Sejarah Kelam Panjat Pinang, Pesta Belanda untuk Menertawakan Pribumi

ENSIPEDIA.ID, Jember – Bulan Agustus bagi masyarakat Indonesia terasa sangatlah spesial karena pada bulan tersebut terjadi peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 1945. Dengan dibacanya teks proklamasi oleh Soekarno dan Hatta, maka Indonesia merdeka dari segala jajahan negara lain, baik Jepang maupun Belanda.

Dengan kondisi Indonesia yang sudah merdeka, para muda-mudi bangsa sudah tidak perlu lagi mengangkat senjata untuk melawan penjajah. Namun, sebagai pengingat akan sejarah, masyarakat Indonesia biasanya merayakannya dengan melakukan berbagai kegiatan seperti karnaval, gerak jalan, dan perlombaan-perlombaan. Salah satu perlombaan yang dimainkan ketika tiba Bulan Agustus adalah panjat pinang.

Panjat pinang merupakan sebuah permainan yang terdiri atas beberapa regu yang harus memanjat pohon pinang yang sudah dilumuri oli. Di puncak pohon terdapat beberapa hadiah menarik yang layak untuk diperebutkan. Meskipun dalam perlombaan panjat pinang dirayakan secara sukacita, ternyata panjat pinang memiliki asal usul yang kelam.

Dalam sejarahnya permainan panjat pinang memiliki keterkaitan dengan kebudayaan Tiongkok Selatan, terutama di daerah Fukien, Guangdong, dan Taiwan. Acara ini ada sejak zaman Dinasti Ming dan dimainkan ketika Festival Hantu. Berbeda dengan panjat pinang yang ketinggiannya tidak terlalu ekstrem, maka dalam permainan qiang gu peserta harus memanjat satu bangunan dari pohon pinang dan pohon lain yang tingginya setara dengan bangunan tingkat 4.

Adapun di Indonesia, panjat pinang mulai dikenal sejak zaman penjajahan Belanda sekitar tahun 1930-an. Permainan ini digelar oleh orang Belanda untuk memeriahkan hajatan, seperti pernikahan, kenaikan jabatan, dan pesta ulang tahun. Sedangkan hadiah yang menunggu di pucuk pohon pinang berupa makanan, seperti keju dan gula. Ada juga yang berupa pakaian, seperti kaos dan kemeja.

Orang-orang yang menjadi peserta panjat pinang hanyalah orang-orang pribumi. Para laki-laki pribumi harus saling bahu-membahu membentuk tangga “hidup” agar mampu mencapai puncak pohon pinang untuk mendapatkan hadiah yang telah disediakan. Bagi orang-orang pribumi, hadiah tersebut sangatlah berharga dan mahal. Sedangkan orang-orang Belanda hanya menyaksikan dari jauh dan sambil tertawa melihat orang pribumi berusaha memanjat pohon pinang. Selain orang Belanda, panjat pinang juga biasa digelar oleh keluarga pribumi kaya raya yang menjadi antek-antek kolonial.

Meskipun panjat pinang memiliki sejarah yang kelam, tapi permainan ini masih layak untuk dimainkan karena memiliki filosofi yang sangat mendalam, khususnya bagi bangsa Indonesia. Dengan permainan panjat pinang, kita mengetahui bahwa butuh perjuangan dan sikap gotong royong dalam mencapai kemerdekaan. Selain itu, hadiah (kemerdekaan) dari perjuangan haruslah dibagi rata kepada siapa saja yang telah ikut andil dalam kemerdekaan bangsa Indonesia.

 

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles