Pecandu Narkoba Dipenjara atau Direhabilitasi?

ENSIPEDIA.ID, Jakarta – Nia Ramadhani serta suaminya, Ardiansyah Bakrie ditangkap pada 7 juli 2021 dan ditetapkan sebagai tersangka atas kasus kepemilikan narkoba sebanyak satu klip yang harganya ditaksir sekitar 1,5 juta.

Menurut keterangan dari Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Hengki Haryadi pada konferensi pers menyatakan bahwa ketiga tersangka tersebut (beserta supirnya) akan menjalani rehabilitasi. Lalu, mengapa mereka direhabilitasi? Apakah hukuman penjara bagi pemakai narkoba hanya untuk orang kelas menengah-kebawah saja? Simak ulasannya di bawah ini:

Semua Pecandu Wajib Rehabilitas

Seperti yang dinyatakan pada UU No 35 Tahun 2009 pasal 54, bahwa wajib bagi pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika untuk menjalani rehabilitasi rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. Hal ini juga dijelaskan secara rinci pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 25 TAHUN 2011 Tentang Pelaksanaan Wajib Lapor Pecandu Narkotika.

Selain itu juga, pada pasal 3 ayat (1) peraturan BNN nomor 11 tahun 2014, juga menyatakan bahwa Pecandu Narkotika dan Korban Penyalahgunaan Narkotika yang sedang menjalani penuntutan, penyidikan dan persidangan di pengadilan diberikan perawatan, pengobatan dan pemulihan di lembaga rehabilitasi.

Adapun permohonan rehabilitasi bagi yang menyerahkan diri atau volunteer dapat dilaporkan oleh pencandu itu sendiri dan juga keluarganya ke lembaga rehabilitasi medis dan sosial. Sedangkan bagi pecandu yang di bawah umur dapat diwakilkan oleh keluarga atau walinya.

Bagi sobat ensipedian yang merasa pecandu dan ingin mengajukan rehabilitasi, dapat mendaftarkan diri secara online di laman resmi BNN. Berikut mekanisme pendaftarannnya:

  1. Buka alamat BNN
  2. Buatlah Akun Pengguna dengan cara memilih menu “Layanan Rehab” dan menu “Login/Daftar” kemudian klik pilihan “Daftar” yang berada di sisi kanan;
  3. Isi dan lengkapi data diri Anda yang diminta dengan benar, mulai dari nama, nomor identitas, serta e-mail. Pemohon juga akan diperintahkan memasukkan kata sandi untuk akun yang dibuatnya;
  4. Setelah semua terisi, klik “Submit”, Pemohon pun akan mendapatkan informasi aktivasi akun melalui e-mail;
  5. Jika pembuatan Akun Pengguna diterima, maka registrasi online permohonan rehabilitasi dapat diteruskan. Namun, jika tidak diterima maka pemohon dapat datang langsung ke kantor BNN terdekat dan meminta bantuan petugas untuk mendaftar secara offline;
  6. Saat melakukan registrasi, gunakan e-mail dan kata sandi yang sebelumnya telah didaftarkan;
  7. Isi formulir pendaftaran dan formulir lain yang telah disediakan.

Sedangkan bagi pecandu yang tertangkap oleh aparat, maka akan dilakukan proses penyelidikan. Apakah orang tersebut murni pecandu atau menjadi pengedar, jika diketahui orang tersebut terlibat dalam sindikat maka akan diproses lebih lanjut (pengadilan).

Ketika Pecandu Lanjut ke Meja Hijau

Dalam beberapa kasus, banyak pecandu yang diproses hukum ke pengadilan karena orang tersebut diyakini terlibat ke dalam jaringan sindikat narkoba. Sedangkan bagi hakim yang mengadili kasus narkoba diberikan rambu-rambu terkait hal tersebut sesuai dengan Pasal 103 UU Narkotika.

(1) Hakim yang memeriksa perkara Pecandu Narkotika dapat:

a. memutus untuk memerintahkan yang bersangkutan menjalani pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi jika Pecandu Narkotika tersebut terbukti bersalah melakukan tindak pidana Narkotika; atau

b. menetapkan untuk memerintahkan yang bersangkutan menjalani pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi jika Pecandu Narkotika tersebut tidak terbukti bersalah melakukan tindak pidana Narkotika.

(2) Masa menjalani pengobatan dan/atau perawatan bagi Pecandu Narkotika sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diperhitungkan sebagai masa menjalani hukuman.

Baca juga : Metode-metode dakwah Sunan Kalijaga

Panduan Hakim Dalam Mengadili Kasus Pecandu Narkoba

Dalam memutus perkara kasus pecandu narkoba, hakim akan terikat dengan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2010. Salah satu dari poin edaran tersebut ialah membatasi jumlah narkoba yang ditemukan pada saat melakukan proses penangkapan. Jika melebihi batas maksimal maka dijerat dengan hukum yang barlaku. Adapun batas maksimalnya adalah sebagai berikut:

  1. Kelompok Bufrenorfin seberat 32 mg
  2. Kelompok Metadon seberat 0,5 gram
  3. Kelompok Petidin seberat 0,96 gram
  4. Kelompok metamphetamine (shabu) dan Fentanil seberat 1 gram
  5. Kelompok Heroin, Kokain dan Morfin seberat 1,8 gram
  6. Kelompok LSD (d-lysergic acid diethylamide) seberat 2 gram
  7. Kelompok MDMA (ekstasi) seberat 2,4 gram
  8. Kelompok PCP (phencyclidine) seberat 3 gram
  9. Kelompok Ganja, Daun Koka dan Meskalin seberat 5 gram
  10. Kelompok Kodein seberat 72 gram

Jadi, dalam kasus narkoba tidaklah memandang status sosial, baik si kaya ataupun si miskin akan ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku dan dapat mengajukan rehabilitasi.

Referensi:

——

[1] Firmansyah, M Julnis. 2021. “Barang Bukti Sabu Nia Ramadhani Hanya 0,78 Gram, Polisi: Kami Nggak Percaya”. Diakses dari metro,tempo,co/read/1481431/barang-bukti-sabu-nia-ramadhani-hanya-078-gram-polisi-kami-nggak-percaya. Diakses pada 11 Juli 2021.

[2] Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

[3] Surat Edaran Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2010 tentang Penempatan Penyalahgunaan, Korban Penyalahgunaan dan Pecandu Narkotika ke dalam Lembaga Rehabilitasi Medis dan Rehabilitasi Sosial.

[4] Wahyono, Heru. “Keadilan Persidangan”. Diakses dari lsc,bphn,go,id/konsultasiView?id=1693. Diakses pada 11 Juli 2021.

[5] Permana, Rakhmad Hidayatulloh. 2019. “Pecandu Narkoba Dipenjara atau Direhabilitas? Ini Aturannya”. Diakses dari news,detik,com/berita/d-4635500/pecandu-narkoba-dipenjara-atau-direhabilitasi-ini-aturannya. Diakses pada 11 Juli 2021.

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles