ENSIPEDIA.ID, BOGOR — Mungkin ada yang pernah ingin menaiki balon udara untuk menjelajah negeri, atau seringkali melihat/menonton film animasi yang berjudul “Up” yang dengan demikian membuat kita terinspirasi untuk menerbangkannya sendiri dan melihat daratan dari ketinggian. Yup, selain sebagai media wisata, fungsi kendaraan ini juga bisa dijadikan sebagai alat transportasi.

Perihal Penggunaan Balon Udara di Indonesia

Di Indonesia, pernah ada kasus yang dapat membahayakan keselamatan warga karena balon udara ini, tepatnya di daerah Jateng dan Jatim. Menerbangkan balon udara merupakan hal yang sudah menjadi kebiasaan di sana. Namun, penerbangannya dianggap liar karena tidak dilakukan ditempat terbuka sehingga menyebabkan balon udara tersebut tersangkut di pepohonan, tiang listrik, bahkan menimpa rumah warga.

Untuk itu, pemerintah mensosialisasikan aturan resmi terkait penggunaan balon udara untuk kegiatan kebudayaan masyarakat dalam Permenhub Nomor 40 Tahun 2018, bagi masyarakat yang ingin menerbangkan balon udara wajib ditambatkan seperti tercantum dalam Pasal 3 ayat (1) peraturan ini.”

“Terkait Permenhub tersebut, ukuran balon maksimal berdiameter 4 meter dan tinggi 7 meter, warna harus mencolok. Hal itu termasuk secara berturut-turut dalam Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2). Lalu ayat (3) menerangkan jika balon tidak berbentuk bulat atau oval atau jumlahnya lebih dari satu, dimensi balon maksimal 4 meter x 4 meter x 7 meter.”

“Adapun dalam Permenhub Nomor 40 Tahun 2018 dijelaskan yang dimaksud dengan balon udara adalah benda yang lebih ringan dari pesawat udara yang tidak digerakkan oleh mesin, namun dapat terbang karena diisi dengan gas yang dapat mengapung (gas buoyancy) atau melalui pemanasan udara (airborne heater).”

baca artikel dari author lainnya disini

Sejarah Balon Udara

1. Auguste Piccard dan Asistennya Paul Kipfer
Auguste Piccard dan Paul Kipfer

Auguste Piccard lahir pada 1884 di Basel, Swiss. Ia lulus dari Politeknik Zurich dalam bidang teknik. Saat Perang Dunia I berlangsung, pada 1917, ia menemukan isotop Uranium Actinuran (sekarang disebut Uranium 235).

Paul Kipfer, seorang ilmuwan Swiss dan penjelajah stratosfer bersama Auguste Piccard sebagai asistennya.

Keduanya tercatat sebagai orang pertama yang mengamati kurvatur atau kelengkungan bumi dan telah mencapai stratosfer setinggi 15,971 meter untuk keperluan ilmiah. Hal tersebut didasari oleh keinginan Piccard sendiri yang ingin mengamati kosmik dan mendukung teori relativitas Einstein yang telah dikenalnya selama bertahun-tahun. Ia juga ingin menguji teorinya bahwa sinar-sinar ini berasal dari stratosfer.

2. Awal Perancangan Balon Udara

Piccard dianggap dan memang tergolong jenius, ia bahkan diangkat menjadi profesor bidang fisika di Brussel. Keberhasilannya berkaitan dengan uji coba atau eksperimennya pada penerbangan balon udara yang ia yakini dapat membuktikan teori relativitas Albert Einsten.

Ketertarikannya pada sebuah balon udara menjadikan ia berinisiatif untuk membuat papan alumunium berbentuk bola agar bisa terbang bersama dengan balonnya ke udara.

Setelah persiapannya telah selesai, ia pun menerbangkan balon udara pertamanya pada 27 mei 1931 dengan tujuan utamanya, yaitu penelitian stratosfer dan sinar kosmik. Keduanya terbang dari Augsburg, Jerman dengan mencapai ketinggian yang belum pernah dicapai manusia sebelumnya.

Pengamatannya pun usai. Namun, mereka mengalami kendala saat berusaha turun karena ketersediaan oksigen yang menipis membuat mereka melayang tanpa arah di Jerman, Austria, dan Italia. Mereka akhirnya mendarat di pegunungan Alpen setelah sekitar 17 jam lamanya di udara. Tapi kendala tersebut tidak menghilangkan sifat optimisme Piccard, ia justru tetap semangat dalam mencari data-data angkasa dengan balon udaranya.

3. Menelusuri Laut Dalam dengan Bothyscaphe
Bothyscaphe

Pada tahun 1932, ia melanjutkan penerbangannya dengan Max Cosyns. Mereka terbang dengan melampaui ketinggian penerbangan pertamanya, yakni 16.200 meter. Dia melakukan 7x perjalanan dengan mencapai ketinggian 23.000 meter tepat di bagian atas stratosfer. Ia disebut sebagai astronot pertama.

Pada tahun 1937, ia menyadari bahwa papan alumuniumnya sangat berbahaya di ketinggian tertentu. Lalu, dia membuat alat untuk menelurusi lautan yang lebih modern, alatnya dinamakan Bothyscaphe. Kapal selam ini merupakan kerja sama dengan anaknya Jacques Piccard yang selesai pada tahun 1938.

Pada 30 September 1953, Piccard dan anaknya menelurusi laut dalam dan keduanya pun mencetak rekor dengan mencapai 3,150 meter di bawah permukaan laut, tepatnya di Laut Tyrrhenian, Italia. Kemudian, ia dengan Letnan Angkatan Laut AS Don Walsh telah mencapai dasar Palung Mariana dengan kedalaman mencapai 10,916 meter. Selain eksperimen stratosfernya yang menggunakan balon udara serta penelusuran lautan dengan kapal selam Bothyscaphe, ia dikenal sebagai ilmuwan yang berurusan dengan fisika atom.