Terampil Memperoleh Informasi dengan Keterampilan Literasi Informasi Model Big 6

ENSIPEDIA.ID, Jakarta – Menjadi seorang pemelajar (Mahasiswa, pelajar, siswa, dll.) adalah tentang bagaimana kita menghimpun informasi untuk diolah menjadi sebuah pengetahuan. Informasi adalah fakta yang tentang seseorang atau sesuatu yang didengar, dibicarakan, atau dikemukakan. Informasi juga merupakan kumpulan data yang telah diolah sehingga jika informasi tersebut dapat di hubungkan satu sama lain, akan memperoleh pengetahuan bagi penerimanya. Yuk, mari membahas tentang literasi informasi dan model keterampilan big6 dalam memecahkan masalah.

Literasi Informasi
Sumber: Shutterstock

Apa Itu Literasi Informasi?

Seperti yang kita pahami bahwa literasi adalah sebuah kemampuan membaca tulisan, memahami tulisan, dan memuangkannya ke dalam aktifitas menulis. Sedangkan literasi informasi adalah sebuah keterampilan atau kemampuan individu untuk menyadari kebutuhan informasinya, mengetahui sumber informasi yang dibutuhkan, mengetahui cara mengaksesnya, memahami isi informasi, cara menyortir dan mengevaluasi informasi, hingga bagaimana informasi tersebut diinterpretasikan dan dikomunikasikan dengan etika yang baik.

Secara singkat, literasi informasi adalah keterampilan mencari informasi. Terkadang saat diberi tugas oleh guru ataupun dosen kita tidak tahu di mana harus mencari pembahasan yang relevan tentang materi tersebut. Jika kita memahami konsep dari literasi informasi, maka permasalahan seperti itu akan mudah untuk diselesaikan.

 “Kunci agar kita menjadi literat informasi adalah rasa ingin tahu.”

Tujuan Literasi Informasi

Di era ledakan informasi, sarana pendidikan di luar sekolah terbuka sangat lebar. Kita bisa belajar hanya dengan bermodal gawai dan paket internet. Mau tahu tentang ini dan itu, cukup membuka peramban ataupun menonton video di YouTube. Komunitas edukasi di Facebook juga tak kalah bagusnya sebagai sarana menimba ilmu, Ensiklopedia Bebas salah satunya.

Tujuan mendasar dari pemahaman literasi informasi agar memudahkan kita dalam menemukan informasi yang dibutuhkan di era ledakan informasi. Dengan adanya kemampuan literasi informasi, kita akan terhindarkan dari adanya berita bohong, palsu, dan ujaran kebencian.

“Literasi untuk pembelajaran seumur hidup dan mandiri.”
-Diao Ai Lien

Literasi Informasi Model Keterampilan Big 6

Model big6 adalah salah satu model keterampilan literasi informasi yang dikembangkan oleh Michael B. Eisenberg dan rekannya. Model ini membantu kita dalam menyelesaikan permasalahan dengan pendekatan yang lebih sistematis. Model ini sudah digunakan di banyak negara, seperti Amerika, Italia, Belanda, Afrika Selatan, Selandia Baru, termasuk di Indonesia.

Seperti namanya, model Big6 memiliki 6 tahap yang masing-masing memiliki 2 langkah yang perlu kita ketahui dalam memecahkan masalah pencarian informasi kita.

A. Tahap Perumusan Masalah

Langkah-langkahnya:
1. Merumuskan masalah.
2. Mengidentifikasi informasi yang diperlukan.

Dalam hal ini, kita perlu membuat pertanyaan, informasi seperti apa yang ingin kita peroleh. Misalnya guru memberikan tugas untuk membuat laporan hasil pengamatan hewan unggas. Buatlah pertanyaan untuk mendefinisikan masing-masing kata/frasa. Seperti: Bagaimana format laporan? Bagaimana cara mengobservasi? Apa itu unggas? Dengan bertanya, kita akan lebih mudah untuk menemukan kebutuhan informasi.

B. Tahap Strategi Pencarian Informasi

Langkah-langkahnya:
1. Menentukan sumber.
2. Memilih informasi terbaik.

Setelah memperoleh batasan permasalahan yang ingin dicari, tentukan di mana kita harus mencarinya. Ada banyak sumber informasi, mulai dari internet, buku, narasumber, maupun observasi langsung.

C. Tahap Alokasi dan Akses

Langkah-langkahnya:
1. Mengalokasi sumber secara intelektual dan fisik.
2. Menemukan informasi didalam sumber tersebut.

Saat megakses informasi, usahakan menentukan sumber informasi yang relevan. Artinya tidak mungkin mencari informasi tentang unggas di kanal YouTube Narasi.tv yang membahas media dan politik.

D. Tahap Pemanfaatan Informasi

Langkah-langkahnya:
1. Membaca, mendengar, meraba, dan sebagainya.
2. Mengekstrasi informasi yang relevan.

Tahap ini memerlukan fokus yang tinggi. Eksekusi penyerapan informasi bertumpu pada langkah ini. Serap informasi secara utuh dan sesuai konteksnya. Jangan sampai terdistraksi dengan informasi lain. Artinya, ketika ingin mencari tentang unggas, jangan sampai tergoda untuk membaca tentang proses memasak ayam goreng, hehe.

Baca Juga: Doomscrolling: Sebuah Ketidakjelasan Informasi yang Mendorong Kita untuk Terus Gulir Beranda

Tulis poin-poin penting yang didapatkan dalam kegiatan membaca atau mengamati tersebut. Gagasan utama/poin-poin utama bacaan sangat membantu pada tahap berikutnya.

E. Tahap Sintesis

Langkah-langkahnya:
1. Mengorganisasikan informasi dari berbagai sumber
2. Mempresentasikan informasi tersebut

Pada tahap inilah kita mentransformasikan hasil pencarian ke bentuk lain, misalnya tulisan, tugas, desain visual, dan lainnya.

F. Tahap Evaluasi

Langkah-langkahnya:
1. Mengevaluasi hasil (efektivitas)
2. Mengevaluasi proses (efesiensi)

Rangkaian ini ditutup dengan proses penilaian. Ini dimaknai dengan meninjau kembali hasil tugas/tulisan/informasi yang kita peroleh. Atau meninjau cara kerja yang kita lakukan. Apakah ada langkah yang membuat kita kesulitan. Misalnya saat mencari informasi di YouTube, ternyata kita kebablasan menonton video hiburan. Hal tersebut perlu kita evaluasi agar kedepannya kita tetap fokus dalam belajar.

Baca Juga: Literasi Sains, Urgensi, dan Metode Pembelajarannya

Penutup

Dalam melakukan riset dan menulis artikel di Ensiklopedia Bebas, saya menggunakan metode ini. Jujur, model big6 sangat membantu saya dalam menentukan langkah apa yang harus dilakukan. Keterampilan literasi informasi juga menyadarkan saya untuk tidak salin-tempel (baca: copas) lagi. Selain dalam menulis thread, literasi informasi juga memudahkan saya dalam proses pembelajaran di bangku perkuliahan, di mana mahasiswa harus berperan aktif mencari sumber rujukan lainnya. Pada akhirnya, literasi informasi memudahkan saya untuk menjadi pembelajar seumur hidup.

“Belajar bukan hanya proses suap-menyuap pengetahuan antara guru dan siswa. Belajar adalah keterampilan untuk menyerap ilmu pengetahuan, dari mana pun dan kapan pun.”

Latest articles