Stand Up Comedy, Panggung Kritik Berkedok Komedi

ENSIPEDIA.ID, Jakarta – “Di Malang itu saya suka menonton Arema di stadion dan aremania itu disana itu sudah ada kubu-kubunya, ada arema tribun utara, tribun selatan, tribun ekonomi, manajemen, akuntansi macam-macam”. Ujar Abdur Arsyad

“Paling tidak enak kalau kalian itu nonton dari tribun timur karena di tribun barat itu nonton pake lampu dengan cahaya terang kelap kelip dimana-mana, tapi di tribun timur itu masih gelap listrik tidak ada ”. Imbuhnya

“Di tribun barat itu di kasih kursi, dikasih sofa, makan enak-enak, tapi di tribun timur masih beralaskan tanah makan seadanya”. Pungkasnya

Sekilas, itu merupakan ‘lawakan’ biasa-biasa saja yang membuat orang tertawa. Namun, dibalik kelucuannya, menyimpan sebuah kritik sosial terhadap pemerintahan yang belum meratanya pembangunan di Indonesia Timur.

Abdur Arsyad sebagai orang timur–tepatnya Larantuka,NTT–ingin menyampaikan keluh kesahnya terhadap tidak meratanya pembangunan, yang dibalut dengan sebuah candaan atau komedi. Bagaimana orang-orang ‘barat’ hidup dengan segala kemewahan, dan orang timur yang masih susah mendapatkan aliran listrik serta kesulitan memperbaiki taraf hidup.

Sekilas Tentang Stand Up Comedy

Stand Up Comedy memang saat ini sedang populer dikalangan masyarakat Indonesia, bahkan sampai dibuatkan sebuah kompetisi dalam hal ini adalah Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) maupun Stand Up Comedy Academy (SUCA). Stand Up Comedy dinilai lebih simpel dan tidak memerlukan banyak properti jika dibandingkan dengan lawakan jadul.

Lawakan seperti ini biasanya dilakukan dengan cara monolog–walaupun pada kondisi tertentu berinteraksi dengan audiens–mengenai sebuah topik tertentu yang dibuat secara orsini. Orang yang melakukan Stand up comedy disebut dengan Komika.

Materi-materinya pun beragam, tergatung dari latar belakang orang membawakan Stand up comedy, ada yang membahas tentang pesantren karena dia dulu adalah seorang santri, ada yang membahas tentang petani dan sawah karena pekerjaan utamanya menjadi seorang petani, ataupun membawakan isu-isu pemerataan pembangunan yang terutama dibawakan oleh komika dari Indonesia timur.

Stand Up Comedy Sebagai Sarana Ungkapan Keresahan

Ini merupakan dasar daripada sebuah Stand Up Comedy, keresahan yang dibawakan oleh komika atas permasalahan yang sedang ia alami. Bagaimana keresahan-keresahan tersebut dapat dituangkan dengan sebuah humor. Contoh saja pada Stand Up-ny Ernest Prakasa

“Nama gue Ernest dan gue Cina, walaupun gua bingung dari kecil selalu dikata-katain ‘Cina-cina’, mereka tau darimana gue Cina ya (penonton tertawa) mungkin karena mata gue sipit ya.”

“Jadi Cina di Indonesia lu dapet beban tau ga, beban mental ekspektasi-ekspektasi orang gitu ya, aneh-aneh, gue pernah lagi ama temen gue nih naik mobil, terus ngelewatin tukang martabak, temen gua bilang gini ‘eh man, mampir yuk beli martabak’, temen gue bilang apa? ‘lu mau beli martabak? Jangan yang ini, tuh deket tukang tambal ban enak, yang jual Cina.'”

Dalam konteks ini, tentu saja penggunaan dari kata “Cina”, jika si penjual Cina, apakah memiliki efek tertentu dari sebuah enaknya Martabak? Hal ini yang menjadi sebuah keresahan dari Ernest Prakasa karena dia adalah keturunan Tionghoa.

Kritik Politik Berbalut Komedi

Stand Up Comedy terkadang juga dijadikan alat dalam mengkritik pemerintah dalam bentuk satire, isu-isu yang diusung pun beragam, ada yang mengangkat isu korupsi yang dilakukan oleh anggota DPR, masih banyak jalan yang rusak, pembangunan yang tidak merata terutama di Indonesia Timur, pasokan listrik yang belum menyeluruh dari Sabang sampai Merauke dan masih banyak lagi lainnya.

Momen kritik politik berbalut komedi ini pernah menjadi materi utama peserta dalam kompetisi Stand Up Comedy Academy Indonesia (SUCI), diantaranya adalah Dzawin Nur Ikram, Abdur Arsyad, Dodit Mulyanto ataupun David Nurbianto

“Teman-teman disini ada yang tau Rokatenda? Tidak ada? Inilah suara minor yang mau saya bawa malam ini. teman-teman Rokatenda adalah gunung merapi di pulau Flores, dia meletus dari bulan dari bulan Oktober 2012 sampai Desember 2013, 14 bulan, bahkan dari pertama kali dia meletus sampai dia ulang tahun yang pertama, tiup-tiup lilin tidak ada kado yang datang…tidak ada”

“wajar kalau teman-teman tidak tahu, karena memang berita Rokatenda meletus pada waktu itu tertutup oleh berita banjir Jakarta, bahkan banjir Jakarta itu diarahkan menjadi bencana nasional karena merugikan Negara hampir 20 triliun. Rokatenda selama 14 bulan meletus itu Negara cuma rugi 1000 rupiah…iya dua koin lima ratus tutup telinga”

Abdur memang dikenal sebagai komika yang cerdas dengan mengkritik secara satire, kali ini dia mengangkat isu Gunung Rokatenda yang tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah dan terlalu menganakemaskan kota-kota besar.

“DPR itu kan tugasnya untuk mendengarkan suara rakyat, aspirasi rakyat, tapi gimana caranya DPR mendengarkan suara rakyat ketika DPR dihalangi oleh tembok yang begitu tinggi, ke kantor itu pakai Camry..ya kan?. Seharusnya DPR itu bukan diletakan di Senayan, tapi di tengah-tengah pasar..iya..di pasar(suara tepuk tangan penonton). Di pasar itu kan segala macam ada kan? Dari tukang ayam sampai tukang cabe…ayam kampung cabe-cabean ..iya kan. Ada gitu…dari gembel ngemis sampai gembel ngelem, ada men.

“Biasa ke kantor pakai Camry, ini jalan kaki..pas lagi jalan ketemu preman tapi nggak akan di palak, ya kali preman pasar malak preman negara… Lu tau kan preman pasar itu. ‘woe siapa lo?…tukang daging bang…duit..duit, woe siapa lo?… anggota dewan..duiiittt… Kenapa kok saya gak jadi dipalak?…maaf ni pak yahh, bukan apa-apa pak, saya ini preman bisa malaknya duit halal pak, kalau saya malak bapak dosanya double.'”

Dzawin Nur Ikram dalam Stand Up-nya kali ini menyindir para anggota-anggota DPR yang masih marak melakukan korupsi, tentu saja praktik korupsi merugikan negara.

Dari beberapa contoh Stand Up Comedy di atas, mengkritik penguasa dapat dilakukan dengan banyak cara, ada yang melakukan aksi demo, debat terbuka dengan elit politik penguasa, maupun dengan cara yang lebih berkelas–satire–membuat sebuah kritik berkedok komedi.

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles