun kalangan remaja yang memiliki penghasilan di atas rata-rata.

Namun, di negara Kongo terdapat sebuah komunitas yang bernama La Sape, kumpulan orang yang kurang mampu tetapi memiliki gaya hidup bak konglomerat yang kemana-mana selalu memakai pakaian mewah dan berasal dari merek ternama.

Asal Mula Budaya La Sape

budaya-la-sape-gaya-hidup-rela-miskin-demi-pakaian-branded

Kata La Sape berasal dari akronim berbahasa Perancis, yakni La Société des Ambianceurs et des Personnes Élégantes (Masyarakat Ambianceur dan Orang Elegan). Adapun orang-orang yang tergabung dalam komunitas ini disebut dengan Sapeur yang berarti “berpakaian dengan kelas”.

Asal muasal terciptanya La Sape berasal pada masa penjajahan Prancis terhadap Republik Kongo dan Republik Demokratik Kongo. Pada masa tersebut, Prancis membudayakan orang-orang Afrika dengan memberikan mereka pakaian bekas Eropa atas pelayanan mereka.

Di negara Republik Demokratik Kongo, budaya La Sape menjadi gerakan sosial pada tahun 1970 yang dicetuskan oleh musisi Papa Wemba di Kinshasa, ibukota Republik Demokratik Kongo.

Papa Wemba mempopulerkan budaya La Sape menekankan pada pakaian yang berkelas pada masyarakat Kongo. Tujuan Wemba adalah untuk melahirkan perlawanan rakyat terhadap Presiden Mobutu Sese Seko yang melarang warganya berpakaian gaya kebarat-baratan.

Sedangkan di Negara Republik Kongo, budaya La Sape disinyalir berasal dari salah seorang remaja Kongo yang pindah ke Perancis, yakni Jean Marc Zeita. Ia membentuk imigran muda asal Kongo yang diberi nama Aventuries. Dalam perkumpulan ini, anggota-anggotanya meniru pakaian orang setempat dan kemudian dibawa pulang ke kampung halamannya.

Rela Tak Makan Demi Terlihat Menawan

budaya-la-sape-gaya-hidup-rela-miskin-demi-pakaian-branded

Orang-orang yang tergabung dalam komunitas La Sape ini memiliki “prinsip” untuk memakai pakaian branded dan tidak menggunakan barang yang KW. Sudah pasti tentu budaya ini menguras banyak uang bagi penganutnya. Bahkan mereka rela tidak makan dan miskin untuk tetap memenuhi kebutuhannya dalam membeli pakaian branded.

Setiap akhir pekan, biasanya para sapeurs berkumpul di tepi jalan yang biasanya terletak di kerumunan banyak orang. Di sana mereka memamerkan busana-busana mewah yang dikenakannya. Tujuannya adalah bukan untuk melihat siapa yang memiliki penampilan terbaik, tetapi mereka hanya ingin mendapatkan pengakuan dari banyak orang bahwa mereka keren.

Keberadaan La Sape ini sangatlah kontras dengan kondisi yang ada di Negara Kongo maupun Negara Republik Demokratik Kongo. Meskipun kedua negara tersebut mengandung banyak emas, tetapi memiliki masalah yang serius pada kemiskinan, kesulitan air bersih hingga permasalah gizi pada anak.

 

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles