Jejak Orang Arab yang Kerap Digambarkan sebagai Penjahat di Film Hollywood

ENSIPEDIA.ID – Sering melihat citra orang-orang Arab yang digambarkan sebagai antagonis dalam film? Sebuah stereotip tentang pengantagonisan kelompok Arab sudah menjadi hal yang tak jarang dilakukan di industri film, termasuk Hollywood. Orang-orang Arab kerap digambarkan sebagai kelompok militan, teroris, mesum, penjahat, pembajak pesawat, ataupun sebagai penculik.

Menurut sebuah penelitian komprehensif dari Jack G. Shaheen, seorang profesor komunikasi dari Southern Illinois University, menemukan bahwa terdapat persekutuan secara kolektif dari pembuat film dalam menuduh orang-orang Arab sebagai musuh bersama.

Temuan ini setelah melakukan telaah 1.100 film yang mayoritas diproduksi di Hollywood. Film-film ini berasal dari kurun waktu akhir abad ke-19 sampai dengan tahun 2001, sebelum terjadinya serangan di Menara Kembar, New York.

“Sejak 1896 sampai sekarang, pembuat film secara kolektif sudah menuduh semua orang Arab sebagai musuh bersama nomor satu yang brutal, tidak berperasaan, fanatik agamis, tak beradab, dan makhluk ‘budaya lain’ yang gila harta, bertekad meneror kaum Barat beradab terutama kalangan Kristen dan Yahudi,” tulis Shaheen dalam bukunya yang berjudul Reel Bad Arabs: How Hollywood Villifies a People.

Hanya sebanyak 50 judul film atau kurang dari 5% film yang menggambarkan orang Arab dengan citra yang baik atau positif. “Rasanya seperti mencoba menemukan oasis di tengah padang pasir,” ungkap Shaheen.

Citra Kejam Orang Arab di Film

Coba perhatikan lagu berikut. Lagu di bawah ini merupakan lagu pembuka dari animasi Aladdin (1992) yang diproduksi oleh Disney yang berjudul Arabian Nights.

“Aku datang dari negeri nun jauh di mana unta-unta berkeliaran orang-orang akan memotong telingamu jika mereka tak suka wajahmu memang barbar tapi inilah rumah kami.”

Lagu yang ditulis untuk segmentasi anak-anak itu pun masih menyelipkan penggambaran negatif terhadap bangsa Arab. Tentunya penggambaran negatif tersebut tak bisa dilepaskan dari faktor politis dan keagamaan. Contohnya, penggambaran negatif orang Arab semakin meninggi sejak tahun 1940-an akhir. Masa-masa itu adalah awal kemunculan negara Israel yang mendirikan negara di Palestina.

Pencitraan tersebut terus bertahan seiring dengan munculnya tokoh-tokoh Timur Tengah yang diktator, misalnya rezim Mummar Qaddafi sejak 1969 atau Rezim Ayatollah Khomeini sejak 1979 di Iran.

Belum lagi kelompok-kelompok bersenjata yang berasal dari Timur Tengah, seperti ISIS dan Al-Qaeda. Banyak pula kasus-kasus pembajakan pesawat yang dilakukan oleh kelompok teroris bersenjata. Puncak dari kebencian Barat terhadap bangsa Arab terjadi pada tragedi 9/11 di Menara Kembar WTC, New York, Amerika Serikat.

Faktor geopolitik di Timur Tengah sangat mempengaruhi perspektif bangsa Barat tentang citra orang-orang Arab. Mucullah generalisasi bahwa semua orang Arab itu jahat dan brutal.

Kejahatan Bukan Hanya Milik Salah Satu Bangsa

Stereotip-stereotip seperti di atas haruslah dihilangkan dari dunia perfilman internasional. Propaganda “Teroris tak punya agama” makin sering digaungkan menilik semakin banyaknya deskriminasi terhadap ras dan agama. Deskriminasi ini diperparah dengan pembingkaian citra orang-orang Arab di dunia perfilman.

Bayangkan ketika lagu Aladdin (1992) tersebut tidak direvisi dan terus didengar oleh anak-anak di seluruh dunia. Secara tidak langsung, akan timbul ketakutan-ketakutan yang berlebih anak terhadap orang-orang Arab. Apalagi film merupakan medium komunikasi yang paling populer saat ini. Inilah yang memicu deksriminasi dan ketakutan tetap berlanjut.

Latest articles