Polemik Tambang Nikel: Menghijaukan Dunia, Memerahkan Indonesia

ENSIPEDIA.ID, Kendari – Tren penggunaan kendaraan listrik terus meningkat di tengah krisis bahan bakar minyak dan krisis iklim dunia. Nikel sebagai bahan baku utama pembuatan baterai menjadi komoditas yang sangat dibutuhkan. Sebagai negara penghasil nikel terbesar dunia, Indonesia memproduksi 800 ribu ton per tahunnya (data Kementrian ESDM).

Penggunaan kendaraan dengan tenaga listrik mendukung penggunaan energi bersih dalam hal pengurangan emisi, konservasi energi, dan kendaraan yang ramah lingkungan. Hal ini sesuai dengan visi masyarakat dunia saat ini yang mendukung energi hijau dan sedang menjalankan konsep ekonomi hijau.

Dengan mengganti transportasi berbahan bakar fosil menjadi transportasi listrik, akan mendorong emisi buangan gas rumah kaca menjadi berkurang. Seperti yang kita ketahui bahwa emisi gas rumah kaca menjadi salah satu penyebab krisis iklim dunia.

Namun demikian, upaya positif untuk menghijaukan dunia ini tak beriringan dengan proses penambangan yang berkelanjutan. Banyak tambang nikel yang justru menyebabkan kerusakan lingkungan.

“Ini sebenarnya ironi. Ketika kita berusaha menurunkan emisi dari industri fossil fuel. Tapi di sisi lain kemudian yang dianggap sebagai alternatif dalam tanda kutip, itu juga tidak kalah merusaknya,” ungkap Direktur Walhi Nasional, Nur Hidayati.

Hal ini menyebabkan sebuah paradoks ketika dunia berusaha untuk dihijaukan, tetapi daerah-daerah di Indonesia selaku tambang nikel kian memerah seiring waktu.

Berbicara mengenai dampak lingkungan yang disebabkan tambang nikel, ada banyak permasalahan lingkungan yang mulai dirasakan masyarakat di sekitar daerah tambang.

Menilik hasil penelitian dari Walhi Sulawesi Tengah, Nelayan-nelayan di Morowali semakin sulit dalam mencari ikan. Hal ini disebabkan oleh air laut yang kian tercemar oleh lumpur tambang. Selain itu, ekosistem dari mangrove di wilayah pesisir telah tercemari oleh limbah-limbah pembuangan.

Sama seperti di Sulawesi Tengah, daerah tambang nikel di Morosi, Sulawesi Tenggara juga sama berdampaknya.

Menurut Direktur Eksekutif Walhi Sulawesi Tenggara, Saharuddin mengungkapkan bahwa dengan adanya aktivitas penambangan di daerah Konawe Utara, ada banyak bencana lingkungan yang terjadi. Bencana lingkungan terbesar yang dialami yaitu banjir bandang yang menelan tak sedikit kerugian.

Begitu pula hasil yang ditemukan oleh penelusuran narasi.tv di Pulau Obi, Maluku Utara. Air laut di sekitaran tambang terlihat berwarna merah hingga coklat pekat karena limpahan ore nikel yang dibuang secara tersembunyi.

“Ketika kota-kota di dunia semakin hijau, ada wilayah-wilayah di Indonesia yang kian memerah.”

Latest articles