Menyelami Sejarah Singkat Komedi, Mengapa Orang Tertawa?

ENSIPEDIA.ID, Kendari – Setiap orang membutuhkan hiburan. Salah satu hiburan yang sering membuat orang tertawa adalah komedi. Komedi membuat seseorang bisa menjadi apa saja tanpa batas benar-salah. Seseorang yang merasa tertekan biasanya melampiaskan tekanan dengan menonton sebuah pertunjukan komedi.

Selain sebagai hiburan, komedi juga memiliki sisi lain yang tak kalah tajamnya. Kita sering mendengarkan materi-materi komedi yang  bisa dikatakan sebagai kritik sosial terhadap masyarakat. Ya, komedi tak jarang digunakan sebagai medium dalam melontarkan kritikan seperti apa yang kita kenal sebagai sarkas, parodi, dan satire.

Rupanya, peran komedi dalam melakukan kritik sosial tidaklah dikenal akhir-akhir ini. Sejak awal, komedi memang lahir sebagai antitesis dari ironi. Di mana ada ironi, di situ pula ada komedi yang mengimbanginya.

Setidaknya, komedi memiliki 3 hal yang membuatnua beda dari ekspresi-ekspresi bahasa lainnya. Pertama, komedi adalah hal yang menyenangkan karena dapat memancing tawa. Tawa hadir sebagai ekspresi bahagia seseorang. Komedi hadir untuk itu.

Kedua, komedi mengandalkan persepsi. Komedi tidaklah memaksa orang lain untuk tertawa. Dalam komedi, tidak terdapat persepsi tunggal, melainkan ada banyak persepsi yang bisa timbul. Maka dari itu, hal yang dianggap lucu sebagian orang kemungkinan tidak dianggap lucu oleh sebagian lainnya.

Ketiga, komedi adalah perihal merayakan kebodohan. Kabanyakan dari komedi yang kita kenal pastinya tentang orang-orang yang mematahkan logika. Hal-hal yang membuat lucu biasanya hal yang diluar pola berpikir yang logis. Karena komedi tidak bertujuan kepada kebenaran, melainkan kepada hiburan.

Sejarah Komedi

Komedi berasal dari bahasa Yunani yaitu komos atau komai dan kata oda. Komos dapat diartikan sebagai suka ria, komai dapat diartikan sebagai desa/village. Aristoteles lebih memilih kata yang kedua, karena menurutnya hal-hal yang lucu dan menggembirakan kebanyakan didapat di daerah pedesaan, bukan perkotaan. Sedangkan kata oda dapat diartikan sebagai lagu.

Pada tahun 486 SM, acara persembahan yang ditujukan kepada Dewa Dyonisius dilakukan dengan mengadakan kompetisi komedi. Diketahui bahwa Dewa Dyonisia merupakan dewa dalam mitologi Yunani. Ia adalah anak dari Zeus dan Semele yang menjadi lambang kesuburan dan seksualitas. Hal ini dilakukan karena komedi menampilkan kebebasan berekspresi.

Dalam Yunani Kuno, kita sering mendengar istilah tragedi. Tragedi merupakan cerita yang disajikan dalam peran yang dimainkan guna memikat emosi, kasih, dan kesedihan. Rupanya, komedi merupakan kebalikan dari tragedi. Jika tragedi bisa menimbulkan rasa sakit setelah menyaksikannya, komedi tidak meninggalkan apapun. Maka dari itu, sejak dahuli sebenarnya komedi adalah hal yang tidak menyinggung. Tidak seperti sekarang ini, banyak pihak yang merasa tersinggung atau dirugikan oleh materi-materi komedi.

Pada abad pertengahan, komedi dianggap sebuah hal yang rendah. Gereja pada masa itu menempatkan komedi sebagai bentuk penghinaan terhadap iman Kristen. Tidak hanya komedi, tragedi dan seni pertunjukan lainnya dikutuk sedemikian rupa.

Saat ini, komedi mengekspresikan sesuatu yang esensial dari manusia, yakni sisi humanitas manusia. Semua orang berhak menertawai sesuatu. Semua orang berhak berkomedi. Komedi membuat manusia bisa merasakan humor dan kebahagiaan. Tak perlu melihat latar belaknag sosial komedian untuk tertawa. Komedi menyajikan logika yang sedemikian rupa telah dijungkirbalikkan demi sebuah tawa yang pecah.

Mengapa Manusia Tertawa?

Positif dan negatifnya suatu komedi dilandasi dengan alasan audiens tertawa. Tidak banyak komedi yang didasari oleh lelucon-lelucon sampah. Berikut beberapa teori yang menjelaskan alasan seseorang tertawa.

1. Teori Superioritas

Pada era sebelum modern, komedi dianggap sebagai hiburan semata. Dalam teori ini, manusia menertawai sesuatu karena mengaggap dirinya lebih tinggi/superior dibandingkan objek yang ditertawainya. Inilah yang membuat kebanyakan komedian pada masa itu merupakan orang-orang rendahan dengan kekurangan fisik tertentu. Pada masa sekarang, komedi seperti ini sudah jarang diminati lagi bahkan dianggap sangat kuno.

2. Teori Pembebasan

Teori ini lebih ke arah aspek psikologis. Seseorang tertawa dianggap sebagai bentuk pembebasan dari perasaan gugup. Seseorang yang tertekan bisa menghilangkan stres tersebut dengan komedi dan tertawa.

3. Teori Keganjilan

Komedi seperti ini sering kita temui pada komika stand up comedy. Kelucuan hadir ketika ada hal yang dirasa ganjil dan tidak masuk logika. Humor ini dihasilkan lewat hal-hal yang tidak beres yang kemudian dipatahkan dengan teknik-teknik tertentu. Teori ini juga kerap digunakan dalam mengangkat komedi dalam kritik sosial.

Latest articles