Krisis Kuba dalam Perang Dingin

ENSIPEDIA.ID – Perang Dingin, atau biasa dikenal dengan Cold War adalah ketegangan politik dan militer antara Blok Barat yang dipimpin Amerika beserta sekutu NATO-nya, dengan Blok Komunis yang dipimpin Uni Soviet beserta negara-negara satelitnya. Konflik ini berawal dari kemenangan Amerika, Uni Soviet, dan negara sekutu lainnya. Kemenangan ini menyisakan Amerika dan Uni Soviet menjadi 2 negara adidaya di dunia dengan perbedaan ideologi, ekonomi, dan militer. Hal ini membuat Amerika dan Uni Soviet berlomba-lomba untuk menjadi negara paling berpengaruh di dunia. Konflik ini dinamakan Perang Dingin karena kedua negara tidak pernah mendeklarasikan aksi militer secara langsung, namun masing-masing pihak ikut campur dalam peperangan sipil di dunia yang menentukan ideologi dan revolusi suatu negara. Dan kedua negara memiliki senjata nuklir yang dapat mengancam kehancuran besar. Bahkan efek dari Perang Dingin masih dapat dirasakan hingga kini. Salah satunya Krisis Kuba

Learning from the Missile Crisis | History | Smithsonian Magazine

  1. Soviet mengirimkan suplai senjata nuklir ke Kuba

Setelah Kuba berhasil melakukan revolusi pada 1959, Kuba menjadi negara berideologi sosialis-komunis. Yang dimana Kuba berada di dekat wilayah Amerika, sedangkan Amerika sendiri tidak menyukai pemerintahan komunis. Hal ini membuat Amerika mendukung rencana penyerangan kelompok asing ke Teluk Babi milik Kuba. Meski berujung gagal, penyerangan ini membuat pemimpin Uni Soviet marah.

Pada September 1962, Nikita Krushchёv mengatakan kepada Presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy bahwa selanjutnya segala bentuk serangan akan dianggap sebagai bentuk tindakan pernyataan perang. Tidak lama kemudian, Uni Soviet pun mengirimkan senjata nuklir berupa misil-misil berukuran sedang ke Kuba.

  1. Amerika meminta penarikan senjata nuklir di Kuba, namun ditolak oleh Krushchёv

Amerika yang mengetahui bahwa negara tetangganya memiliki misil yang mengancam pertahanan negaranya, membuat Kennedy meminta penarikan senjata nuklir tersebut dari Kuba. Namun permintaan ini ditolak oleh Krushchёv. Maka, dimulailah minggu-minggu yang dikenal dengan sebutan Krisis Rudal Kuba ini.

Negoisasi ini semakin susah yang membuat kedua belah pihak sudah siap berperang satu sama lain. Amerika memutuskan untuk menghentikan jalur perairan ke Kuba dengan menenggelamkan kapal-kapal yang tidak melapor.

  1. Amerika merancang rencana serangan ke Kuba

Semakin tegang dalam Perang Dingin, kedua negara, Amerika dan Uni Soviet sudah bersiap untuk satu sama lain. Hal ini membuat Amerika Serikat menyiapkan langkah awalnya, yaitu dengan menyerang negara pro-komunis terdekatnya, yaitu Kuba.

Dengan ini, untuk pertama kalinya Amerika menaikkan level peringatan ke DEFCON 2. DEFCON adalah kepanjangan dari Defense readiness condition, yang berarti “Kondisi kesiapan pertahanan”. DEFCON terdiri dari 5 level. Yaitu DEFCON 5 yang berarti kesiapan terendah (Kesiapan normal), DEFCON 4 yang berarti pengawasan intelijen ditingkatkan dan keamanan diperketat (Kesiapan di atas normal), DEFCON 3 yang berarti kesiapan pasukan ditingkatkan melebihi kesiapan normal (Angkatan Udara siap dimobilisasi dalam 15 menit), DEFCON 2 yang berarti tahap bersiap menjelang perang nuklir (Angkatan Bersenjata siap dikerahkan dan bertempur kurang dari 6 jam), dan yang paling tinggi DEFCON 1 yang berarti perintah perang nuklir diijinkan (Kesiapan maksimum).

Pada saat itu, level peringatan dinaikkan ke DEFCON 2. Ketegangan antara Amerika dan Soviet semakin memanas. Negara-negara pada saat itu pun berada di ambang ketakutan dari perang nuklir antar kedua negara adidaya tersebut.

  1. Rencana peluncuran torpedo nuklir oleh 2 petugas senior kapal selam Soviet, namun untungnya salah satu pimpinan lainnya menolak

Soviet menembak jatuh pesawat U-2 yang sedang memata-mati kuba. Hal ini membuat sebuah kapal selam Soviet Submarine B-59 yang berada di kepulauan Caribbean mengira bahwa perang telah terjadi. 2 dari 3 petugas senior kapal selam Soviet siap untuk meluncurkan torpedo nuklir ke wilayah Amerika. Namun, untungnya salah satu petugas lainnya yang bernama Vasily Arkhipov, menolak untuk mengizinkan penggunaan torpedo nuklir. Arkhipov pun membujuk Savitsky (salah satu petugas senior lainnya) untuk menunggu perintah dari Moskow.

Dan untungnya rencana peluncuran torpedo nuklir digagalkan. Dan pada Thomas Blanton, yang saat itu menjadi direktur Arsip Keamanan Nasional AS , mengatakan bahwa Arkhipov telah melakukan tindakan yang telah “Menyelamatkan dunia”.

  1. Sehari sebelum rencana penyerangan ke Kuba, Kennedy dan Krushchёv setuju untuk menarik senjata nuklir mereka di Kuba dan Turki

Pada hari Sabtu, 27 Oktober, setelah banyak musyawarah antara Uni Soviet dan kabinet Kennedy, Kennedy diam-diam setuju untuk menghapus semua rudal yang dipasang di Turki dan mungkin di daerah Italia selatan, di dekat perbatasan Uni Soviet, dengan imbalan Khrushchev memindahkan semua rudal di Kuba. Ada beberapa perselisihan mengenai apakah pelepasan rudal dari Italia adalah bagian dari perjanjian rahasia. Khrushchev menulis dalam memoarnya bahwa itu terjadi, dan ketika krisis telah berakhir McNamara memberi perintah untuk membongkar rudal di Italia dan Turki.

Krushchёv sadar dia  sedikit kehilangan kendali. Presiden Kennedy telah diberitahu pada awal tahun 1961 bahwa perang nuklir kemungkinan besar akan membunuh sepertiga umat manusia, dengan sebagian besar atau semua kematian itu terkonsentrasi di AS, Uni Soviet, Eropa dan Cina.

  1. Penyetujuan pembatasan pengujian senjata nuklir oleh Amerika dan Uni Soviet pada 1963

The Partial Nuclear Test Ban Treaty (PTBT) adalah perjanjian pembatasan pengujian sebagian senjata nuklir. PTBT ditandatangani oleh pemerintah Uni Soviet , Inggris Raya , dan Amerika Serikat di Moskow pada 5 Agustus 1963 sebelum dibuka untuk ditandatangani oleh negara lain. Perjanjian tersebut secara resmi mulai berlaku pada 10 Oktober 1963. Sejak itu, 123 negara lain telah menjadi pihak dalam perjanjian tersebut. Sepuluh negara telah menandatangani tetapi belum meratifikasi perjanjian itu.

  1. Presiden Amerika, John F. Kennedy tewas terbunuh saat pawai iring-iringan kepresidenan

Pada 22 November 1963, Presiden ke-35 Amerika Serikat, John Fitzgerald Kennedy tewas setelah dua timah panas yang ditembakkan ke arahnya mengenai kepala dan lehernya. Tragedi ini terjadi saat Kenndy sedang melakukan iring-iringan dalam mobil kepresidenannya di Dallas, Texas, AS.

Ketika sedang melewati Texas School Book Depository, terdengar suara tembakan. Sebuah peluru menghantam Kennedy di bagian belakang ketika dia melambai, diikuti oleh tembakan kedua di belakang kepalanya. Tembakan lainnya melukai Gubernur. Presiden Kennedy dan Gubernur Connally keduanya terluka dan dilarikan ke Rumah Sakit Parkland.

Presiden John F Kennedy dinyatakan meninggal setelah terkena tembakan tersebut. Dia tercatat sebagai presiden AS keempat yang dibunuh dalam masa tugas. Air Force One tiba di Andrews Air Force Base, Maryland. Peti mati yang membawa tubuh Kennedy dibawa dengan ambulans ke Rumah Sakit Angkatan Laut Bethesda untuk otopsi. Peti jenazah yang terbungkus bendera dibawa ke Ruang Timur Gedung Putih pada pagi hari berikutnya setelah otopsi. Pada 25 November 1963, Kennedy dimakamkan di Arlington National Cemetery dengan kehormatan militer lengkap dan perwakilan dari lebih dari 90 negara yang hadir dalam prosesi itu.

Latest articles