Mencari Jejak Hilangnya Lagu Anak-Anak Indonesia

ENSIPEDIA.ID – Mungkin akan sangat mudah untuk menyebutkan daftar judul lagu anak yang populer di era 80 atau 90-an. Kita mengenal banyak artis cilik yang tenar dengan lagu-lagu mereka, sebut saja Agnes Monica, Tina Toon, Tasya Kamila, Joshua Suherman, dan lainnya. Namun, akan sedikit sulit untuk menyebutkan lagu anak-anak yang dirilis beberapa tahun ke belakang.

Industri lagu anak seperti mengalami kemunduran yang jauh, bahkan bisa dikatakan hilang di telan zaman. Hal ini disebabkan karena ekosistem musik anak tidak lagi kondusif.

Sebenarnya, keruhnya ekosistem industri musik juga terjadi pada musik pop dewasa. Kebanyakan dari mereka telah beralih ke industri yang berbasis digital. Namun, musik anak menjadi bagian yang seperti dilupakan untuk dikembangkan.

Alasan Hilangnya Lagu Anak

Setelah mencari di playform YouTube, sebenarnya masih ada beberapa penyanyi cilik yang mengeluarkan single lagu, sebut saja Naura, Romaria, atau Neona. Hal ini patut kita syukuri karena lagu anak tidak lah mati atau benar-benar hilang. Namun, melihat pola tontonan anak di Indonesia dengan berbagai perkembangan teknologi informasi, beberapa artis tersebut belum cukup untuk memperbaiki ekosistem musik anak di Indonesia.

Ada banyak faktor yang menyebabkan hilangnya lagu anak populer dari telinga generasi penerus kita. Beberapa alasannya, sebagai berikut:

Menurut Direktur Edukasi Ekonomi Kreatif Deputi Riset Edukasi dan Pengembangan Badan Ekonomi Kreatif, Poppy Savitri mengungkapkan bahwa salah satu alasan mirisnya industri musik anak ialah kurangnya rangsangan penulis dan pencipta untuk membuat lagu anak. Selain itu, pemasaran lagu anak juga masih kurang menyasar anak-anak. Banyak penyanyi cilik yang memiliki genre lagu yang lebih dewasa dari dirinya.

“Kita perlu mendorong pemasaran karya lagu anak-anak agar dapat diakses oleh publik, misalnya dengan ide melalui radio yang khusus memutar lagu anak-anak,” ucap Poppy.

Peran Media

Menurut Profesor musik dan komposer handal Tjut Nyak Deviana Daudsjah, ia memandang bahwa permasalahan lagu anak ini tidak hanya berasal dari pihak pengarang lagu, melainkan juga ada peran media di dalamnya. Ia beranggapan bahwa ada banyak lagu anak yang telah diaransemen ulang dan dibuat oleh pengarang dan disebarkan di platform Youtube. Namun, pihak sekolah dan orang tua belum maksimal dalam memperkenalkannya.

Ia mengusulkan kepada media untuk lebih gencar memutar lagu anak agar televisi juga diwarnai oleh lagu-lagu anak.

“Saya juga usul, bagaimana kalau dari pihak media, khususnya televisi karena paling banyak ditonton orang, tolong adakan lomba lagu anak-anak. Tapi bukan [kontes bernyanyi] seperti X-Factor atau Indonesian Idol. Juri-jurinya juga harus yang kompeten.”

Kita bisa melihat salah satu program tv yang sukses mengadaptasi konsep lagu anak, yaitu Dubi-Dubi-Dam di RTV.

Lagu Anak dan Orang Tua

Salah satu faktor punahnya lagu anak, yaitu orang tua itu sendiri. Artinya, orang tua harus peka dan mengenalkan anak dengan lagu-lagu yang diperuntukkan untuk mereka sesuai dengan usia.

Seperti yang kita lihat saat ini, kebanyakan orang tua malah langsung memperkenalkan anak dengan media, seperti YouTube, Tiktok, dan lainnya. Youtube memang berisi banyak sekali lagu anak-anak. Namun, orang tua harus menjadi filter bagi anak-anak mereka.

“Anak TK sampai SD kelas 2 dan 3 itu lebih pada [lirik] berkalimat pendek dan diulang agar mereka lebih bergairah, termotivasi, senang. Kalau batita itu gerak dan lagu, jadi sambil mereka mengikuti menyanyi, sambil belajar kata-kata. Mereka juga harus dibantu dengan gerakan supaya perkembangan motoriknya terasah,” ungkap Psikolog anak, Erfiane Cicilia dikutip melalui CNNIndonesia. Untuk itu, orang tua berperan aktif dalam pemilihan lagu yang sesuai dengan usia anak.

Disrupsi Media Informasi

Selain permasalahan konvensional, masalah perkembangan teknologi digital juga mempengaruhi hilangnya lagu anak. Seperti yang kita ketahui bahwa media sosial telah tumbuh membawa perubahan penting bagi manusia dan dunia parenting.

Kurangnya figur penyanyi cilik di media sosial menjadi salah satu keengganan berbagai pihak untuk menghasilkan bibit baru penyanyi cilik. Kebanyakan artis cilik terkenal dengan kepopuleritas orang tuanya. Selain itu, daily activity influencer cilik lebih diminati masyarakat dibanding dengan penyanyi cilik.

Tidak bisa dipungkiri bahwa media Tiktok juga sangat berperan dalam dunia musik di Indonesia. Ya, karena Tiktok merupakan media sosial video dengan musik yang beragam. Salah satu tren dari Tiktok belakangan ini ialah lagu anak yang di-remix sedemikian rupa. Sungguh disayangkan dengan kondisi musik anak yang sekarat, musik anak yang seharusnya diaransemen agar lebih easy listening bagi anak malah diubah menjadi musik untuk orang dewasa.

Latest articles