Kenikmatan yang Berulang dalam Eksperimen Skinner Box

ENSIPEDIA.ID – Ucapkan salam kenal kepada Jerry, seekor tikus yang akan menjadi teman kita hari ini. Jerry akan membantu menjelaskan sebuah konsep yang dibawa oleh Skinner tentang perilaku dasar manusia.

| Eksperimen Kotak Skinner (Skinner Box Experiment)

Jerry dimasukkan ke dalam sebuah kotak bernama Skinner Box. Kotak tersebut telah dirancang sedemikian rupa. Di dalamnya terdapat beberapa tuas yang akan mengeluarkan atau membuat efek tertentu.

Setelah masuk di dalam kotak, Jerry tampak gelisah. Ia mengendus keseluruhan isi kotak. Sampai suatu saat, ia tak sengaja menyentuh sebuah tuas, sebut saja tuas surga. Akibat sentuhan tersebut, setumpuk makanan kemudian jatuh ke dalam wadah yang telah disediakan.

Karena menyadari datangnya makanan berasal dari tuas yang disentuhnya, Jerry kemudian melakukan tindakan sentuhan secara berulang kali. Makanan pun jatuh terus menerus.

Suatu ketika, Jerry kembali menyentuh tuas lainnya, sebut saja tuas neraka. Rupanya, tuas tersebut tidak mengeluarkan makanan, tetapi mengeluarkan sengatan listrik. Dengan respon sengatan listrik tersebut, Jerry akhirnya menghindari untuk kembali menyentuhnya.

Jerry masih terfokus pada tombol surga. Setiap lapar, Jerry terus saja menggerakkan tuas surga dan makanan tak hentinya datang. Jerry hidup sebagai tikus yang sejahtera.

Namun demikian, masalah pun muncul kembali. Makanan yang keluar dari tuas surga makin lama jumlahnya berkurang. Hingga pada suatu saat, tak ada lagi makanan yang muncul ketika Jerry menggerakkan tuas. Begitu pula saat Jerry tak sengaja menyenggol tuas neraka, tak ada lagi sengatan listrik yang keluar.

Untuk yang terakhir kalinya, Jerry menyetuh tuas surga dan hasilnya tetap nihil. Jerry kemudian melupakan tuas-tuas tersebut. Ia melakukan endusan ulang ke seluruh kotak. Sesekali ia juga mencakar dan mencoba keluar.

| Teori Pengkondisian Operan (Operant Conditioning)

Perilaku yang dialami oleh Jerry di atas merupakan eksperimen untuk memahami perilaku manusia. Skinner, seorang psikolog beraliran behaviorisme memunculkan teori bernama operant conditioning.

Secara sederhana, teori ini menjelaskan perilaku manusia dalam proses belajar berdasarkan respon yang diterimanya. Jadi, seorang individu bisa menarik hubungan kondisi antara perilaku yang dilakukan dengan konsekuensi yang didapatkan.

Seperti Jerry di atas, ketika ia menemukan tuas surga, tentu saja ia akan memencet tombol itu kembali karena mendapatkan konsekuensi yang positif.

Jadi, konsekuensi yang diterima itu ada tiga. Ada reinforcement atau penguat, punishment atau hukuman, serta stimulus netral.

Dari cerita tentang Jerry, pasti kamu sudah tahu contoh ketiga konsekuensi di atas, bukan?

Betul sekali, di dalam perilaku sehari-hari juga ada tiga konsekuensi yang diterima. Konsekuensi tersebut tentunya berasal dari perilaku yang kita lakukan. Membuang sampah sembarangan, melanggar lalu lintas, berbuat baik, menolong Sakura, menjadi calon presiden, tentunya semua itu memiliki konsekuensinya masing-masing.

Konsekuensi tersebut menghasilkan tiga kemungkinan proses pengulangan tindakan.

Pertama, dengan adanya reinforcement, kemungkinan perilaku tersebut akan diulangi sangat tinggi. Maka dari itu, pemberian apresiasi (reward) sangatlah penting.

Kedua, dengan adanya punishment, kemungkinan perilaku diulangi akan sangat kecil, bahkan tidak ada.

Ketiga, dengan adanya stimulus netral, tidak akan menambah atau mengurangi kemungkinan pengulangan perilaku. Namun, pemberhentian apresiasi seperti yang diterima Jerry, akan menghilangkan tindakannya seiring waktu.

| Para Pencari Kenikmatan

Saat ini, kita tahu bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi dan setiap konsekuensi berpengaruh pada kemungkinan kita dalam mengulangi tindakan.

Kita juga perlu tahu bahwa dengan adanya pengondisian tersebut akan membawa kita pada sebuah titik candu. Siapa yang menolak reward yang banyak dengan effort yang rendah? Ini masalah yang dialami kebanyakan orang di zaman sekarang dengan segala hal instannya. Hal yang menjadi sisi gelap dari reward adalah memunculkan adiksi.

Saya ingin mengutip teori law of effect dari Thorndike. Teori tersebut menyatakan bahwa perilaku yang diikuti hasil memuaskan kemungkinan besar perilaku tersebut akan dipertahankan atau diulang.

Ya, pada dasarnya manusia adalah makhluk yang mencari kesenangan dan kenikmatan. Maka dari itu, bersenang-senang dan nikmatilah. Eits, tentunya dengan ambang batas yang tidak berlebihan.

“Cinta itu indah, juga kebinasaan yang membuntutinya. Orang harus berani menghadapi akibatnya.”
– Jean Marais, Bumi Manusia (Toer, 1980).

[“Mentor EB adalah divisi yang dibuat oleh EB tahun 2020 lalu. Tujuannya untuk menerbitkan konten yang berkualitas dan juga bisa membimbing kalian yang ingin menerbitkan postingan di grup ini. Kamu bisa menghubungi saya atau mentor lain jika kamu bingung dan butuh bantuan.”]

Yuk kunjungi juga media EB ID lainnya

Fanspage: [fb.me/ensikpediaID]
YouTube: [youtube.com/channel/UCLaV06Sm2OUbcDvO_nVL6kA]
Instagram: [instagram.com/ensiklopediabebasid]
—————————–

Referensi:

[1] Ariesta, F. W. (2021, 7 Juli). Implementasi teori belajar behaviorisme dalam pandangan Edward Thorndike. Diakses melalui https,//pgsd,binus,ac,id/2021/07/07/implementasi-teori-belajar-behaviorisme-dalam-pandangan-edward-thorndike/

[2] Azhar, T. N. (2018). Gence: Membedah anatomi peradaban digital. Bandung: Tasdiqia Publisher.

[3] Maulana, R. (2020, 17 April). Operant conditioning (teori pengkondisian Skinner). Diakses melalui https,//www,psikologihore,com/operant-conditioning-teori-skinner/

Latest articles