Kenapa Perang Dingin Bisa Terjadi?

ENSIPEDIA.ID, Jakarta – Perang Dingin, atau biasa dikenal dengan Cold War adalah ketegangan politik dan militer antara Blok Barat yang dipimpin Amerika beserta sekutu NATO-nya, dengan Blok Komunis yang dipimpin Uni Soviet beserta negara-negara satelitnya. Konflik ini berawal dari kemenangan Amerika, Uni Soviet, dan beserta negara sekutu lainnya. Kemenangan ini menyisakan Amerika dan Uni Soviet menjadi 2 negara adidaya di dunia dengan perbedaan ideologi, ekonomi, dan militer. Hal ini membuat Amerika dan Uni Soviet berlomba-lomba untuk menjadi negara paling berpengaruh di dunia. Konflik ini dinamakan Perang Dingin karena kedua negara tidak pernah mendeklarasikan aksi militer secara langsung, namun masing-masing pihak ikut campur dalam peperangan sipil di dunia yang menentukan ideologi dan revolusi suatu negara. Dan kedua negara memiliki senjata nuklir yang dapat mengancam kehancuran besar. Bahkan efek dari Perang Dingin masih dapat dirasakan hingga kini.

Latar Belakang Terjadinya Perang Dingin Halaman all - Kompas.com

  1. Sekutu dan Uni Soviet masing-masing mendapatkan wilayah yang telah ditaklukan mereka sendiri-sendiri

Setelah Amerika, Uni Soviet, dan beserta negara sekutu lainnya memenangkan Perang Dunia II, masing-masing dari mereka mendapatkan wilayah yang telah mereka kuasai. Seperti contohnya Soviet yang telah menguasai wilayah Eropa Timur hingga ke Berlin maka Soviet memiliki hak untuk menguasai wilayah tersebut. Wilayah yang dikuasai Soviet di Eropa Timur diantaranya Albania, Bulgaria, Cekoslovakia, Hungaria, Jerman Timur, Polandia dan Romania.

  1. Terciptanya Tirai Besi (Iron Curtain) – Pembatas ideologi dan fisik

Tirai Besi atau biasa disebut Iron Curtain adalah pembatas politik yang memisahkan Eropa Timur dan Eropa Barat. Tirai Besi ini pada awalnya hanya ungkapan oleh Churchill untuk perbatasan negara komunis di Eropa Timur dan negara demokrasi liberal di Eropa Barat. Hingga pada akhirnya pada 1961 Soviet memutuskan untuk membuat dinding fisik sungguhan (akan dibahas di part 3).

  1. Perang Saudara Tiongkok antara Pemerintah Republik Tiongkok (Nasionalis) dan Pasukan Pembebasan Rakyat (Komunis)

Perang Saudara Tiongkok adalah perang sipil di Tiongkok yang melibatkan Pemerintah Republik Tiongkok (yang kini menjadi Taiwan) dan pasukan Partai Komunis Tiongkok (PKT) atau dikenal dengan Pasukan Pembebasan Rakyat. Perang ini berlangsung sejak sebelum Perang Dunia II terjadi, lebih tepatnya dimulai pada tahun 1927.

Perang ini menceritakan perpecahan ideologis antara pihak Komunis PKT dan Pemerintah Tiongkok yang mengusung Nasionalisme, yang berlangsung terputus-putus sampai akhir tahun 1937, ketika kedua belah pihak bersatu untuk membentuk Front Persatuan Kedua untuk melawan invasi Jepang dan mencegah Jepang memperluas invasi yang sudah masuk sebelumnya ke Manchuria pada tahun 1931. Perang Saudara Tiongkok dalam skala penuh berlanjut kembali pada tahun 1946, setahun setelah berakhirnya pertempuran dengan Jepang. Empat tahun kemudian terjadi gencatan pertempuran militer besar, dengan baru saja berdirinya Republik Rakyat Cina yang mengendalikan Tiongkok daratan (termasuk Hainan) dan yurisdiksi Republik Tiongkok terbatas untuk Taiwan, Penghu, Kinmen, Matsu dan beberapa pulau terpencil.

  1. Keterlibatan Inggris di Perang Saudara Yunani untuk menghindari revolusi komunis di Yunani

Perang Saudara Yunani adalah  adalah perang antara pasukan pemerintah Yunani, yang didukung oleh Britania Raya, Amerika Serikat melawan Tentara Demokratik Yunani yang merupakan cabang militer dari Partai Komunis Yunani (KKE).

Kemenangan diraih oleh Barat yang didukung pasukan pemerintah menyebabkan keanggotaan Yunani di NATO, dan membantu untuk menentukan keseimbangan kekuasaan ideologis di Laut Aegea sepanjang Perang Dingin. Perang saudara juga meninggalkan Yunani dengan keras pembentukan keamanan anti-Komunis, yang akan mengarah pada pembentukan sebuah rezim militer, dan warisan polarisasi politik yang berlangsung hingga tahun 1980-an.

  1. Pengusiran Uni Soviet dari Iran oleh PBB

Iran yang diduduki oleh Inggris dan Uni Soviet melakukan perjanjian apabila Perang Dunia II sudah usai, mereka akan meninggalkan Iran. Saat Inggris sudah meninggalkan Iran, Stalin berniat untuk tetap menduduki Iran. Namun sayangnya dewan PBB tidak setuju dan menginginkan Soviet untuk mundur.

  1. Munculnya Doktrin Truman

Doktrin Truman adalah kebijakan yang ditetapkan oleh Presiden AS Harry S. Truman pada 12 Maret 1947 yang menyatakan bahwa AS akan mendukung Yunani dan Turki dengan bantuan ekonomi dan militer untuk mencegah mereka jatuh ke dalam lingkup Soviet.

Truman menyatakan bahwa doktrin “Kebijakan Amerika Serikat untuk mendukung masyarakat bebas yang melawan mencoba penaklukan oleh minoritas bersenjata atau oleh tekanan luar.” Truman beralasan, karena “rezim totaliter” memaksa “orang bebas,” direpresentasikan sebagai ancaman mereka bagi perdamaian internasional dan keamanan nasional Amerika Serikat. Truman membuat pembelaan di tengah krisis Perang Saudara Yunani (1946). Ia berpendapat bahwa jika Yunani dan Turki tidak menerima bantuan yang mereka sangat membutuhkannya, mereka pasti akan jatuh ke komunisme dengan konsekuensi serius di seluruh wilayah.

Latest articles