Literasi Sains, Urgensi dan Metode Pembelajarannya

ENSIPEDIA.ID, Jakarta – Pemerintah dalam program gerakan literasi nasional (GLN) membagi literasi menjadi enam dimensi, salah satunya adalah literasi sains.

Apa itu literasi sains?

Literasi sains dapat diartikan sebagai kemampuan memahami konsep-konsep sains, merumuskan pertanyaan perihal alam semesta, mencari bukti-bukti untuk menjawab pertanyaan sehingga dapat menyimpulkannya guna mengambil keputusan yang dapat membantu kehidupan manusia terkait fenomena alam semesta. Maka dari itu, Keterampilan ini tidak hanya sebatas mengerti tentang apa itu pengetahuan alam. konsep ini hendaknya memenuhi unsur-unsur pokok, yaitu:

  1. Pemahaman terhadap konsep-konsep sains;
  2. Berpikir ilmiah dan mengembangkan sikap ilmiah;
  3. Memahami proses atau metodologi dari sains; dan
  4. Mampu membawa sains ke arah yang lebih praktis dalam proses pemecahan masalah.

Siswa yang literat haruslah berpikir, bertindak, berprilaku, hingga memecahkan masalah dengan menggunakan pengatahuan sains yang dimiliki.

Baca Juga: Mengenal Lorem Ipsum

Apa Pentingnya Literasi Sains?

Tenang saja, dengan adanya literasi sains tidak akan membuat semua orang akan menjadi saintis. konsep ini hanya memfokuskan individu dalam memandang alam itu sendiri. Ada banyak permasalahan sehari-hari yang dapat dipecahkan oleh pengetahuan sains. Contohnya, bagaimana mengolah limbah menjadi pupuk, mengetahui kebutuhan energi dan pembeharuannya, pengendalian penyakit, cara menggunakan pesawat sederhana, dan lain sebagainya. Dengan adanya keterampilan tersebut, individu akan mengenali sains sebagai sumber solusi.

Selain itu, literasi sains akan membentuk kita dengan pola pikir, prilaku, karakter yang peduli terhadap lingkungan atau alam itu sendiri. Mekanisme fisika alam semesta, struktur organisme makhluk hidup, zat-zat penyusun suatu benda yang dipelajari dalam sains akan menyadarkan kita bahwa betapa menakjubkannya ciptaan Tuhan ini. Sehingga tindakan seperti mencemari lingkungan, membuang sampah, menggunakan zat berbahaya dalam jajanan akan semakin berkurang.

Bagaimana Pembelajaran yang Terbaik?

Siapa yang menganggap bahwa pengetahuan alam itu membosankan, meresahkan, menyusahkan, dan memusingkan? Yang merasakan hal tersebut kemungkinan belum memperileh pembelajaran sains yang tepat.

Menurut Permendiknas, pembelajaran hendaknya dilakukan secara interaktif, inspiratif, menantang, dan memotivasi siswa untuk perpartisipasi aktif.

Jadi, pembelajaran literasi sains yang baik adalah pembelajaran yang tidak hanya menekankan pada aspek hafalan materi saja, melainkan berorientasi pada proses kerja dan ketercapaian sikap ilmiah. Pembelajaran yang baik dalam pendekatan literasi sains hendaknya secara inkuiri ilmiah.

Inkuiri ilmiah adalah proses pembelajaran untuk mencapai hal-hal ilmiah atau santifik dengan memandu peserta didik untuk menyelidiki masalah dan menemukan informasi secara mandiri. Peserta didiklah yang menjadi pusat pembelajaran. Tidak seperti dahulu di mana guru yang menjadi pusat pembelajaran.

Bagaimana Literasi Sains di Indonesia?

Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita menjawabnya dengan data.

Hasil Pisa 2000-2018 menempatkan Indonesia diposisi sangat rendah. Tahun 2000 skor Kompetensi sains Indonesia 393 poin dengan peringkat 38 dari 41 negara. Tahun 2003 meningkat sedikit 395 dengan peringkat yang sama. 2008 Indonesia menempati peringkat 60 dari 65 negara. Tahun 2012 di peringkat 64 dari 65 negara. Tahun 2006 menempati posisi 69 dari 76 negara. Hingga pada tahun 2018 skor Pisa untuk kompetensi ini, Indonesia menempati peringkat 62 dari 71 negara. Ini membuktikan bahwa pemahaman tentang sains di Indonesia masih kurang. Dengan ini perlunya ada tindakan bersama untuk meningkatkan indeks mengingat literasi sains merupakan hal yang penting dikuasai di abad ke-21 ini.

“Tugas sains antara lain adalah untuk menemukan keindahan alam”
-Albert Einstein

Latest articles