Mengapa Seseorang Merasa Takut dengan Matematika?

ENSIPEDIA.ID, Kendari – Bayangkan ketika guru menyuruhmu untuk mengerjakan soal matematika di papan tulis. Apa yang kamu rasakan? Apakah jantungmu mulai berdetak kencang, tangan yang gemetar, peluh keringat mulai bercucuran, perut terasa mulas, dan susah berkonsentrasi? Mungkin terlalu dilebih-lebihkan, tetapi bagi sebagian orang, mengerjakan soal matematika di papan tulis adalah hal yang menakutkan sekaligus  menegangkan.

Apakah kamu juga merasakan kecemasan yang berlebih ketika berhadapan dengan matematika? Kamu tidak sendiri, peneliti memperkirakan bahwa sekitar 20% penduduk dunia menderita math anxiety atau kecemasan yang berlebih terhadap matematika.

Bahkan, salah seorang matematikawan terkemuka di Perancis bernama Laurent Schowartz ketika masih duduk di bangku sekolah menengah atas mengalami kecemasan ketika menjawab soal matematika. Ia merasa tidak mampu untuk mengerjakan soal-soal yang ada di hadapannya kala itu. Ia mengalami gejala yang sama ketika kamu hanya mencoret-coret lembar cakaran dengan lingkaran-lingkaran tak berati. Namun, nasib berkata lain, ia menjadi salah

Mengapa Seseorang Takut Kepada Matematika?

Mengapa Seseorang Takut Dengan Matematika? (Freepik.com)

Pada dasarnya kecemasan terhadap materi pelajaran yang tidak diketahui bisa terjadi pada seluruh bidang pelajaran. Namun, matematika menjadi bidang pelajaran yang paling banyak dan paling sering membuat rasa takut. Mengapa ini terjadi? Peneliti belum menemukan  alasan pastinya. Namun, dalam beberapa penelitian menemukan bahwa cara guru atau orang tua memperkenalkan matematika berperan besar dalam menciptakan rasa takut terhadap anak-anak.

Kebanyakan orang tua di luar sana memperkenalkan matematika sebagai hal yang sulit, maka anak mereka dituntut untuk memahaminya lebih disiplin lagi. Dengan anggapan orang tua tersebut, anak akan melakukan salin informasi dan menanamkan memori bahwasanya matematika adalah hal yang sulit dan asing.

Lalu, ketika di sekolah dasar, beberapa guru mengajarkan hal yang demikian. Tekanan dalam menjawab soal yang harus benar, cepat, dan sesuai cara kerja yang diajarkan membuat guru menakuti siswa secara tidak langsung. Hal tersebut bisa membuat siswa merasakan tekanan dan stres.

Belum lagi pada beberapa kebudayaan, matematika dianggap sebagai ukuran kecerdasan seseorang. Seorang yang dianggap pandai adalah seseorang yang pandai matematika. Padahal, masih banyak aspek yang bisa menjadi tolak ukur kecerdasan manusia, bukan hanya perihal matematika.

Dengan ukuran kecerdasan yang hanya berpatok pada matematika, ilmu hitung tersebut menjadi pertaruhan bagi siswa. Dengan pertaruhan yang begitu tinggi, siswa akan merasa ketakutan dengannya. Akan timbul anggapan bahwa “Ketika saya gagal menyelesaikanya, saya adalah siswa yang bodoh.”

Rasa Sakit oleh Matematika

Simbol-Simbol Matematika (Freepik.com)

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of Chicago menemukan bahwa rasa sakit fisik dapat dihasilkan oleh antisipasi aktif dari suatu latihan. Otak manusia akan merespon rasa sakit akibat dari memikirkan sesuatu yang membuat stres.

Matematika menghasilkan emosi menyakitkan yang dapat membuat seorang siswa tidak berdaya. Bayangkan ketika kamu dituntut untuk menyelesaikan sebuah permasalahan, tetapi kamu tidak tahu cara menyelesaikannya. Tekanan akan datang dan bisa berujung pada lahirnya keengganan untuk mempelajarinya kembali.

Apa yang Harus Dilakukan?

Pengajar Matematika (Freepik.com)

Orang tua ataupun pribadi sendiri haruslah menanamkan asosiasi positif terhadap matematika. Tak bisa dipungkiri, matematika adalah ilmu yang sangat bermanfaat dalam penerapannya. Di setiap bidang kehidupan pastinya memiliki kaitan dengan matematika. Asosiasi positif inilah yang harus ditanamkan oleh anak atau peserta didik.

Kegagalan sekolah dalam membuat asosiasi positif matematika biasanya bermula dari cara pengajaran yang tidak nyambung dengan kehidupan nyata. Mengapa seorang anak sekolah menengah pertama harus menghitung jumlah batu-bata pada sebuah rumah? Kurikulum sekolah harusnya membuat sebuah metode yang lebih praktis dan membuat siswa merasa bersemangat.

Selain itu, mari singkrikan anggapan negatif terhadap beberapa orang yang tidak pandai matematika. Sehingga tekanan sosial terhadap orang-orang yang tidak pandai matematika tidak menakuti anak-anak. Setiap anak spesial dan memiliki bakat masing-masing. Matematika itu penting, tetapi jangan memaksakan seseorang untuk memahaminya.

Latest articles