Vincent van Gogh, Melukis dalam Gelapnya Gangguan Mental

ENSIPEDIA.ID, Kendari – Dari balik jendela rumah sakit jiwa, Van Gogh mulai menggoreskan kuasnya. Menangkap momen langit di pedesaan Saint-Remy-deProvence, Prancis. Langit biru pekat, dengan taburan bintang-bintang cerah berwarna kuning tersebut merupakan salah satu lukisan terpopuler di dunia. La Nuit etoilee (1889) atau sering disebut dengan Starry Night tersebut merupakan salah satu lukisan yang Van Gogh yang dibuat dalam gelapnya kondisi kesehatan mental yang ia alami.

Lukisan Van Gogh: Starry Night

Si Pelukis Hebat dari Belanda

Vincent van Gogh, lahir pada tahun 1853 dari pasangan Theodorus van Gogh dan Anne Cornelia di Groot Zundert, Belanda. Pada dasarnya, keluarga Gogh telah lekat dengan karya seni. Vincent memiliki darah seni dari pamannya yang bernama Cornelis yang juga seorang dealer art.

Masa muda Van Gogh tidaklah baik-baik saja. Bejak usia belia, ia telah berganti-ganti pekerjaan dan pada akhirnya tidak ada yang berjalan lancar. Ia juga sempat belajar di sekolah teologi. Ayahnya merupakan seorang pendeta. Karena merasa bosan dengan kehidupan sekolah teologi, ia memutuskan untuk mengikuti pamannya berjualan barang-barang seni.

Pada tahun 1969, Vincent bergabung dengan grup dealer art bernama Goupil & Cie. Selama tujuh tahun bekerj di sana, ia dipindahkan ke cabang di London. Selain bekerja, di sana, Vincent sering mengunjungi galeri dan musium seni. Ia pun menjadi penggemar penulis Inggris seperti G. Eliot dan Charles Dickens.

Setelah berhenti bekerja di Goupil & Cie (1876), ia pun memutuskan untuk menjadi guru di wilayah dekat London. Sembari menjadi guru, ia juga menjadi pembaca khotbah dan ingin senantiasa mempersembahkan hidupnya kepada kaum miskin. Walaupun demikian, ia akhirnya menyerah dengan kehidupan yang pas-pasan. Theo (Adik Vincent van Gogh) kemudian mendukungnya menjadi seorang seniman saja. Pada tahun 1880, ia pergi belajar di Academy of Art, Brussels untuk belajar seni anatomi.

Melukis dalam Kegelapan Kesehatan Mental

Ada banyak pengalaman pahit yang dialami oleh Vincent dalam hidupnya, seperti saat ia ditolak oleh wanita-wanita yang ia cintai. Pengalaman yang tak kalah menyedihkannya ketika ayah Vincent meninggal dunia. Keterputusan Vincent dengan orang-orang yang dicintainya membawa ia menuju ke keputusasaan dan sangat mempengaruhi kesehatan mentalnya. Dengan seni dan melukis, ia bisa menyalurkan perasaan-perasaan yang membelenggu tersebut.

Melihat lukisan-lukisan Van Gogh, ada banyak lukisan-lukisan yang mengkomunikasikan tentang kesunyian dan kesendirian. Contohnya gambar kamar tidurnya yang menggambarkan keinginan untuk memiliki teman. Walaupun dilihat dari warnanya yang ceria, lukisan tersebut terdapat perasaan yang terkurung dan kesepian yang terpendam.

Lukisan Van Gogh: My Bedroom

Kesehatan Mental Sang Pelukis

Tepat pada bulan Desember 1888, Van Gogh melakukan sebuah perbuatan yang sangat aneh. Ia memotong telinga kirinya sendiri dengan silet. Diduga, kejadian tersebut dipicu oleh pertengkarannya dengan teman pelukis impresionis. Ia kemudian membungkus potongan telinga tersebut dengan koran dan mengirimkannya ke seorang pelacur di rumah bordir. Tak lupa ia menuliskan, “Jaga objek ini dengan hati-hati”.

Setelah melakukan insiden tersebut, Van Gogh akhirnya kembali menuangkan perasaannya dengan kembali melukis. Ia kemudian menggambar potret dirinya dengan perban di telinga. Karya tersebut sangat menggambarkan betapa buruknya kondisi mental sang pelukis.

Secara sukarela, Van Gogh memutuskan untuk masuk ke rumah sakit di Saint-Remy de Provence dan di dalam kamar rumah sakit tersebut ia melukis starry night. Dokter yang merawatnya memvonis Van Gogh menderita epilepsi. Van Gogh dianggap sembuh pada bulan Mei 1890.

Akhir Hayat Sang Pelukis

Masa-masa paling produktif Van Gogh ketika selepas keluar dari rumah sakit. Ia menyusul pindah dari adiknya menuju ke Auvers di sebelah utara Prancis. Ia melukis 75 lukisan dalam kurung waktu 70 hari serta menyelesaikan kurang lebih 100 sketsa gambar.

Namun, produktivitasnya itu tidak menjamin kebahagiaan Van Gogh. Ia menembak dirinya sendiri. Karena pistol yang digunakan tidak memiliki daya tembak yang kuat, akhirnya ia tidak bisa membunuh dirinya. Dengan memegang dada yang terluka, ia berjalan menuju penginapan. Theo, sang adik kemudian datang melihat kondisi sang kakak. Sayang sekali, Theo tidak bisa menyelamatkan nyawa kakaknya. “Aku ingin mati seperti ini,’ kata Vincent van Gogh kepada adiknya sebagai pesan terakhirnya.

 

 

Latest articles